Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 2


__ADS_3

Yaya oh Yaya. Makan apa kita malam ini? Perut sudah berbunyi yang nyanyiannya sama sekali nggak merdu. Amunisi harus segera diisi, karena logika tidak akan bisa berjalan normal kalau logistik tidak terpenuhi dengan baik. Malam ini kita pulang naik busway, karena mobil masih di bengel untuk service berkala. Kebetulan aku hanya mampu membeli mobil bekas dengan gaji dan fee yang ku dapat dari client desain di luar perusahaan.


"Hindari riba, karena riba akan menghancurkanmu sampai sehancur-hancurnya."


Itu kata Ustadz yang ceramahnya selalu menjadi temanku bekerja dalam beberapa waktu belakangan. Karena selama ini aku adalah seorang gadis dengan money oriented tinggi. Sampai aku lupa kalau ternyata jiwa dan batinku ini butuh asupan juga, terutama tentang agama. Jauh dari orang tua dan keluarga, di tempat dengan sosial yang cukup atau lebih tepatnya sangat bebas. Secara tidak sadar aku terpengaruh dengan kehidupan metropolitan yang bebas lepas. Kecuali keliaran di ranjang dengan seorang pria, belum pernah ku coba.


Ku coba menggeser-geser tampilan layar ponselku, mengamati menu-menu makanan yang ada pada aplikasi online. "Kalau balas puluhan chat dari cowok-cowok itu, aku butuh banyak tenaga. Capek jariku ngetik kata atau kalimat yang sama berulang kali," gumamku pelan, kegiatan bermonolog lagi.


"Fast food? Tapi mual banget, nggak deh. Hmmmm kalau makan salad, kesannya aku bule banget. Lidahku loh sukanya ikan asin pakai cacapan, ah, mantab. Kangen rumah."


Rasanya aku ingin mengajukan cuti kerja untuk sekadar pulang sebentar. Merasakan masakan Mama yang selalu berhasil membuat berat badanku melonjak tinggi tanpa pikir panjang. Sama seperti halnya membalas pesan dari setiap akun yang menampakkan wajah tampan cowok-cowok bule berbrewok.


"Eh, siapa nih? Ganteng juga."


Ada satu akun baru menunjukkan ketertarikan padaku, akun lelaki Indonesia yang sepertinya ada keturunan India atau Arab gitu. Tanpa pikir panjang langsung saja ku geser ke kanan layar ponselku, yang artinya aku juga memiliki ketertarikan yang sama. Jujur ini baru kali pertama aku mendapatkan akun lelaki Indonesia di aplikasi ini.


"Balas pesan seperlunya, chat seperlunya. Karena mereka ini tidak nyata!"


Selalu mengulang kalimat yang sama setiap harinya, agar hatiku yang kosong ini tetap terjaga. Tetap kosong sampai jodohku benar-benar terdownload 100%. No face, no case. No meet, no feeling. Selalu ingat dan catat itu, ya, sodara-sodara. Tidak semua yang ada di sosial media itu nyata, harus berhati-hati karena banyak kasus penipuan di aplikasi pencarian jodoh.


"Aduh. Kaget gue."


Hampir saja ponselku terlempar jatuh dari tangan, ketika deringanya menggelegar memenuhi unit busway yang ku tumpangi. Membuat beberapa pasang mata tertuju ke arahku, seolah mereka tidak pernah mendengar musik yang menjadi nada dering ponselku. Segera ku angkat panggilan telepon dari salah satu teman chatku selama setahun ini.

__ADS_1


"Kenapa, Lian?"


"Lo sudah balik?"


Duh, suara beratnya Lian sungguh aku suka. Enak banget didengar, tetapi sayang kita belum pernah ketemu sama sekali. Wajahnya saja aku nggak pernah tahu, karena akunnya nggak ada foto sama sekali. Ya, nggak apa-apalah, teman ngobrol dan berkeluh kesah cukup baik untukku yang tidak punya banyak teman.


"Ini lagi busway, tapi bentar lagi sampai apartment. Lo sudah balik dari Lampung?"


"Belum nih, kasusnya lumayan alot sama perusahaan sawitnya. Ya, sudah. Lo hati-hati, nanti kalau butuh teman cerita langsung hubungin gue aja."


"Alah, bilang aja lo butuh teman begadang. Basi banget," cibirku yang sudah setahun ini jadi teman begadang Lian, seorang advocat yang aku nggak tahu nama aslinya atau kantornya di mana. Dan bodohnya dia tahu namaku, atau lebih tepatnya kesalahanku menggunakan nama Yaya ketika pertama kali berkenalan dengannya.


"Emangnya lo nggak butuh teman begadang? Temenin gue lah, Ya. Mumpung lo masih jomblo."


"Wedus!"


"Lo sih. Ya sudah, nanti kalau gue butuh teman begadang."


"See you, Yaya."


"Hmmmm..."


Aku hanya menggumam sebagai response atas salam Lian sebelum lelaki itu menutup panggilannya. Ada hal yang membuat kami memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain. Kita tidak ingin pertemanan ini berubah ke arah yang berbeda, meski kita sudah merasa nyaman untuk menjadi teman mengobrol. Bukan hanya perbincangan tanpa arti, karena kami saling bertukar ilmu.

__ADS_1


Busway yang ku tumpangi berhenti di koridor yang jaraknya tidak cukup jauh dari apartemen tempatku tinggal. Sepertinya malam ini aku akan memasak, karena sejak tadi tidak ada yang menarik seleraku. Dengan ransel di punggung, aku berjalan menyusuri trotoar menuju bangunan apartemen yang tidak terlalu mewah di kawasan sibuk perkantoran kota metropolitan.


"Di kulkas ada daging, beras masih aman, bumbu juga aman. Camilan? Ah, limited edition. Harus belanja belajeeeee..." sorakku heboh sendiri karena hanya aku pejalan kaki saat ini.


Aku memasuki mini market di lantai dasar gedung apartemen, mengambil keranjang, dan menyusuri rak-rak camilan gurih. Maklum, aku memang pecinta micin sejati, bahan bakar otakku biar tetap ngebul adalah micin. "Keripik kentang, keripik jagung, keripik singkong, keripik tempe, stick udang, nori, kopi susu murah meriah," ucapku sembari memasukkan jenis camilan yang ku sebutkan tadi ke dalam keranjang belanja.


"Kak, hari ini kita lagi ada promo beli jus jeruk ini 2, gratis 1."


Seorang pramuniaga berjilbab hitam datang menghampiriku yang sejak tadi berdiri di depan mesin pendingin minuman. Aku tampak berpikir setelah memasukkan beberapa botol kopi susu instan ke dalam keranjang. Mencoba mencari apa lagi yang menjadi minatku untuk begadang malam ini. "Jusnya cuma jeruk aja, Mbak? Nggak ada jus lain nih?" tanyaku sembari menoleh ke arah pramudiaga di sampingku.


"Jus mangga juga ada promo, Kak. Beli 2 botol cukup bayar Rp 10,000.00 saja."


"Aduh, Mbak. Saya nggak lagi ngidam, jadi nggak pengen jus mangga. Selain itu deh promonya, ada lagi, nggak?" tanyaku yang memang sangat membutuhkan amunisi untuk bekerja.


Pramuniaga di sampingku tampak bergemik, secara pasti meraih gagang pintu mesin pendingin dan mengambil minuman kemasan berwarna bening dan sepertinya ada jelly di dalamnya. "Ini minuman rasa leci dengan natta de coco, Kak. Beli 3 cuma Rp 20,000.00 saja," ucapnya menyodorkannya padaku.


"Nah! Ini yang saya cari, Mbak. Terima kasih, ya."


Aku segera mengambil 3 botol minuman segar itu dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Setelah memastikan tidak ada lagi yang ingin ku beli, aku segera berjalan ke kasir untuk membayar belanjaan. Tetapi sekali lagi ada yang mencuri perhatianku, ketika ponsel yang ku letakkan di saku celana berdenting. Biasanya aku mengabaikan, tetapi kali ini sepertinya cukup penasaran.


"Ini kamu, kan?"


Hah? Apa nih? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, berulang kali mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Siapa yang dengan lancangnya memotretku? Wuaduh, aku dikuntit. Kok jadi merinding? Ini dari salah satu aplikasi pesan singkat yang ku gunakan sejak lama.

__ADS_1


"Aku harus telepon Lian, serem banget."


Setelah menyelesaikan pembayaran, aku segera berjalan cepat keluar dari mini market menuju lift yang tidak jauh dari lobby. "Pak, kalau ada yang cari saya. Bilang nggak bisa ditemui, ya. Saya lagi nggak punya janji temu sama orang, dan nggak mau ketemu orang," pesanku pada security apartement yang mengiyakan permintaanku.


__ADS_2