
Ku pikir hanya orang bodoh yang bisa jatuh cinta tanpa pernah bertemu. Tetapi aku yakin jika diriku cukup cerdas, meski tidak berjalan beriringan dengan kisah percintaanku. "Sepertinya aku punya perasaan lebih ke Lian. Kacau!"
Aku masih mengabaikan ponselku yang berdering, dengan nama Lian pada layar pemanggil. Aku perlu berpikir sejenak, apakah aku akan baik-baik saja setelah merasakan ada yang berbeda dari pertemanan dunia maya ini. Terlalu banyak hal dariku yang dia tahu, tetapi tidak sebaliknya. Aku tidak banyak tahu tentangnya, selain dia yang seorang pengacara muda dan dia cerdas. Setiap kali bicara dengannya selalu saja kita dapat tekoneksi dengan baik.
Sepertinya Lian bosan menunggu panggilannya ku jawab, karena sekarang ponselku sudah tidak berdering lagi. Aku memutuskan untuk memeriksa kotak masuk pada email jasa desain yang ku buka secara mandiri. Beberapa pesan berisi penawaran kerjasama, dan beberapa lainnya hanya iklan situs pencarian jodoh. Sepertinya ini terpengaruh oleh riwayat pencarian pada ponsel dan laptopku.
"Berburu lelaki itu berbeda dengan berburu cinta. Kalau berburu lelaki, aku cukup ahli. Tetapi tidak dengan berburu cinta, aku selalu jadi yang terbelakang."
Aku membalas beberapa email tawaran pekerjaan, memberikan nomor ponsel yang khusus ku gunakan untuk pekerjaan agar lebih mudah mengatur janji temu. Hidup sendiri di kota orang lain itu memang berbeda. Selain harus mandiri dan dapat melakukan apapun sendiri, aku juga harus bersaing ketat dengan keadaan di sini. Arsitek lepas juga banyak di sini, atau bahkan mereka yang tidak memiliki gelas S1 tetapi memiliki keterampilan desain bangunan juga banyak.
"Portofolio harus selalu update, harus selalu menarik dan jelas agak mudah dipahami calon client," celotehku sendiri sembari membuka tab pada web browser.
Rencana awal sebelum pulang kantor adalah mengerjakan revisi beberapa desain proyek pribadi. Tetapi karena menerima beberapa email tawaran pekerjaan baru, niat awalku berubah. Aku harus mengkinikan tampilan website portofolioku, sebagai seorang penyedia jasa desain arsitektur dan interior. Ada beberapa proyek yang telah selesai ku kerjakan, tetapi belum ku masukkan ke dalam portofolio.
"Bunyi lagi. Aduh," keluhku ketika ponselku kembali berdering dan menampilkan nama Lian di layar pemanggil.
Mau tidak mau harus ku angkat, karena sudah terlanjur janji bersedia menemani lelaki itu bergadang. Aku takut banget kecanduan suara dan perhatian dia, karena aku nggak tahu pasti apakah ada obatnya jika aku terluka. "Hmmmm..." aku hanya bergumam mengangkat panggilan dari Lian.
"Lama banget sih?"
"Idih, posesif. Awas jangan sampe bikin gue baper, ya."
"Ya, lo kan janjinya nemenin gue begadang ngerjain berkas," terdengar Lian sedikit berdecak di seberang sana.
"Gue lagi balas email tawaran kerja, lumayan banyak. Jadi angkat telepon lo nanti aja."
Ah, benar. Lian tidak meresponse ucapanku perihal 'baper' tadi. Sepertinya dia memang tidak punya bibit-bibit yang sama sepertiku. Sudahlah, mari hanya berteman, sekadar teman seperti biasa dan cari lelaki lain untuk jadi kekasih.
"Wah, bagus dong. Jadinya portofolio lo bisa makin banyak di web, congratulation, Yaya."
__ADS_1
Aku dapat mendengar dia begitu tulus mengucapkan selamat atas pencapaianku. Setelah ku pikir-pikir, Lian terlalu banyak tahu tentangku. Sedangkan tidak denganku, aku tidak banyak tahu tentangnya. Tetapi karakterku yang selalu masa bodoh inilah biang masalahnya.
"Gimana hari ini?"
"Biasa aja, ketemu sama perwakilan buruh perkebunan dan perusahaan. Masih ada beberapa hal yang harus disiapkan untuk detail lainnya."
"Gue mikir, lo sebenarnya pernah kepikiran nggak sih nanganin kasus begini? Maksud gue bahayanya gitu, kan riskan banget sama safety lo sebagai pengacara perusahaan dan sebagai individu."
"Manusiawi, ya, pasti pernah kepikiran. Tetapi itu risikonya, sama halnya dengan lo yang kerjanya arsitek. Memang tugas lo cuma ngedesain, tapi ada risiko hasil desain lo nggak cocok untuk tanah di lokasi proyek. Katakanlah tanahnya mudah longsor atau apalah itu, gue kurang paham."
Aku hanya bergumam, memang benar sih yang dibicarakan Lian. Pada kenyataannya kami hanya pekerja, dan semuanya memiliki risiko masing-masing. Dan ketika sudah yakin melangkah, kita sudah tahu apa yang akan dihadapi di kemudian hari. Setidaknya sebagian kecil hal yang mungkin terjadi tanpa bisa dipungkiri.
"Ya, tumben banget lo nanyain gue yang kesannya serius banget?"
Aku diam sejenak, mencari jawaban yang tepat dan tidak canggung. "Hmmm, gue mikir aja sih. Dan selama ini ternyata gue nggak tahu banyak tentang lo."
"Gue nggak biasa ketemu sama orang baru, kecuali untuk keperluan bisnis. Dan aku tahu dulu lo ngajak ketemu tujuannya bukan untuk ngebahas bisnis."
"Tujuan gue dulu PDKT, tapi lo nolak mulu dan gue nggak bisa maksa."
Deg!
Bukannya aku nggak tahu tentang itu, tetapi membahasnya lagi setelah sekian lama ternyata berbeda. Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Sepertinya aku memang sudah tidak waras. "Kapan balik?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Masih lama, mungkin 2 - 3 minggu lagi. Kenapa? Mau ketemu?"
"I am not sure. Lagi banyak kerjaan di kantor, dan ada kerjaan lain di luar kantor."
"Alasan klasik banget sih, Ya. Lo takut gue jelek, ya?"
__ADS_1
"Eh, nggak gitu. Mau jelek atau ganteng, endingnya sama aja. Jadi mayat juga, busuk di tanah kalau mati. So, nggak ada urusan, ya, mau lo ganteng atau jelek," ucapku serius menanggapi ucapan Lian.
"Becanda. Gue tahu lo nggak gitu kok orangnya."
Aku menghela napas lelah, paling tidak suka jika ada orang yang mengambil kesimpulan sendiri. Walau pada kenyataannya akulah orang yang paling senang menarik kesimpulan sendiri pada segala hal yang terjadi. Sungguh pribadi yang tidak sabar dan terburu-buru. Aku yang sejak tadi berada di ruang kerja perlahan bangkit dari duduk, berjalan keluar menuju pantry untuk mengambil kopi dingin di kulkas.
"Selama setahun kita kenal, lo ada dekat sama cewek lain, nggak?" jujur aku sangat penasaran, entah kenapa? Tetapi aku harus mendapatkan jawabannya.
"Lo ngarepnya gue jawab apa?" tanya Lian terkesan enggan menjawab pertanyaanku secara langsung seperti yang biasa dia lakukan.
"Kok balik nanya?" protesku sewot.
"Yaya, lo nggak biasanya nanyain gue beginian. Lo bukan tipikal orang yang kepo sama urusan pribadi orang lain. Jadi wajar aja gue nanya balik."
Ah! Benar juga, sangat bukan diriku banget. Tetapi aku sungguh penasaran, adakah Lina mencoba untuk dekat atau juatru saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis. Jika iya, maka bukan pilihan tepat untuk tetap bekomunikasi dengannya seperti sekarang ini. Ada hati yang harus dia jaga, dan sebagai perempuan aku sangat paham akan hal itu.
"Gue harus tahu karena nggak mau kalau sampai nyakitin perasaan perempuan lain."
"Dih. Melankolis banget lo."
"Gue serius, Lian!"
"Eits. Bentar. Lo panggil gue apa tadi?" tanyanya yang terdengar aneh.
"Lian. Kan nama lo itu."
"Maaf, ya, Yaya Divyanka yang cantik. Namaku sebenarnya bukan Lian, maaf, ya. Aku sudah bohongin kamu selama ini."
Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Selama setahun ini memang ternyata aku tidak tahu apa-apa, bahkan lelaki itu tidak memberitahukan nama aslinya padaku. Sungguh luar biasa, Yaya. Kamu tertarik pada bayangan, yang tidak akan pernah digapai, apalagi digenggam.
__ADS_1