Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 8


__ADS_3

Sebagai seorang pekerja lepas tentu saja aku sangat bergantung dengan perjanjian kerja dari klien, dan Baihaqi adalah klien terbaikku sampai saat ini. Buktinya saja dia benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan, tidak sampai semenit setelah menerima email invoice dariku, ponselku bergetar menunjukkan SMS Banking dana masuk. Dan nominal yang ku terima bukanlah uang muka dari pekerjaanku, lelaki itu sungguh melunasi keseluruhan nilai invoice.


"Kerja. Kerja. Kerja. Habis ini cuti buat ajak Mama dan Papa pergi Umroh pakai uang sendiri habis kerja. Bismillah, mudahkan, Ya Allah. Saya bekerja niatnya ibadah, mudahkan dan berkahi, aamiin."


Aku menyemangati diriku sendiri ketika menyalakan laptop sesaat setelah memasuki ruang kerjaku di apartemen. Selagi masih jam 8 malam, aku punya cukup waktu untuk menyelesaikan desain awal untuk diserahkan ke klien tampanku. Bersyukur Baihaqi langsung menyetujui sketsa yang ku berikan, tentu saja setelah menanyakan beberapa hal yang memang diperlukan untuk melanjutkan desain awal.


Kost berkonsep nature ini memiliki ruang terbuka di lantai 4, di mana ada indoor forest sebagai work space dan juga kafe. Lantai 4 ini menjadi ruang publik, dapat diakses oleh selain penghuni kost. Dan yang paling menarik adalah rooftop dengan taman dan juga sebagai ruang terbuka khusus untuk penghuni. "Sewa sekamar sebulan berapa, ya? Kepo gue," gumamku pelan sembari membuka desain awal yang sedang tahap penyelesaian..


Ponselku berdering untuk kesekian kalinya sejak aku mandi dan makan tadi, aku malas banget deh ngangkatnya. Ini deadline, sebelum ada pengajuan revisi dari Baihaqi. Karena proyek di kantor tempatku bekerja juga terus berjalan, hanya saja aku tidak membawanya ke rumah. Aku dibayar hanya dari jam 8 pagi, sampai jam 5 sore. Kecuali waktu lembur, dan itupun tetap ada bayarannya. Jadi, bekerjalah sesuai dengan porsinya, jika tidak dibayar atau tidak ada pembandingnya, lebih baik jangan.


"Siapa, sih? Ganggu aja," gerutuku sembari bangkit dari duduk dan berjalan keluar dari kamar yang ku gunakan sebagai ruang kerja, menuju kamar tidurku, di mana ponselku berada.


Membaca nama pada layar pemanggil membuat senyuman tipis terbit di bibirku yang sedikit tebal di bagian bawahnya. Bukan berarti aku sering ciuman, ya, aku jomblo akut sudah beberapa tahun ini. Tetapi harus diakui kalau aku memang cukup jago dalam hal ciuman dan bersilat lidah. Hahaha.


"Hai, Mas Haqi. Kenapa?"


Yaps! Ternyata yang menghubungiku sejak tadi adalah Baihaqi, klien tampanku rekomendasi dari Deden. Untuk kali ini aku harus mengucapkan terima kasih pada Deden yang telah memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan teman kuliahnya dulu. Sepertinya aku harus mentraktirnya fire chicken, biar lebih on fire mengerjakan proyek yang masih kami kerjakan bersama.


"Kamu sibuk banget, ya, Div? Dari tadi saya hubungin nggak diangkat, dan maaf, ya. Karena saya tetap usaha untuk ngehubungin kamu," ucapnya terdengar sedikit tidak nyaman, dan justru membuatku ikutan merasa tidak nyaman karena mengabaikan panggilannya.


"Saya tadi lagi masak, terus mandi, terus makan, dan barusan nyalain laptop untuk selesaikan desain awal untuk kirim ke Mas. Ada apakah? Sepertinya ada hal penting, sampai Mas hubungin berulang kali."


"Wuaduh, nggak enak banget jadinya karena ternyata saya ganggu banget dari tadi. Maaf, ya. Saya lagi ada ide tadi tuh, jadi mau hubungin kamu. Sebelum saya lupa, karena memang saya nggak ada bicarakan proyek ini ke sekretaris saya, atau lebih tepatnya belum membuat agendanya."


Aku hanya mangut-mangut tanda paham, walaupun dia tidak bisa melihat ekspresiku saat ini. "Ide apa itu?" tanyaku penasaran, karena itu artinya ada kemungkinan besar aku harus merubah desain awal, berbeda dengan sketsa yang sudah ku serahkan pada si klien tampan.

__ADS_1


"Boleh saya video call kamu?" tanyanya membuat jantungku jungkir balik, rasanya aku mau koprol saking senangnya karena bisa melihat wajah tampannya setelah 3 hari lalu di kafe saat pertama bertemu.


"Silakan," jawabku berapikan posisi bajuku yang miring ke kanan, sehingga ada sebagian area pribadiku terlihat.


Jeng. Jeng. Jeng.


Wajah tampan Baihaqi terpampang nyata di hadapanku, dengan kaos oblong berwarna putih, dengan rambutnya yang setengah basah seperti baru selesai keramas. Dan yang paling menggoda adalah rambut halum tipis di sepanjang rahangnya, menjadi candu tersendiri untukku. Wajahnya seperti memiliki keturunan Arab atau India, atau lebih tepatnya memiliki darah Timur Tengah.


"Mas baru mandi?" tanyaku berbasa-basi, tetapi ini serius hanya untuk tidak terlalu terlihat tegang melihat wajah tampannya.


"Eh, iya. Rambut saya masih basah, baru pulang kantor kejebak macet. Kamu seger banget sudah malam gini, pakai lipstick padahal cuma di rumah," lelaki itu menyisir rambut basahnya dengan jari, dan menunjuk bibirnya sendiri ketika mengomentari bibirku yang berwarna merah.


"Jadi malu, tapi ini bukan lipstick, Mas. Saya cuma pakai liptin biar bibirnya lembab dan nggak pecah-pecah," ucapku sedikit tersipu, dan membuatku hampir lupa tujuan utama panggilan ini.


"Cantik."


"Kamu cantik, dan hampir bikin saya lupa tujuan telepon kamu sekarang," ucapnya dengan senyuman yang sekali lagi membuatku nyaris over dosis saking manisnya.


"Eh, iya. Jadi Mas Haqi punya ide apa?"


"Kan kita sudah punya work space dan kafe, tetapi tadi saya punya ide untuk bikin office space di lantai dasar yang bisa disewakan untuk umum gitu. Fasilitas umum kita yang sediakan, seperti meja, kursi, meeting room, dan resepsionis pun kita yang sediakan."


Aku diam sejenak untuk berpikir, mencoba untuk mencerna konsep office space yang diinginkan oleh klienku kali ini. Sedikit banyak aku memiliki gambaran untuk yang lelaki ini inginkan, dia sungguh memiliki otak bisnis, di mana semuanya untuk menghasilkan cuan. "Okay. Saya sudah punya gambarannya, nanti coba Divy sketsa dulu untuk Mas cek dan setujui, ya."


"Nggak usah, kamu langsung rubah desain awalnya saja. Saya percaya sama kamu, Div."

__ADS_1


"Mas yakin?" tanyaku memastikan.


*"*Sure. Nanti kamu kirim invoice untuk perubahan desain ini, ya. Saya langsung transfer, biar nggak ada utang sama kamu," ucapnya penuh keyakinan dan tidak lupa untuk meminta tagihan dari pekerjaan tambah ini.


"Iya, nanti Divy siapin."


"Kamu tadi masak apa?" tanyanya membuka pembicaraan santai di antara kita setelah selesai membiarakan pekerjaan.


"Tumis daging dan buncis, adanya cuma itu di kulkas. Mas Haqi sudah makan?"


"Belum makan, rencananya tadi mau pesan di aplikasi."


"Rencananya?" tanyaku heran, karena dia hanya mengucapkan kata rencana dan itu artinya dia belum melakukannya.


"Iya. Nggak ada yang menarik selera saya, Div. Kalau makan masakan kamu mungkin saya selera," ucapnya yang berhasil membuat pipiku bersemu merah.


Parah! Yaya digombalin klien ganteng, dan tolong diingat untuk terus profesional. Nggak etis banget kalau sampai terjebak perasaan ketika terlibat dalam sebuah proyek. Aku nggak suka dan nggak mau begitu, walaupun lelaki ini cukup menggugah seleraku. Selain Adit yang selama setahun ini mengisi hari-hariku, meskipun kami tidak berada dalam hubungan spesial.


Pada akhirnya malam ini lelaki itulah yang menemaniku berkerja, atau mungkin lebih tepatnya dia sedang mengawasiku bekerja. Dan sekali lagi dia membuatku tersenyum senang, karena SMS Banking kembali muncul tidak lama setelah aku mengirimkan invoice pekerjaan tambah kepadanya. Sesuai dengan kesepatan dan instruksi dari Baihaqi, aku langsung merevisi desain lantai dasar untuk office space. Syukurnya aku tidak perlu merubah banyak hal, hanya merubah sedikit ukuran dan susunan ruangan yang awalnya dibuat untuk 10 unit kamar kost.


Sebuah pesan pop up muncul di layar ponselku bagian atas, dan itu membuatku bergumam pelan tetapi tidak dapat didengar oleh klien yang saat ini masih menampilkan wajah tampannya di hadapanku.


Aditya R. Halindra


Nomornya sibuk banget, lagi on call sama siapa, Ya?

__ADS_1


Tentu saja aku tidak membalas pesannya, karena tidak ada kesempatan untuk membalas pesan ketika sedang melakukan video call seperti sekarang. Biarkan saja Adit menungguku untuk malam ini, siapa suruh menghilang beberapa hari dan merajuk.


__ADS_2