Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 15


__ADS_3

Aku masih terpaku memandang buket bunga yang dikirimkan oleh Baihaki. Klien desainku di luar kantor, yang kebetulan juga teman satu almamater Deden. Karena terlalu fokus dengan buket bunga tersebut membuatku abai pada ponselku yang terus berdering.


"Angkat dulu, Div. Bunyi mulu tuh dari tadi, mana tahu penting," ucap Baby menyadarkanku dari keterpakuan.


"Eh, iya," ujarku sembari merogoh ponsel di saku celana jeans hitam yang ku kenakan hari ini.


Mataku sedikit menyipit ketika membaca nama pada layar pemanggil. Nama seseorang yang sejak tadi membuatku terpaku pada buket bunga di atas meja. Baihaki menghubungiku, sepertinya ingin memastikan apakah bunga darinya sudah ku terima.


"Halo," sapaku ramah.


"Halo, Div. Kamu sudah terima bunga dari aku?" tanya Haki di seberang sana, dengan suara teduhnya yang mendamaikan hati.


"Iya. Terima kasih untuk bunganya, cantik banget. Kamu kenapa sampai repot-repot kirimin aku bunga?" tanyaku karena memang tidak paham dengan tujuan dia mengirimkan bunga.


"Kebetulan tadi waktu mau ke proyek lewatin toko bunga segar. Dan aku ingat kantor kamu searah, jadi sengaja deh pesanin buket bunga untuk kamu."


"Repot banget, ya, ampun. Jadi enak, eh, hehe," ucapku berusaha tidak terlalu kaku, karena tidak tahu bagaimana caranya berbasa-basi.


Sedangkan sekarang aku sedang ditatap dengan penuh selidik oleh kedua rekan kerjaku, Deden dan Baby. Mereka dengan setia menungguku selesai dengan percakapan telepon ini. Karena setelahnya kami harus melakukan pembicaraan serius perihal beberapa proyek yang sedang berjalan. Dan juga harus mempersiapkan beberapa materi untuk mengikuti tender pembangunan sebuah bendungan yang dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum.


"Kamu nggak suka, ya? Aku terlalu lancang, ya?" terdengar nada tidak enak dari seberang sana.


"Suka, kok, Mas Haki. Nggak lancang, kok, soalnya ada yang lebih lancang biasanya," kekehku di ujung kalimat sembari memutar bola mata teringat kelancangan Adit yang mengaku sebagai calon suamiku.


Mendengar nama Haki ku sebut, sontak saja membuat Deden lebih memfokuskan tatapannya. Sedangkan aku hanya menggedikkan bahu tanda tidak mau ambil pusing.


"Maaf, ya, sudah ganggu waktu kerja kamu. Dilanjut aja kalau gitu, Div."


"Eh, iya, Mas. Kamu semangat, ya, kerjanya hari ini," hanya itu yang bisa ku ucapkan sebelum memutuskan pembicaraan ini.


"Gila! Itu Haki temannya Deden, Div?" tanya Baby penasaran sembari menggoyang-goyangkan tanganku.

__ADS_1


Enggan untuk terlalu menanggapi, aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku sebagai jawaban. Dan setelahnya mengambil buket bunga dari Haki, membawanya ke atas meja kerjaku bersamaan dengan buket bunga dari Adit. Sepertinya aku sudah cocok menjadi seorang pedagang bunga segar. Karena meja kerjaku terlihat seperti itu, sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa.


"Yuk bahas kerjaan. Kelar proyek ini gue mau cuti, mau ambil sertifikasi plumber," ucapku mengambil sebuah kertas berukuran A3, di mana ada site plan proyek yang sedang berlangsung.


...----------------...


"Yaya!"


Aduh! Suara ini lagi, baru juga tadi pagi dengar suara ini. Masa iya pagi hariku diawali dengan suaranya, dan sore hariku ditutup dengan suaranya juga. Sungguh mengesalkan, tetapi aku tidak mungkin berteriak kesal di lobi kantor. "Apaan, sih, kamu?" gerutuku dengan suara tertahan.


"Mau ketemu kamu, lah, Ya."


"Idih! Mau ngapain kamu nyari aku sampe ke kantor? Pakai ngomong ke Paman Haikal juga lagi. Kurang kerjaan," kesalku sembari melipat kedua tangan di depan dada menghadap lelaki berperawakan tinggi besar ini.


"Justru karena aku kurang kerjaan, makanya nyamperin kamu ke sini. Aku antar pulang, yuk."


"Kamu aja tadi naik bus juga, sok-sokan mau nganterin aku pulang."


"Iya juga, sih. Kita naik bus bareng aja, tapi temanin aku makan dulu."


Ya! Dia adalah Karel yang namanya tadi disebutkan oleh Paman Haikal. Lelaki ini adalah teman SMPku, dan juga anak dari teman keluargaku. Apa, ya, istilahnya? Relasi keluarga. Tetapi yang membuatku enggan bukan karena dia teman SMP yang rese. Kita pernah menjadi lebih dari sekadar teman.


Karel memilih untuk diam, dia sama sekali tidak menanggapi ucapanku. Bahkan sampai saat ini kami telah berdiri di halte tidak jauh dari kantorku. Tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara kami selama beberapa saat sebelum bus tiba. Aku tidak ingin pembicaraan kami menjadi perhatian orang lain. Apalagi aku tidak menjamin bisa menahan emosiku jika berlama-lama dengannya.


Bus dengan rute menuju apartemenku telah tiba, aku berjalan cepat untuk memasukinya. Disusul oleh Karel di belakang, tetapi aku bersyukur dia tidak mengambil tempat duduk di sisiku. Tetapi rasa syukurku ternyata hanya untuk sementara, rasa leganya tidak berlangsung lama ketika suara gaibnya terdengar tepat di belakang telingaku.


"Ya. Kenapa, sih, kamu masih marah sama aku? Padahal kejadiannya sudah lama banget," tanyanya dengan sangat tidak tahu diri.


"Heh, koplak! Kamu pikir bisa segampang itu lupa apa yang kamu bikin ke aku dulu?" kesalku enggan menoleh.


"Padahal aku sudah minta maat, aku nggak sengaja waktu itu," lirihnya mrmbuatku memutar bola mata malas.

__ADS_1


Hening.


Aku kembali memilih diam, enggan untuk menanggapi dan memasang earphone di telingaku. Mencoba untuk membuat tubuh dan pikiranku lebih nyaman setelah lelah bekerja. Playlistku kali ini adalah lagu-lagu milik IU, seorang penyanyi terkenal Korea. Semoga saja Karel tidak lagi mencoba untuk mengajakku bicara. Karena aku lelah.


Mataku baru saja terpejam beberapa saat ketika ponselku berdering dengan hebohnya. Sampai mulutku mengeluarkan kata-kata tidak pantas karena kebiasaan burukku yang latah ini. "Eh, babi besar ngok ngok ngok."


Hening.


Aku menatap ngeri ke sekelilingku, di mana tatapan semua orang mengarah padaku. Kenapa harus latah di tempat umum, sih? Malu banget. Parah, sih, ini.


"Angkat dulu ponsel kamu, Ya. Mikirin malunya nanti aja," tegur Karela yang tahu jika saat ini aku sedang panik dan malu di waktu bersamaan.


"Halo," jawabku sedikit lesu, dan aku tidak tahu siapa yang ada di seberang sana karena tidak melihat layar pemanggil.


"Baru sebentar nggak dihubungin, sudah lemas aja," kekeh seseorang di seberang sana yang suaranya sangat ku kenal.


Ku jauhkan ponselku, ku tatap nama pada layar dan, ya. Aditya yang katanya akan sangat sibuk menangani kasus di Surabaya tengah menghubungiku.


"Katanya sibuk banget. Kok bisa telepon aku?" tanyaku penasaran.


"Aku baru nyampe hotel, jadi bisa lah curo waktu buat hubungin kamu."


"Nyampe Surabaya langsung kerja?"


"Iya, Sayang. Makanya capek banget, dan setelah dengar suara kamu rasanya aku kerecharged lagi," terdengar suaranya yang renyah, dan jujur aku juga merasakan hal serupa.


"Gombal banget kamu. Sudah makan?"


"Aku jujur juga tetap kamu nggak percaya, jadi terserah aja. Belum, nanti mau makan sama klien dan rekan pengacaran yang lain. Sayang gimana hari ini?"


"Kerja kayak biasa. Cuma sedikit heboh karena hari ini aku dapat kirimina 2 buket bunga."

__ADS_1


"2? Satunya dari siapa?" tersengar nada suaranya meninggi, meskipun bukan sebuah bentakkan, tetapi aku kurang suka.


"Klienku dulu."


__ADS_2