Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 5


__ADS_3

Sudah seminggu ini aku disibukkan dengan proyek baru yang diterima oleh perusahaan tempatku bekerja. Dan aku bersyukur kali ini tidak berada dalam tim yang sama dengan Deden. Karena seperti biasa, lelaki itu akan selalu ngintilin aku ke mana saja. Membuatku tidak nyaman, bukannya salah tingkah, tetapi benar-benar tidak nyaman karena yang lain akan membuat lelucon perihal kami.


"Divy, lo punya pacar, ya, sekarang?" tanya Baby rekan setimku.


Itu bukanlah panggilan sayangku untuk adik tingkat di univesitas tempatku kuliah dulu, memang namanya seperti itu. Jadi jangan salahkan orang lain jika sampai salah paham ketika ada rekan kerja lelaki yang memanggil namanya. "Hah? Masih jomblo gue," jawabku sedikit keheranan.


"Nggak percaya gue."


Loh, apa-apaan ini? Aku yang punya diri saja yakin kalau saat ini progress jodohku masih 35%, belum ada perkembangan sama sekali. Apalagi setelah perbincanganku seminggu lalu dengan lelaki yang tidak ingin ku sebut namanya. Aku masih kesal dan bingung, aku juga tidak tahu harus berkomentar apa saat ini.


"Terserah lo aja, Beb. Secara kalau lo percaya sama gue juga susah, nanti dipikir orang gue ngaku-ngaku Tuhan lagi."


"Njir! Garing banger becandaan lo. Lagi rame noh di resepsionis bawah ngebahas kiriman buat lo, secara nggak pernah ada yang begituan."


"Kiriman apaan? Gue nggak ada nerima apa-apa, dan kok lo tahu sih?"


Baby menoleh keluar pintu ruang kerjaku yang dibukanya sedikit, dan setelahnya dia kembali lagi untuk duduk di sofa tidak jauh dari meja kerjaku. Karena saat ini aku masih berkutat dengan RAB proyek baru yang akan kami kerjakan awal bulan depan. Memeriksa kembali apakah sudah sesuai dengan nilai tender yang kami dapatkan.


"Mbak Divy, Fatma mau antar kiriman buat Mbak."


Pintu ruang kerjaku diketuk dari luar oleh Fatma, yang tidak lain adalah office girl di kantor tempatku bekerja. "Masuk aja, Mbak," ucapku menghentikan aktifitas menggeser kursor dan sesekali mengetik pada keyboard komputer.


Di tangan kiri wanita yang usianya di kisaran 30 tahun itu ada sebuah tas karton cokelat, dan tangan kanannya menggenggam sebuket mawar merah yang mungkin bukan buatku. Aku percaya diri jika kiriman buatku adalah yang di tas karton cokelat di tangan kiri Mbak Fatma. Tetapi sepertinya, tidak. Karena Baby terlihat berdeham sembari menggodaku dengan menaik-turunkan alisnya.


Ah. Mbak Fatma meletakkan kedua benda itu di atas meja kerjaku. Buket mawar merah dan tas karton cokelat secara bersamaan. Membuatku semakin bingung. "Siapa yang kirim, Mbak?" tanyaku penasaran.


"Kurang tahu, Mbak. Tapi kata Mbak Angel, resepsionis di bawah sih itu tadi diantar kurir dari calon suami Mbak."

__ADS_1


Eh, apa-apaan? Calon suami apa? Calon suami dari mana? Dari Hongkong? batinku bergejolak tidak terima.


Akhirnya Mbak Fatma undur diri dari ruanganku dan membuat Baby dengan puas hati menggodaku yang masih belum menyentuh kedua benda di atas mejaku ini. Kiriman asing dari orang asing yang mengaku sebagai calon suamiku, dan berhasil membuat seisi kantor bergosip ria. "Eh, nggak ada Deden, kan?" tanyaku memastikan, karena aku tidak ingin berurusan dengannya kal ini. Dia bisa jadi sangan kepo dengan keberadaan benda ini.


"Sayangnya lo nggak perlu khawatir, karena dia sudah ada di depan pintu ruangan lo," ucap Baby menggedikkan dagunya ke arah pintu yang tidak berapa lama terbuka dan menampilkan wajah Deden.


"Gue lagi bahas proyek baru sama Baby, Den. Ada apa?" tanyaku berpura-pura tidak tahu maksud dan tujuannya datang ke ruanganku.


Bisa ku pastikan dengan jelas jika saat ini tatapan matanya terfokus pada apa yang ada di atas meja kerjaku. "Gue nggak nyangka akan sepatah hati ini, Div," ucapnya terduduk lesu di dekat Baby yang tertawa puas melihat keadaanku dan Deden saat ini.


"Lo sudah ditolak Divy berulang kali, Den. Ngapain ngarep banget sih?" ejek Baby sangat puas.


"Namanya juga usaha. Pantes aja gue ditolak mulu, ternyata pujaan hati gue sudah ada calon suaminya. Tetapi nggak masalah, selagi janur kuning belum melengkung. Maka, Divyanka masih milik bersama," ucap Deden terdengar sangat optimis dan membuatku mau tidak mau ikut tertawa bersama Baby.


"Njir nih orang pedenya ampun-ampun. Lo ngapain ganggu kita bahas kerjaan sih?" ketus Baby yang merasa terganggu dengan kehadiran Deden.


Aku hanya menggeleng pelan, enggan terlibat perdebatan dengan kedua orang yang menurutku lebih cocok jika berjodoh. Ku lirik amplop putih yang terselip pada buket mawar merah, dan setelahnya ku ambil untuk melihat isinya. Tidak mungkin kalau isinya adalah cek bank atau uang tunai yang cukup untuk beli tiket liburan ke Bali, kan? Semoga saja bukan dari penguntit beerapa waktu lalu, dan semoga saja tulisannya tidak membuatku merasa jijik dan ingin muntah.


---


Hai, Yaya Sayang.


Semoga kamu sudah tidak marah lagi, ya. Semoga kamu sudah mau angkat teleponku, sudah mau balas pesanku. Aku minta maaf karena sudah bohongin kamu, tapi jujur aku nggak ada maksud lain. Toh cuma nama doang.


Semoga suka sama mawar merahnya, dan cokelat yang aku beliin sekotak juga dimakan. Mubazir kalau nggak dimakan.


Aku sayang kamu, Yaya. Jaga kesehatan.

__ADS_1


With love,


Aditya Royyan Halindra, S.H., M.H


---


"Dih. Menyebalkan."


Ingin rasanya aku meremas surat yang dikirimkan lelaki itu, tetapi aku nggak tega. Secara itu hasil scan yang ditempel di kartu ucapan. Sungguh orang itu kreatif banget, tapi aku masih kesal karena dia membuat satu tahunku sia-sia. Ku ambil tas karton cokelat yang sudah ku tahu apa isinya, ada sekotak besar cokelat yang bungkusnya warna ungu dan langsung leleh di mulut kalau di makan. Cokelat kesukaan Yaya banget ini mah.


"Ututu... Sebuket mawar merah, dan sekotak cokelat untuk seorang Divyanka. Romantis banget sumpah, siapa sih calon suami lo? Kepo gue, Ya."


Baby mulai beraksi menggodaku, padahal dia masih memegang beberapa lembar kertas penawaran kerjasama pengadaan material yang rencananya akan kita gunakan dalam proyek ini. Karena perusahaan tempat kami bekerja bukan hanya menyediakan jasa desain, tetapi juga konstruksi dan konsultan proyek. Dan aku dapat langsung bekerja di sini tidak lama setelah lulus kuliah merupakan sebuah keberuntungan.


"Diam ah. Gue masih kesel sama nih orang," keluhku yang masih enggan membahas tentangnya.


"Katanya bukan calon suami," Deden bersungut kesal melihatku.


"Ya emang bukan. Lagian ngapain lo himung banget sih, Den?" jawabku yang tidak habis pikir dengan Deden.


"Himung apaan dah?" tanya Baby yang memang tidak tahu, karena itu adalah bahasa dari daerah asal kedua orang tuaku.


"Artinya sih suka, cuma maksud gue bukan suka yang itu. Lebih ke apa, ya? Lo ngapain kepo banget dah sama urusan gue," tukasku menjelasku makna dari pertanyaan Baby barusan.


Pada akhirnya Deden hanya memilih dia, dan tidak berapa lama pamit undur diri dari ruanganku meninggalkanku dan juga Baby. Sedangkan kami kembali fokus pada apa yang dikerjakan sebelum kiriman dari Aditya alias Lian ke kantorku. Sialan! Aku enggan menyebutkan namanya, malah sekarang jadi menyebutkan namanya. Sungguh luar biasa lelaki itu, lelaki yang sekarang sudah ku ketahui wajahnya seperti apa.


"Ihiy! Kepikiran yang ngirim kembang nih yeeee..." goda Baby membuatku memutar boola mata jengah.

__ADS_1


__ADS_2