
Sepulangnya dari kantor aku langsung mengendarai mobilku menuju salah satuk kafe tidak jauh dari apartemen tempatku tinggal. Biasanya aku memilih untuk kembali dulu ke apartemen untuk membersihkan diri, tetapi sepertinya tidak sempat karena waktu pertemuannya begitu mepet. "Ini kalau sampai ketinggalan waktu Magrib jauh banget, aduh, ruginya aku," keluhku ketika mobil yang ku kendarai telah terparkir dengan baik di depan kafe.
Aku segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki kafe, langsung menuju kasir karena sistemnya di sini adalah pesan dan langsung bayar di kasir. Coffee Latte sebagai kopi pilihanku petang ini, dan aku berjalan ke arah seorang lelaki paruh baya yang usianya mungkin sekitaran usia Papa. Di sampingnya ada seorang perempuan muda, yang mungkin saja adalah anak gadisnya.
"Selamat sore, Pak Wongso. Maaf membuat Bapak menunggu," ucapku mengulurkan tangan ke arah lelaki dengan perut besarnya yang nyaris menyembul dari sela kancing kemeja yang dikenakannya.
"Tidak masalah, Bu Divy. Saya dan istri saya belum begitu lama tiba di sini, dan kami juga paham kalau sekarang jam pulang kantor," ucapnya sembari tersenyum ramah.
Tetapi masalahnya adalah aku terkejut mengetahui fakta bahwa perempuan muda di sisinya adalah istri dari klienku ini. Ku pikir tadi adalah anaknya, ah, peduli setan dengan kehidupan pribadi klien. Aku tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini, jadi tidak perlu berkomentar banyak.
"Saya Siska, Bu Divy. Tolong untuk tidak berpikiran macam-macam tentang saya dan suami, ya. Wajah saya memang terlihat muda, tapi umur saya sudah 40 tahun," ucap Bu Siska yang merupakan istri dari Pak Wongso.
Sungguh aku dibuat terkejut oleh perempuan di hadapanku ini, bagaimana bisa terlihat seperti berusia 20 tahunan di saat usia sebenarnya adalah 40 tahun? Awalnya aku yakin jika istri dari Pak Wongso ini usianya tidak begitu jauh berbeda denganku, ternyata bedanya cukup jauh. "Masya Allah. Ibu awet muda banget ternyata," ucapku jujur penuh kekaguman melihat wajah cantik dan sehat dari Bu Siska.
"Bu Divy sudah terima email foto villa kami di puncak, kan?" tanya Pak Wongso memastikan.
"Sudah, Pak. Saya sudah mulai membuat beberapa sketsa, tetapi masih menunggu konfirmasi dari Bapak untuk detail konsep yang diinginkan. Karena ada beberapa area yang menurut saya lebih cocok untuk dibuat los, maksudnya tidak terlalu banyak perabotan dan ornament," ucapku sembari mengeluatrkan tablet dari ranselku, membuka sembari menunjukkan beberapa sketsa yang telah aku siapkan semalam.
Ini adalah pertemuan pertamaku dengan Pak Wongso, kebetulan aku dirokomendasikan oleh rekan bisnisnya yang sudah menjadi klien tetapku. Semalam kami hanya berkomunikasi melalui email, dan Pak Wongso menyetujui nilai jasa yang ku tetapkan di invoice dan segera melakukan pembayaran. Maka dari itu aku pun bekerja cepat untuk menyiapkan beberapa sketsa untuk didiskusikan hari ini.
__ADS_1
"Gimana, Mi?" tanya Pak Wongso pada istrinya sembari menunjukkan beberapa sketsa dari tabletku.
Bu Siska tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menunjuk salah satu sketsa konsep yang tadi ku sebutkan. "Mami suka yang ini, Pi. Sepertinya ini yang Bu Divy tadi bilang, ya?"
"Iya, Bu Siska. Jadi di ruangan ini bisa digunakan untuk berkumpul dengan keluarga atau membuat event lainnya, dengan pintu kaca yang langsung menghadap ke taman belakang. Nanti Divy bantu untuk memilih vendor furniture agar sesuai dengan konsep villa Bapak dan Ibu Wongso," ucapku penuh percaya diri, karena sebelum meyakinkan orang lain harus meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu.
"Karena istri saya suka, kami pilih konsep ini saja, Bu Divy. Kira-kira kapan kami bisa mendapatkan hasil akhirnya?" tanya Pak Wongso mengembalikan tabletku.
"Mungkin 2 sampai 3 minggu lagi, Pak. Sesuai dengan antrean klien lainnya, ya, Pak," ucapku memberika kepastian kapan desain akhir dari layout interior villa ini akan ku serahkan.
"Baik kalau begitu. Terima kasih, Bu Divy. Eh, kalau boleh tahu, Bu Divy sudah menikah?" tanya Bu Siska yang membuatku tersedak kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutku.
Sungguh merepotkan jika memiliki klien Ibu-ibu, karena mereka biasanya akan menanyakan hal-hal pribadi seperti ini. Aku mau marah, tetapi tidak bisa. Mau menegur, juga rasanya sungkan. Sungguh dilema. "Saya bucan, Bu," jawabku sembari memberikan cengiran kuda.
"Bucan? Apa itu?" tanya Bu Siksa penasaran karena tidak tahu artinya.
"Bujang cantik," jawabku sembari tertawa pelan.
Pasangan suami istri di depanku ikut tertawa, dan beberapa kali menggelengkan kepala tidak percaya. Setelahnya kami berbincang singkat meskipun aku hanya berbasa-basi, sambil berdoa jika pasangan suami istri itu akan merekomendasikan pekerjaanku pada kolega mereka. "Sampai ketemu lagi, Bu Divy. Pikirkan tawaran saya, ya," ucap Bu Siska sembari melambaikan tangan dan memasuki mobilnya yang ternyata terparkir tepat di sisi mobilku.
__ADS_1
Jadi tadi dia berencana untuk menjodohkanku dengan keponakannya yang baru pulang dari London minggu lalu. Beda keyakinan, repot. Kalau seiman mungkin bisa ku pikirkan, tetapi kalau bedanya sudah sejauh itu, aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menolaknya. Meskipun aku tidak menyuarakan pemikiranku ini.
"Alhamdulillah belum lewat jauh dari Magrib, pulang ini langsung mandi dan sholat. Batu tunggu panggilan dari Adit, berasa jadi cewek panggilan."
Yaya bermonolog bukanlah hal baru, dan itu ku lakukan beberapa kali dalam sehari ini. Terutama di dalam mobil yang ku kendarai melaju menuju apartemen tempat peraduanku setiap hari di kota metropolitan dengan tingkat stress tinggi. Sesampainya di apartemen aku langsung melakukan apa yang seharusnya ku lakukan, dan setelahnya mempersiapkan diri untuk turun ke lobi. Atau lebih tepatnya menuju kafe tempatku dan Adit akan bertemu.
"Ah, makan di sana aja, lah. Pesan ayam geprek, nggak usah minum kopi. Kita ganti jadi Ice Lychee Yakult."
Aku memasuki lift dan menekan tombol menuju lobi apartemen, sambil memainkan ponselku di mana ada satu aplikasi membaca novel yang baru saja ku download. Biasanya aku hanya membaca komik sebagai hiburan di kala pekerjaan begitu membuat kepalaku nyaris pecah. Tetapi iklan novel ini terus seliweran di beranda sosial mediaku, mana ceritanya tentang nikah kontrak antara CEO kaya raya dengan gadis biasa. Menarik juga kehidupan percintaan beda dunia ini, penuh konflik biasanya.
"Rela aku rela belik diamond dan sejenisnya demi sebuah novel. Luar biasa memang, ya," gumamku pena l sembari tanganku menggeser turun layar ponsel.
Lift berdenting, tepat ketika telah berada di lobi apartemen yang berhasil membuat jantungku berdebar tidak keruan. Duh, berasa abg yang lagi janjian kopdar sama cem-cemannya alias gebetan. "Aduh, Adit ini chat bikin makin salting," keluhku ketika membaca pesan masuk yang dikirimkan oleh lelaki yang akan ku temui beberapa menit lagi.
Aditya R. Halindra
Sayang, aku sudah di kafe. Aku pesanin kamu nasi ayam geprek, karena pasti belum makan. Aku juga sudah pesanin kami Ice Lychee Yakult biar segar, karena tadi pasti kamu sudah minum kopi waktu ketemu klien.
Eh, apa nih? Kenapa nih? Kok Adit bisa pesananin apa yang tadi aku pikirkan? Jangan bilang kita sudah terkoneksi tanpa pernah saling mengoneksikan tubuh sebelumnya. Sebagai orang dewasa pasti sodara-sodara paham dengan apa yang aku maksud, kan?
__ADS_1