
Aku berulang kali mencoba untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Adit. Yah, pada akhirnya aku harus berulang kali mengakui jika otakku lola jika berurusan dengan signal yang dia berikan. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal mudah, tetapi tidak denganku.
"Terkadang kita butuh teman untuk bergandengan tangan ketika meniti masa depan. Dan aku begitu yakin kalau akulah teman yang tepat untukmu, Ya."
Teman untuk meniti masa depan? Sesuatu yang barukah ini? Atau ini hanya sebuah ilusi yang diciptakan oleh seorang lelaki yanh sangat ahli mengolah kata? Bukan tidak mungkin, mengingat latar belakang pekerjaannya yang sudah pasti membuatnya terlatih untuk bersikap dan berucap.
"Pikiranmu nggak usah ke mana-mana. Aku nggak sepicik apa yang kamu pikirkan, dan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan pekerjaanku," ucapnya setelah melepas genggaman tangannya pada tanganku, dan kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sembari meletakkan kedua tangan di atas paha.
"Kenapa, sih, kamu selalu membaca isi otakku?" kesalku karena selalu saja dia tahu apa yang aku pikirkan.
"Ekspresi wajahmu nggak pernah bisa bohong, apalagi kalau matamu sudah mutar-mutar kayak roller coster," cibirnya yang membuatku memajukan bibir karena kesal.
Setelah saling diam untuk beberapa saat, aku memajukan tubuhku ke arahnya. Memposisikan wajahku tepat di atas meja, dengan bertumpu pada dagu. Ku tatap wajahnya yang tidak tampan, tetapi tidak juga jelek, hanya pas-pasan. Tetapi aku menyukai caranya menatapku, terlalu teduh sampai-sampai rasanya aku ingin membenamkan tubuhku di pelukannya.
Eh, sadar. Otak sama hati yang selalu saja nggak sinkron.
"Kamu ngapain begitu? Mau aku cium?" godanya yang berhasil membuat pipiku terasa panas, dan sudah dipastikan saat ini memerah seperti udang rebus.
__ADS_1
"Apaan, sih, kamu?" gerutuku sembari menyedot habis Ice Lychee Yakult yang menimbulkam bunyi srat srot srat srot cari perhatian.
"Cantik, tapi bar-bar," cibir Adit sembari mengacak poniku yang sudah menjadi ikon penting dalam hidup ini.
Pada akhirnya kami hanya berdiam diri, larut dalam pikiran masing-masing. Dan yang pasti aku tidak tahu apa yang ada dalam benak lelaki ini. Dia terlihat begitu menggoda, cara berpikirknya, caranya bersikap, caranya bicara padaku, dan dari pembicaraan kami selama ini dia memiliki wawasan yang luas. Hanya saja kami cukup banyak memiliki perbedaan, aku sadari itu.
"Jangan terlalu memikirkan yang tidak perlu, dan kamu hanya perlu tahu kalau aku serius dengan semua ucapanku."
Baper, nggak? Baper, nggak? Baperlah! Masa enggak? Hatiku seolah bersorak mendengar kata-kata dari lelaki di hadapanku ini. Aah, meleleh Yaya dengarnya.
"Cermin itu memantulkan sisi yang berbeda dengan sebenarnya, itulah sebabnya pasangan disebut sebagai cerminan diri. Terlihat serupa, tetapi tidak sama. Jadi semua perbedaan kita jangan terlalu dipikirkan, jalani saja sampai di mana ujungnya."
"Bersama atau berakhir, tetap akan menemui ujungnya. Bersama pun akan tetap berakhir nantinya, meski ceritanya berbeda."
Sekali lagi aku harus mengakui diriku telah kalah jauh dari lelaki yang usianya terpaut 3 tahun lebih muda dariku ini. Dia sungguh berbeda, dan aku suka. Hanya saja aku belum berani untuk melangkah maju, bergandengan tangan meniti masa depan seperti yang dia bilang tadi. Hidupku tidak sesederhana ini, hatiku juga tidak selapang itu untuk menerima cinta baru.
...----------------...
__ADS_1
Malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur, sudah berulang kali ku coba untuk memejamkan mata. Tetapi rasanya begitu sulit, bahkan aku mencoba untuk menghitung domba agar merasa lelah dan tertidur. Sayangnya upayaku kembali gagal, karena beberapa kalimat yang Adit ucapkan membuat pikiranku teralihkan. Aku tidak bisa untuk tidak memikirkannya, aku tidak bisa untuk hanya diam dan duduk manis sembari menunggu takdir mempermainkanku kembali.
"Mau kerja juga nggak konsen. Mau baca komik, nggak ada nemu yang gambarnya bagus. Kalau baca komik dewasa, nanti pusing nggak ada lawannya. Mangsedih. Yaya. Yaya."
Aku hanya bisa menggerutu sembari menutup wajahku dengan boneka Hello Kitty yang dihadiahkan oleh sahabatku. Kata orang ketika ingin mendapatkan cinta, jangan menggunakan logika. Kalau selalu bertanya pada logika, jawabannya tidak akan pernah ditemukan. Orang lain selalu saja memiliki kekurangan, dan terkadang diri sendiri juga merasa tidak pantas. Tetapi kalau aku bertanya pada hatiku sendiri, sejujurnya aku juga tetap tidak memiliki jawabannya.
Orang tuaku saja sudah nyaris menyerah dengan apa yang akan ku lakukan di masa depan. Yang mereka bisa lakukan hanya mendoakan agar anaknya ini selamat dunia dan akhirat. Walau duniaku sebenarnya tidak baik-baik saja, terlalu banyak luka dan borok yang aku sendiri tidak tahu harus menyembuhkan bagian mana terlebih dahulu.
"Seandainya semua itu sesederhana membalikkan telapak tangan, mungkin aku tidak akan terjebak dengan masa lalu dalam waktu selama ini. Entah memang bodoh, atau tolol. Tetapi seingatku, aku cukup cerdas, kecuali urusan cinta."
Jam digital di dinding kamarku tepar menunjukkan pukul 2 pagi, dan aku masih terjaga dengan segala pikiranku. Sampai ku coba untuk mengambil ponsel yang ku biarkan tergeletak di atas meja rias. Jempolku dengan terampil menggeser tampilan layar ponsel yang menampilkan percakapanku dengan Adit setahun lalu. Di mana lelaki itu memberikan salam dan mencoba untuk berkenalan. Meski aku membalasnya sebulan setelahnya.
Sampai akhirnya muncul pesan pop-up dari lelaki yang membuatku terjaga sampai sekarang. "Bagus banget kamu chat aku subuh-subuh begini, ya. Otakku ngebul mikirin semua kalimatmu yang ada benarnya, tetapi masih sulit ku terima."
Aku hanya bisa menumpahkan kekesalanku pada ponsel yang ku tatap saja. Begitu enggan membuka pesan dari Adit, karena aku hanya akan semakin tidak bisa tidur dibuatnya. Lelaki itu sungguh luar biasa, kehadirannya berhasil membuat otak dan hatiku bentrok. "Males banget, sih, Dit. Aku nggak mau ngomong sama kamu dulu, pusing mikirnya."
Pada akhirnya aku menutup aplikasi pesan singkat yang tadi ku buka, dan mengembalikan ponsel ke atas meja rias. Aku harus mencoba untuk tidur, bagaimana pun caranya aku harus bisa tidur. Karena besok pagi akan melakukan presentasi di depan klien perusahaan untuk proyek baru yang sedang berlangsung.
__ADS_1
"Yaya, tidur, ya. Besok kamu kerja, dan perusahaan harus membayar gajimu. Jangan terlena dengan cinta-cintaan, ingat ada impian yang harus dicapai," ucapku pada diri sendiri sembari menangkupkan kedua telapak tangan di atas dada.
Semoga kali ini upayaku membuahkan hasil, semoga saja aku bisa tidur nyenyak tanpa kehadiran Adit di dalam mimpiku. Karena setidaknya aku memiliki waktu untuk istirahat dari pergolakan hati dan pikiran yang untuk kali pertama melakukan aksi tawuran. Dan untuk kesekian kalinya juga ku membaca doa agar bisa tertidur, dan sepertinya kali ini berhasil karena mataku terasa berat.