Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 11


__ADS_3

Jantungku berdegub tidak beraturan ketika melangkahkan kaki memasuki pintu kafe, menuju ke arah dinding kaca yang mengarah langsung ke luar gedung. Aku bisa melihat sosok lelaki itu, lelaki yang beru beberapa minggu ini ku tahu wajahnya seperti apa. "Maaf, ya, lama," ucapku ketika menghampirinya sembari menarik kursi tepat di depannya untuk duduk.


"Santai aja, belum lama, kok," jawabnya sembari tersenyum ke arahku, dan aku suka senyuman manis itu.


"Yaya," ucapku menyodorkan tangan ke arahnya.


"Adit," balas Adit menerima uluran tanganku dan menggenggamnya dengan begitu hangat.


"Kok kamu bisa pesanin aku itu sih?" tanyaku penasaran sembari melepas jabatan tangannya berusaha tetap biasa saja, meskipun jujur aku salah tingkah.


"Kamu nggak biasa makan sama klien, dan aku tahu kalau kamu selalu pesan kopi kalau lagi ngebahas bisnis. Dan sekarang kita tidak akan melakukan pembicaraan bisnis," jawabnya tersenyum ramah pada pegawai kafe yang baru saja meletakkan nasi ayam geprek, Ice Lychee Yakult, dan Hot Americano yang aku yakin itu adalah pesanan Adit.


"Makan dulu, Sayang," ucapnya menyerahkan sendok dan garpu untuk ku gunakan meyantap nasi ayam geprek.


Aku diam sejenak, mencoba mencerna panggilan darinya. "Jangan bikin aku salting, Din. Nggak sehat buat jantungku," jujurku yang sudah tidak bisa mengendalikan debaran di dada.


"Kamu ngerasanya ke aku gimana?" tanyanya yang membuatku nyaris tersedak sambal.


"Ih, kamu apaan, sih?" keluhku berusaha menghindari pertanyaannya.


"Tolong jawab jujur, Ya. Kalau aku telepon kamu, perasaan kamu gimana? Dan kenapa kamu sering banget chat aku minta ditelepon? Bukannya aku ge-er nih, tapi aku lelaki dewasa yang cukup paham dengan hal-hal seperti itu."

__ADS_1


"Hal-hal seperti apa maksudnya, Ay?" tanyaku kelepasan memanggilnya dengan sebutan itu.


"Aku sayang kamu," ucapnya sembari membersihkan ujung bibirku dengan ibu jarinya, dan kemudian menjilatnya.


Aduh meleleh Yaya diperlakukan begini, berondong manis berkacamata yang berhasil membuatku melanggar ucapakanku sendiri. Untuk tidak jatuh cinta pada obyek baru dari dunia maya, karena niat awalku hanya untuk berteman dengannya. "Bikin salting aja," gerutuku berusaha kembali fokus menghabiskan makan malamku.


Musik yang dimainkan di kafe sangat mendukung suasana malam ini, yang kebetulan tidak begitu ramai seperti biasanya. Adit sama sekali tidak membuka pembicaraan lagi setelah aku menggerutu, atau lebih tepatnya dia begitu fokus memperhatikanku menyuap nasi dan potongan ayam ke dalam mulut. Sampai suara dering ponselnya memecam keheningan di antara kami.


"Selamat malam," ucapnya setelah mengankat panggilan dan menempelkan ponselnya ke telinga.


Aku tidak begitu tahu apa yang lelaki itu bicarakan, hanya sekilas saja aku mendengarnya karena itu bukanlah urusanku. Aku tidak ingin tahu, tidak perlu tahu, dan tidak peduli. Sampai waktu berlalu cukup lama ketika aku berhasil menyelesaikan makan malamku, menyilangkan sendok dan garpu dengan posisi terbalik di atas piring kosong. Setelahnya menyeruput Ice Lychee Yakult dengan sedotan karet yang ku bawa sendiri untuk mendukung gerakan cintai alam, kurangi limbah plastik.


"Maaf, ya. Aku cuekin kamu, karena memang kasus baru di Surabaya besok agak sedikit menyita waktu dan perhatian," Adit meletakkan ponselnya di atas meja setelah menyelesaikan panggilan telepon tadi.


"Gimana meeting tadi? Kliennya enak diajak diskusi?" tanya Adit membuka pembicaraan yang biasanya kami lakukan setiap malam.


"Mereka orang kaya yang ramah, dan klienku yang perempuan mau nyomblangin aku sama keponakannya yang baru balik dari Amrik," ceritaku sembari sesekali melirik ponsel, di mana ada pesan pop up dari Baihaqi.


Ya! Kami masih menjalin komunikasi bahkan setelah desain kost milik lelaki itu telah selesai semua dan sedang dalam proses pembangunan. Biasanya lelaki itu hanya menanyakan aktifitasku hari ini, sama seperti yang dilakukan Adit selama setahun terakhir. Tetapi bedanya aku masih merasa canggung untuk terlalu banyak cerita dengannya, mungkin karena belum lama kenal. Dan aku juga harus menjaga perasaan Deden yang ku tahu jika dia masih berusaha untuk mendekatiku.


"Wow! Hebat dong, orang yang baru kenal aja sudah bisa mau jadikan kamu anggota keluarganya," terdengar jelas kalimat Adit barusan penuh dengan nada sindiran dan ketidaksukaan.

__ADS_1


"Cemburu?" godaku yang berhasil membuatnya memutar bola mata malas.


"Kayaknya aku di Surabaya nggak jadi seminggu, bisa lebih dan mungkin juga nggak bisa hubungin kamu kayak biasa."


"Ya, nggak masalah. Namanya kamu kerja, sibuk. Mumpung masih muda, masih banyak waktu buat nyenangin orang tua dan diri sendiri. Karena kalau kamu sudah punya pasangan tetap, semuanya akan berbeda, tidak bisa totalitas lagi untuk orang tua dan diri sendiri," setidaknya hanya kalimat-kalimat seperti itu yang bisa ku ucapkan untuk membuatnya mengerti jika aku berbeda, aku tidak begitu mempermasalahkan jika dia tidak menghubungiku.


"Pengertian banget, sih, Sayangku ini," godanya sembari membawa tangan kananku ke dalam genggamannya, atau lebih tepatnya dia menangkup tangan kananku dengan kedua tangannya.


Dan hal yang membuatku heran ialah, aku sama sekali tidak menolak perlakuannya. Aku tidak melancarkan protes, tidak menarik tanganku, dan aku justru menikmatinya sembari tersenyum. Sepertinya aku benar-benar sudah gila, lelaki ini berhasil mengubahku yang biasanya ilfeel dengan hal seperti ini.


Perasaan nyaman dan juga tentram ketika berdekatan dengan Adit, bahkan aku merasa begitu dipuja oleh lelaki ini. Dia selalu menatapku tepat di manik mataku setiap kali aku bicara, dia selalu memperhatikanku, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya selama kami menjalani komunikasi melalui telepon. Sungguh berbeda dengan apa yang biasanya ku terima dari lelaki lain, mereka akan berubah sangat berbeda dengan apa yang telingaku tangkap. "Kenapa kamu selalu panggil aku begitu?" tanyaku penasaran.


"Aku suka. Dan aku nyaman melakukannya," jawab Adit penuh keyakinan.


"Kamu dekat sama siapa aja selama setahun ini? Maksudku sudah jalan sama cewek mana aja?"


Adit menggeleng cepat sembari membuat tanda silang di depan dada dengan kedua tangannya, "nggak ada waktu buat perempuan lain, ketika suara kamu sudah jadi canduku setiap hari, Ya. Aku nggak bisa kalau nggak dengan suara kamu sehari aja, bersyukur kadang kamu ada kirim voice note untuk nyemangatin aku. Jadi aku punya doping buat ngisi energi kalau lagi sibuk banget dan nggak bisa hubungin kamu," terangnya membuatku kehabisan kata-kata.


"Aku tahu nggaka ada yang instan di dunia ini, Ya Dan jatuh cinta sama kamu pun aku butuh proses, kalau tertarik sama kamu memang sudah dari awal. Tetapi perasaanku nggak serta merta berubah begitu aja, aku butuh proses. Ya, kayak mie gelas lah. Katanya instan, nyatanya tetap harus diseduh dengan air panas sampai beberapa menit untuk bisa dikonsumsi."


"Gilani! Bisanya kamu bahas mie gelas saat lagi ngomong serius kayak sekarang," kesalku langsung mengosongkan gelas plastik berisi Ice Lychee Yakult.

__ADS_1


"Biar kamu lebih mudah paham, karena kadang kamu lola banget terima signal dari aku," keluhnya sembari membawa kembali tanganku ke dalam genggamannya, sembari beberapa kali mengecupi punggung telapak kananku.


Harus diakui, aku memang sedikit kurang peka dengan perasaan orang lain dan keadaan.


__ADS_2