
Sekarang aku sedang ditatar oleh Pak Haikal yang merasa diriku ini terlalu banyak bercanda dalam bekerja. Padahal mah aku hanya berusaha untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Mana enak kalau bekerja dalam keadaan tegang dan tertekan. Kecuali tegang dan tertekan yang itu. Eh...
"Kamu ini, Div. Nggak bisa lihat yang bening sedikit, langsung bereaksi."
Aku hanya menunjukkan cengiranku yang sama sekali merasa tidak bersalah. Sedangkan Pak Haikal hanya bisa menggelengkan kepala sembari menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya. Dan kalau kalian ingin tahu posisiku sekarang, saat ini aku tidak diizinkan untuk duduk. Rasanya aku sudah seperti disetrap karena tidak mengerjakan PR atau terlambat datang ke sekolah.
"Pak Marko memang masih single, tetapi jangan digoda, lah. Saya khawatirnya dia dan tim dari Hotel The Cloud Garden berpikiran kamu nggak profesional. Padahal saya tahu kalau kamu hanya iseng," ucapnya sembari mengeluarkan sebuah map dari dalam laci meja kerjanya.
"Mana tahu iseng-iseng berhadiah, Pak," kekehku tidak peduli dengan delikan matanya.
"Syukur saya ini Paman kamu, coba kalau orang lain. Sudah habis kamu, Div," ucap Pak Haikal yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik sepupu Papa.
Yaps! Kolusi, korupsi, dan nepotisme. Ah, lebih tepatnya nepotisme jika orang lain mengetahui fakta ini. Padahal aku hanya diberi informasi jika Dharma Jaya sedang membuka lowongan, dan aku mencoba peruntungan di sini. Test pun sampai dilakukan berulang kali, dan aku sangat tahu kwalitas diriku dalam bekerja.
"Tapi seriusan ganteng loh, Paman."
"Nggak usah macam-macam, kalian beda server. Dia ibadah ke mana, kamu ke mana. Papa kamu bisa marah besar kalau tahu anaknya berulah," tegurnya yang hanya bisa aku angguki, karena untuk kalimat terakhir aku sangat setuju.
"Yaya mau ambil sertifikasi plumber, ya, Paman," izinku pada Pak Haikal yang merupakan atasanku di divisi proyek Dharma Jaya.
"Bisa, sih. Tapi setelah kamu selesaikan beberapa proyek yang sudah berjalan ini, karena untuk sertifikasi butuh beberapa waktu. Kamu mau ajukan ke kantor atau pakai biaya pribadi?"
"Biaya pribadi aja, jadi sertifikatnya langsung hak milik Yaya. Cuma itu, waktu sertifikasinya 2 minggu lebih, deh. Bisa cuti full, nggak?" tanyaku memastikan waktu yang ku butuhkan untuk meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Ya sudah. Nanti selesai beberapa proyek ini, kamu langsung ke HR aja tanya sisa cuti kamu. Terus ajukan cuti pendidikan juga kalau waktunya nggak cukup. Cuma kalau ambil cuti pendidikan, artinya harus bersedia potong gaji, ya."
"Aman kalau potong gaji aja. Yaya masih bisa ambil job di luar," jawabku sembari memberi tanda hormat.
"Kamu ini ngomong Yaya, Yaya, mulu. Nanti kalau orang lain dengar, mereka pasti mikir skenario tentang relasi kita. Ya, sudah. Kamu balik ke ruangan sana, selesaikan pekerjaanmu tepat waktu."
Aku hanya mengangguk dan berbalik untuk berjalan menuju pintu. Tetapi langkahku terhenti ketika Pak Haikal berbicara tentang sesuatu yang membuatku memutar bola mata malas. "Oh, ya. Karel lagi di sini, katanya ada pekerjaan dan mau ketemu kamu."
"Yaya sudah ketemu tadi pagi bus. Haih, malas banget jadi keingat sama mukanya. Ya sudah, Pak Haikal yang terhormat. Divyanka kembali bekerja dulu," pamitku sebelum membuka pintu ruangan dan menutupnya kembali.
Setelahnya berjalan cepat menuju ruang kerjaku, di mana ada Deden dan Baby yang begitu setia menunggu. Atau lebih tepatnya mereka menunggu konfirmasi dariku tentang apa yang dikatakan Pak Haikal. Padahal aku cuma ditegur biasa saja, nggak ada yang gimana-gimana.
"Dapat SP lo, Div?" tanya Deden dengan wajah cemasnya.
"Jadi apa kata Pak Haikal?" tanya Baby penasaran.
"Ya, itu. Pak Marko memang masih single, tetapi aku dilarang godain. Karena dikhawatirkan dapat penilaian tidak profesional dari pihak klien," jawabku secara garis besar.
Baru saja aku ingin membuka mulut untuk membahas proyek ini, tetapi harus diinterupsi oleh suara ketukan di pintu ruangan kerjaku yang terbuat dari kaca. Meski tidak transparan karena dilapisi sticker buram, tetapi aku cukup tahu siapa orang yang ada di balik pintu. "Masuk aja, Mbak Fatma," ucapku mempersilakan office girl perusahaan untuk memasuki ruang kerjaku.
Mataku menangkap sesuatu di pelukan wanita itu, ada 2 buket bunga dengan jenis yang berbeda. Yang 1 adalah mawar putih dengan beberapa tangkai krisan berwarna orange dan pink. Sedangkan buket satunya lagi adalah mawar merah tanpa ada jenis bunga yang lainnya. Aku sudah dapat menebak siapa pengirimnya, tetapi tidak dengan pengirim mawar putih.
"Yang merah dari calon suami Mbak Divy, dan yang putih dari Pak Baihaki. Kebetulan tadi Pak Baihaki yang titipin sendiri di resepsionis bawah, Mbak. Kayaknya, sih, benar namanya Baihaki," Mbak Fatma mencoba menjelaskan sembari meletakkan kedua buket itu di atas meja kopi di hadapanku, Baby, dan Deden yang menampilkan ekspresi terkejut.
__ADS_1
Aku tidak heran mendapati ekspresi terkejut Deden, karena Baihaki adalah teman kuliahnya. Sudah pasti dia tidak akan menyangka jika akan bersaing dengan orang yang dia kenal. Tetapi aku tetap tidak bisa merubah pandanganku akan sosok Deden, tidak lebih dari rekan kerja dan teman berbagi ilmu. Hanya itu saja.
Hal pertama yang ku lakukan adalah membuka amplop yang diselipkan pada buket mawar merah. Aku penasaran apakah lelaki itu akan kembali menulis tangan dan menggunakan menyalinnya untuk diprint pada kartu ucapan. Tetapi perkiraanku salah, tulisan dengan tinta basah di atas kartu ucapan ini menandakan jika lelaki itu menyiapkan buket ini sebelum berangkat ke Surabaya tadi pagi.
Selamat pagi, Yaya Sayang.
Semoga harimu menyenangkan dan doakan aku segera kembali dengan keadaan selamat dan baik, ya. Kirim voice note, ya.
Please...
Karena aku pasti akan sangat merindukanmu di sana.
With love,
Adityaya XoXo
Senyuman tipis terbit di bibirku, membuat Baby kembali menggodaku. Aku tidak tahan untuk tidak salting menerima kiriman mawar merah dan ucapan semangat dari lelaki yang sudah menemaniku selama setahun ini. "Ecie. Calon suami kirim buket mawar auto senyum. Ajegile. Eh, wait! Itu yang kirim buket satunya Baihaki siapa? Temennya Deden?" Baby melirik ke arah Deden yang menampilkan ekspresi kecewa, dengan posisi bahunya sedikit turun. Tidak setegap sebelumnya.
"Kaget gue kalau Haki suka juga sama lo, Div. Berat banget saingan gue, teman sendiri dan doi tajir juga. Gue mah apa atuh?"
"Nggak ada hubungannya juga, Den. Kan lo tahu sendiri kalau dari dulu gue nggak pernah mau sama lo. Atau lebih tepatnya menjalin hubungan romantis sama lo. Nggak pernah terpikir di otak gue pacaran sekantor."
"Sudah, Div. Kan Deden nggak salah juga, perasaannya ke lp juga nggak bisa disalahin. Cuma Deden sedih tuh karena temannya punya selera yang sama dalam urusan cewek," ucap Baby yang terdengar sangat dewasa dari biasanya.
__ADS_1
"Haki ganteng, sih," gumamku ketika melirik buket bunga dari Baihaki yang sama sekali belum ku sentuh, hanya ku biarkan tergeletak di atas meja.