Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 6


__ADS_3

Sudah sejam aku duduk berdampingan dengan Deden di sebuah kafe masa kini, di mana banyak anak muda nongkrong. Aku berasa jadi orang gabut di sini nggak ngapa-ngapain, apalagi Deden kayaknya masih kesal banget sama aku yang menolak cintanya berulang kali."Den, temen lo masih lama?" tanyaku yang melihat jam tangan di pergelangan tangan kananku berulang kali.


"Bentar lagi, katanya sudah dekat. Kejebak macet lah biasa kalau pulang kerja gini. Lo juga bawa mobil sendiri, Div. Aman aja lah," jawabnya sebelum menyeruput secangkir capuccino panas yang dipesannya.


"Bukan masalah bawa mobil sendiri atau nggak, tapi ini nggak tepat waktu banget. Lo lupa, ya, kalau time is money?" tanyaku menumpahkan kekesalanku pada Deden karena temannya lama banget datangnya.


Deden menggeleng pelan, "otak lo."


"Nggak usah muna, Den. Hidup itu perlu duit, dan sebagai anak rantauan lo pasti paham lah. Lo mah enak kalau mau balik kampung tinggal naik tol, lah, gue? Harus beli tiket pesawat, cuy."


"Jangan lupa kalau Bapak lo yang punya perkebunan sawit dan tambang batu bara di Kalimantan, ya," kesalnya yang membuatku hanya bisa memberikan cengiran kuda.


Tidak bisa dipungkiri aku memang terlahir dengan lable "privilage" dari Papa yang merupakan pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar di Kalimantan, dan juga beliau memiliki tambang batu bara di pulau yang sama. Sedangkan Mama adalah seorang Guru Agama Islam di SD Negeri di kota tempatku tinggal. Tetapi dari kecil kedua orang tuaku mendidikku untuk jadi anak mandiri. Buktinya aku tidak dibiarkan bekerja di perusahaannya, melainkan aku harus mencari pekerjaan sendiri dengan usahaku sendiri.


"Den, jangan bilang lo mau sama gue karena bokap gue tajir. Eling, Den. Eling. Gue cuma anak perempuan yang masih punya 3 adik cowok. Artinya harta warisan gue nggak lebih banyak dari adik-adik gue."


"Gila! Lo yang harusnya eling, Div. Otak lo bener-bener nggak jauh dari urusan duit," kesal Deden yang tidak terima dengan asumsiku.


"Sorry, ya, Den. Tadi macet banget di jalan," suara baritone yang berhasil melerai perdebatanku dengan Deden.

__ADS_1


"Nggak masalah, Bro. Cuma temen gue aja rese, gelisah dia nunggunya," balas Deden.


"Masya Allah. Adem banget Masnya," ucapku tanpa sadar, tanpa bisa merubah mimik wajahku yang entah sudah seperti apa sebelum Deden menepuk bahuku pelan untuk menyadarkanku dari keterpakuan pada sosok lelaki tampan di depan kami.


Lelaki itu tersenyum manis, dengan lesung pipi menghiasi kedua sisi wajahnya yang ditumbuhi rambut halus tipis. Sungguh Yaya terpesona untuk sepersekian detik melihatnya, kalau sudah begini rasa kesal pada Deden seketika musnah terbawa angin. "Nggak masalah kok, Mas. Namanya juga jam pulang kantor, pasti macet banget kalau bawa kendaraan sendiri," ucapku menguntai senyum tipis yang membuat Deden bergidik ngeri menatapku.


Aku tahu kalau lelaki itu merasa ngeri dan heran dengan perubahanku secara mendadak, tetapi tidak mungkin aku menunjukkan sisi lain diriku di hadapan lelaki tampan ini, kan? Bisa rugi kalau kesempatan yang bagus ini terbuang dengan sia-sia hanya karena aku tersulut emosi. "Silakan duduk," ucapku mempersilahkan teman Deden untuk duduk tepat di hadapanku, sehingga aku dapat memandanginya dengan leluasa.


"Perkenalkan, saya Baihaqi. Kebetulan saya baru balik dari Malaysia beberapa bulan lalu, dan rencananya mau bangun kost di daerah komersial," lelaki bernama Baihaqi itu mengulurkan tangan ke arahku, yang langsung ku sambut dengan senyum ramah.


"Divyanka, panggil saja Divy. Oh, iya. Deden sudah cerita sedikit perihal kost yang mau dibangun, cuma nggak begitu detail," ucapku sebelum menyeruput caramel macchiato dinginku dengan sedotan karet yang ku bawa sendiri.


Aku tampak berpikir sejenang, dengan menggerakkan jari telunjukku di udara seperti sedang membuat sketsa tetapi tanpa kertas. Gambarnya sudah ada di kepalaku seperti apa, tetapi untuk eksekusinya aku tetap harus membuat gambar yang cukup mudah dipahami oleh klien. "Mau berapa lantain? Pakai tangga atau lift?" tanyaku memastikan sebelum membuat sketsa lanjutan di kepalaku.


"Lift dan tangga, tetapi tangganya expose saja. Jadi bukan tangga darurat seperti di gedung-gedung pada umumnya. Kalau tanah segitu bikin 7 lantai bagus, nggak, sih?" lelaki tampan di hadapanku tampak serius, sembari mengetukkan jari telunjuknya ke dagu.


Fix! Tampan! Mapan! Eits... Otakku hampir saja melanjutkan dengan kata yang tidak seharusnya diucapkan.


"Bisa banget, cukup kok. Bisa bikin basement untuk parking area juga malah, cuma gini nih. Budget bagaimana?" tanyaku sebelum membuat desain yang sesuai dengan konsep dari Baihaqi.

__ADS_1


"Lo nggak usah ngomongin budget sama Haqi, duit dia banyak kagak ada serinya. Aman, lo desain aja yang keren kayak biasa, Div. Gue udah kasih lihat website portofolio lo, yang paling update kemarin lusa," ucap Deden membuatku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.


"Urusan budget aman lah itu. Fee kamu berapa?"


"Nah, paling demen pertanyaan begini," ucapku to the point dan berhasil membuat Deden menggelengkan kepalanya berulang kali, tetapi tidak dengan Baihaqi yang justru memberiku senyuman manisnya. Masya Allah lemah jantung aku kalau begini terus.


"Bilang aja berapa, langsung gue transfer sekarang semuanya. Kalau pakai DP dulu juga nggak masalah, kalau harus langsung lunas juga nggak masalah," tegasnya membuatku langsung mengeluarkan tablet dan pennya dari dalam tas ranselku.


Aku membuka file word yang merupakan draft kontrak untuk calon klien sejak aku memutuskan untuk menjadi desainer lepas beberapa tahun terakhir. Tidak mau tertipu dengan pembicaraan yang tidak memiliki dasar hukum sama sekali, oleh sebab itu aku selalu membuat kontrak kerja dengan klien. Untuk mereka memegang waktu dan hasil kerjaku, dan juga untukku memegang mereka dalam hal pembayaran jasa dan usahaku begadang setiap malam.


"Boleh dibaca dulu, ya. Ini draft kontrak yang biasa saya gunakan dengan para klien, dan Mas Haqi boleh mengajukan beberapa permintaan pekerjaan tambah lainnya. Tentu saja biayanya juga berbeda, nanti saya akan berikan detailnya jika memang diperlukan," ucapku sembari menyodorkan tabletku untuk Baihaqi mempelajari setiap klausal dari draft kontrak kerjaku.


Lelaki itu tampak sangat serius ketika membaca setiap kata yang tertulis di sana. Aku tidak ingin terburu-buru dalam menghasilkan uang, karena Divyanka, S.T adalah seorang profesional yang jasa dan pekerjaannya berkualitas tinggi. Jangan sampai karena uang, kredibilatasku sebagai seorang arsitek bisa rusak dan dipertanyakan.


"Saya mau pakai jasa desain interior dan konsultan dari kamu juga, ya, Div. Biar saya nggak kelimpungan cari-cari di lain lagi. Kalau kontraktor saya sudah pilih Deden, jadi bagi-bagi, ya."


Aku mengulurkan tangan kananku untuk dapat berjabat tangan dengan Baihaqi sebagai tanda setuju untuk kesepakatan kerja yang akan dijalani ke depannya. "Kalau gitu nanti saya siapkan invoice DP dulu, ya. Kalau sudah DP, baru saya kirimkan sketsa kasarnya, alias blue print untuk Mas Haqi pelajari dan setujui desain keseluruhannya," terangku.


"Baiklah, kalau begitu saya minta kartu nama kamu, ya. Jadi untuk selanjutnya kita bisa komunikasi by phone atau email," ucap lelaki itu sembari menyodorkan kartu berwarna hitam dengan tulisan emboss emas di atas meja ke arahku.

__ADS_1


Tentu saja aku harus membalasnya dengan bertukar kartu nama, mengeluarkan kartu namaku sebagai desainer lepas dari dalam kantung kecil tas ranselku. "Hubungi saya ke nomor itu saja, ya, Mas Haqi. Malam ini saya email invoicenya," ucapku lagi sebelum melanjutkan pembahasan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang lelaki itu berikan.


__ADS_2