
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku menghitung dalam hati ketika ponselku berdering dan menampilkan nama seseorang yang enggan ku sebut. Tetapi harus ku sebut untuk kali ini, 'Lian' dan aku sama sekali belum mengganti nama itu dengan nama asli dari si obyek. Ah, sungguh merusak moodku saja, karena malam ini aku harus membuat invoice untuk dikirimkan pada lelaki tampan tadi.
"Halo. Apa?" ucapku ketus ketika mengangkat panggilan dari Aditya.
"Jangan marah terus dong, Yaya. Waktu itu kamu langsung tutup teleponku loh, aku kan bingung harus gimana jadinya. Lagian kan itu cuma nama di akun, dan kamu juga nggak pernah nanyain nama asliku."
"Sudah selesai?"
"Hah?"
"Aku sibuk banget, Li. Eh, Adit. Sibuk banget aku tuh."
"Aku? Ciyeh sudah nggak gue lo lagi. Jadi sekarang kita pakainya aku kamu, ya?"
Aku memutar bola mata jengah, "dih. Biasa aja kali, di kampungku ngomongnya gitu."
"Iya, Yaya sayang. Maaf karena sudah bikin kamu kesal," ucap Adit terdengar tulus.
"Kamu nggak ada di posisiku, jadi enak aja bisa ngomong gitu. Begonya aku bisa cerita apa aja ke kamu, hampir semua tentang aku sudah kamu tahu. Sedangkan kamu nggak pernah cerita apa-apa ke aku. Rasanya kayak dikhianatin," ucapku panjang lebar meluapkan kemarahanku yang sudah tertahan sejak seminggu ini.
"Aku tahu kalau salah, aku nggak ada cerita apapun ke kamu. Karena memang jujur aku lebih milih jadi pendengar untuk semua cerita kamu. Dan kamu sendiri nggak pernah tanya macam-macam tentang aku."
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya aku diam, aku tidak tahu harus berkomentar apa karena apa yang dikatakan Adit tadi adalah benar. Selalu saja aku kalah argumen dengan Adit, apa mungkin karena dia sudah terbiasa melakukannya di ruang sidang. Bahasa yang sistematis, berbeda sekali denganku yang terbiasa adu argumen dengan pekerja lapangan.
"Jangan berpikiran macam-macam, kamu kebiasaan," tegurnya yang sepertinya tahu betul jika aku sedang membentuk sistem imun di otak cantikku ini.
"Okay. Aku salah karena nggak pernah bertanya tentang kehidupan pribadimu dan nama aslimu. Tetapi setidaknya kamu menawarkan diri untuk cerita dong, bukannya diam aja seperti setahun ini. Asli kamu parah," aku masih kesal dan menuangkan seluruh kekesalanku pada Adit yang tidak sepenuhnya salah. Egoku harus menang di sini.
"Baiklah. Maaf, aku yang salah. Harusnya aku lebih peka," ucapnya terdengar kembali melembut setelah sebelumnya dia sedikit menekankan kalimatnya.
"Kapan pulang?" tanyaku dengan ketus.
"Kangen? Hum?" tanyanya bernada menggoda.
"Nggak. Aku nanya doang kapan kamu pulang. Terus itu makasih loh sudah bikin aku malu di kantor, bikin aku diceng-cengin sama orang kantor. Pakai bilang calon suami segala, repot."
"Namanya juga usaha. Nggak ada salahnya lah dicoba, mana tahu kamu luluh dan mau jadi Nyonya Halindra."
"Memangnya kenapa kalau aku lebih muda 3 tahun dari kamu? Nggak masalah juga. Emangnya kamu masalah kalau aku lebih muda dari kamu?" tanyanya terdengar kesal.
"Nggak, sih. Cuma aneh aja," jawabku sekenanya dan membuatku harus mendengar suara geraman dari seberang sana.
"Gimana hari ini?" tanya Adit yang sepertinya enggan melanjutkan pembicaraan kami sebelumnya.
"Menyebalkan karena kamu sudah bikin aku malu di kantor, Tetapi alhamdulillah tadi sore dikasih rezeki sama Allah, ketemu klien ganteng masya Allah."
"Oh. Ganteng banget?" tanyanya yang ku tahu kalau sekarang pasti sedang kesal.
"Woiya jelas. Mantab banget dah pokoknya, selera jiwa," jawabku penuh semangat sembari bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamar tidur untuk mengambil laptop dari dalam ransel.
__ADS_1
Sepertinya malam ini aku tidak ingin mengerjakan pekerjaa di ruang kerja, lebih baik ku kerjakan di kamar tidur saja sembari tengkurap di atas tempat tidur. Nyaman dan empuk. Kalau ngantuk tinggal tidur, bodo amat dengan hal lainnya. Yang paling penting pintu apartemen sudah ku kunci, pintu ke arah balkon juga sudah ku kunci, dan gorden semua sudah ku tutup rapat. Aman. Tidak akan ada hantu yang mengintip.
"Semangat banget kalau ngomongin cowok ganteng, jadi makin minder aku yang punya tampang pas-pasan ini," ucapnya terdengar sedikit mengejek di telingaku.
"Sudah ku bilang, mau mukamu gimana juga ujung-ujungnya jadi bangkai. Nggak usah ngomong aneh-aneh," kesalku sembari menekan tombol power laptop yang sudah ku letakkan di atas kasur, dan sekarang aku sedang memposisikan bantal tepat di bawah daguku. Tujuannya agar tubuhku tertopang dengan baik, walaupun menurut dokter ini sangat tidak baik untuk tulang, tetapi aku membutuhkan posisi ini.
Laptop telah menyala, dan tampilan seluruh aplikasi sudah terpampang nyata di layar. Waktunya menggerakkan jari di atas keypad untuk membuka folder berisi invoice pekerjaan jasa desainku. Biasanya aku hanya menuliskan nilai down payment (DP) pekerjaan saja, tetapi kali ini ku tuliskan seluruh total tagihan yang harus Baihaqi bayarkan. Karena aku tidak ingin membuat orang terkejut dengan nilai yang akan ku berikan kali ini, karena apa yang klienku kali ini minta cukup menarik dan tidak dapat dikerjakan dengan waktu singkat.
"Kamu lagi ngapain, sih, Ya? Kayaknya dari tadi ku dengar di sana riweh banget."
"Nyalain laptop sambil atur posisi tengkurap yang enak buat ngerjain invoice untuk dikirim ke si ganteng tadi," jawabku sekenanya, semoga dia bisa mendengar suaraku dengan jelas karena sekarang panggilan ini ku atur dengan suara keras.
"Ganteng banget, ya? Sampai harus kamu sebut terus itu klien," kesal Adit terdengar jelas dari nada suaranya yang berubah.
"Hmmm, tentu. Biasanya, kan, klienku tuh sudah Bapak-bapak banget atau nggak Ibu-ibu. Kalaupun muda dan ganteng, pasti ada istrinya. Nah, yang ini tampan, mapan, rupawan, dan -astaghfirullah hal adzim otakku," lanjutku dalam hati untuk kalimat yang akhir.
"Kenapa nggak dilanjutin? Dan apa?" tanya Adit penasaran.
"Nggak, salah server."
"Dasar mesum!"
Aku hanya tertawa lepas, ya, mau bagaimana lagi dia cukup tahu banyak tentangku. Termasuk otak liarku setiap kali membahas lelaki tampan, meskipun jarang ku lakukan jika benar-benar dalam keadaan sadar. Karena selebihnya adalah tindakan spontan yang aku tidak bisa kendalikan kapan waktunya keluar dari mulutku. Setelahnya kami hanya berdiskusi perihal kasus yang ditangani Adit di Sumatera sana, dari Adit aku belajar banyak. Karena aku hanya orang awam yang tidak begitu paham akan hukum, struktur yang benar seperti apa, dan teknisnya seperti apa juga kurang paham.
"Nanti aku mau rekomendasikan kamu ke Papa, deh. Mana tahu beliau butuh pengacara untuk dampingin tim legalnya, karena setahuku cuma ada staff yang lulusan hukum. Tetapi nggak ada praktisi hukum seperti pengacara atau advokat atau apalah itu sebagai pendamping."
"Boleh aja, sekalian PDKT sama calon mertua," ucapnya yang membuatku memutas bola mata malas untuk menanggapi.
__ADS_1