Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 9


__ADS_3

Mungkin bagi sebagian orang kehidupanku nyaman-nyaman saja, padahal tidak semua yang mereka lihat itu


sesuai dengan kenyataannya. Terkadang kita hanya perlu menunjukkan sampulnya saja, tidak perlu untuk menunjukkan isinya kepada orang lain yang tidak memiliki andil apapun dalam kehidupan kita. Setidaknya kita sudah mencoba untuk terhindar dari hal-hal yang tidak baik dan hanya membawa dampak negatif pada diri kita secara pribadi. Seperti menjauh dari oknum yang kerjanya hanya membicarakan kehidupan pribadi orang lain seperti Lusi misalnya.


"Lo nggak tahu kalau dia itu simpanan Om-om? Makanya bisa punya apartemen dan mobil beli kontan tanpa ngutang."


Telingaku masih berfungsi dengan sangat baik ketika mendengar ocehan Lusi dari balik pintu toilet kantor yang menjadi markasku pagi ini. Sebenarnya perutku sudah tidak enak sejak semalam, dan rupanya berlanjut sampai sekarang. Aku paham benar siapa yang menjadi obyek gossipnya pagi ini, tidak lain dan tidak bukan adalah diriku sendiri.


"Lo jangan asal ngomong, Lus. Bisa jadi fitnah loh kalau nggak ada buktinya," seseorang menanggapi fitnah Lusi padaku, dan aku tahu kalau itu adalah suara Helda, asisten pribadi direktur utama, Pak Samuel.


"Ih, lo nggak percaya. Alasan aja itu dia punya kerjaan sampingan sebagai desainer lepas, padahal kerjanya ngelepasin pakaian buat ngegoda laki-laki."


Aku sudah tidak tahan lagi. Segera aku membersihkan diri dan menekan tombol flush, tidak lupa mengeringkan


tanganku dengan tisu. ****** banget ini orang, pengen aku cabein aja mulutnya ngomong sembarangan. Dia nggak tahu aja aku rela begadang demi dapat uang tambahan untuk bisa beli apa yang aku butuhkan dan memang aku mau.


"Siapa tuh yang jadi simpanan Om-om? Kepo gue," ucapku ketika membuka pintu toilet dan membuatku melihat wajah panik Lusi dan Helda.


Lusi menatap tidak suka ke arahku, tatapan yang sudah terlalu sering ku terima darinya. Sebenarnya aku tidak tahu


pasti penyebab dia tidak menyukaiku, karena kami berasal dari divisi yang berbeda dan tidak sering berinteraksi. Apa mungkin dia naksir Deden, dan dia jadi benci sama aku karena merasa tersaingi? Tapi bisa saja hal itu terjadi,


kan?


“Belagak suci banget sih, lo, Div. Di kantor ini, kan, cuma lo yang beli apartemen dan mobil cash. Secara yang


lainnya pada ngutang di bank, modalnya nggak cukup banyak kayak lo,” sinisnya sembari menyilangkan kedua tanganya di dada.


Aku berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dengan sabun, enggan menanggapi ucapan Lusi yang menurutku tidak jelas. Buat apa juga aku menanggapi ocehannya yang sama sekali tidak berbobot itu? Toh kenyataanya tidak seperti itu, dan aku tidak suka meluruskan sesuatu yang sudah kusut sejak awal.


“Sombong banget, lo, Div. Baru juga jadi arsitek merangkap gendak, sudah belagu.”


Wah! Nih orang benar-benar cari masalah, mana saksinya Cuma Helda lagi di sini kalau aku mau ribut. Aku

__ADS_1


menggeretukkan gigi atas dan bawahku karena kesal, dan segera mengeringkan tangan dengan tisu sebelum berbalik menghadap Lusi. “Gini aja, deh. Lo ada bukti nggak kalau gue ini simpanan Om-om?” tanyaku penuh percaya diri.


Lusi tampak diam, matanya melirik ke segala arah seperti tengah mencari-cari alasan dan pembenaran atas tuduhanya. Dasar ular keket, nggak tahu diri banget jadi orang. Bukanya kerja, malah tebar berita nggak benar tentang aku. Ini adalah salah satu alasan aku tidak begitu menyukai lingkungan kerja yang banyak staff wanitanya. Terlalu banyak drama dan pembahasan yang tidak penting.


“Nggak punya, kan? Lain kali kalau ngomong nggak usah aneh-aneh, kalau sekali lagi gue denger lo bikin fitnah sampah dengan mulut sampah lo ini. Liat aja, gue cabein,” ancamku sebelum berlalu meninggalkan toilet, tidak lupa ku tabrak dengan sengaja bahunya.


Perempuan berambut gelombang dengan bando kuning di kepalanya itu tidak bisa membalas satupun kalimatku. Punya mulut kok dipakai buat ngomongin pencapaian orang lain dengan pemikiran dia yang picik dan dangkal itu. Kalau mau punya sesuatu, ya, harus usaha dan halal juga baik tentunya. Tujuannya biar berkah dan diridhoi Tuhan. Jangan dikit-dikit berpikiran orang punya ini itu karena jalan pintas seperti jadi simpanan om-om misalnya.


“Kusut bener muke lo,” tegur Baby ketika aku melewatinya yang tengah membuat kopi di pantry.


“Habis ketemu mak lampir di toilet,” jawabku sembari menghampiri Baby dengan bersandar pada pantry counter.


“Ah. Gue tahu, si Lusi berulah lagi? Dia kenapa benci banget sama lo, ya? Heran gue.”


Aku hanya menggedikkan bahu karena juga tidak tahu penyebab utama kebencian Lusi, padahal sejauh ini aku tidak pernah membuat masalah di kantor. Malas banget berurusan sama hal begitu, dan moodku semakin jelek saja setelah melihat pesan masuk di ponsel yang baru saja ku keluarkan dari saku cela jeansku.


Aditya R. Halindra


Aku masih kesal karena semalam dia mengejek bibirku yang berwarna merah, dia bilang seperti disengat lebah. Padahal aku menggunakan liptin agar bibirku lebih lembab dan sehat, malah dijadikannya bahan lelucon. Apalagi moodku masih belum membaik sejak kemarin siang setelah sebuah foto diriku kembali ku terima dari nomor asing itu. Seorang penguntit yang entah maksud dan tujuanya apa, dan hal itu membuatku khawatir dengan keselamatan diriku sendiri.


Sepertinya yang mengirimiku pesan tadi sangat tidak sabaran untuk menunggu balasanku, lelaki itu membuat ponselku mengeluarkan deringan panjang. Membuat perhatian Baby teralih pada layar panggilan yang menunjukkan siapa yang menghubungiku sekarang. Tentu saja Baby tidak tinggal diam, dia menggodaku dengan siulan-siulan tidak jelas.


"Ihiy dihubungin ayang," godanya yang membuatku memutar bola mata jengah.


"Apaan sih?"


"Apa?"


"Salamnya mana, Cantik?"


"Assalamuallaikum, Ya ahli kubur."


"Wa'allaikumusallam. Astaghfirullah hal adzim. Masih mau hidup aku tuh."

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku jutek dan membuat Baby semakin lancar menggodaku.


"Nanti malam bisa, nggak?"


"Nggak bisa. Aku sudah terlanjur ada janji sama klien baru buat ngebahas desain interior villanya di puncak," tolakku yang keadaannya benar seperti itu.


"Padahal berharapnya bisa ketemu kamu sebelum berangkat ke Surabaya besok," terdengar ada nada kecewa dari suara Adit di seberang sana.


"Berangkat ke Surabaya? Ada kasus baru lagi?" tanyaku ingin tahu.


"Iya. Nggak lama, sih. Mungkin sekitar seminggu sudah balik."


"Berangkat jam berapa?" tanyaku penasaran.


"Pesawat pagi, karena mau langsung gelar perkara sama tim."


"Aku meeting sama klien mungkin sejaman, nggak jauh dari apartemen juga. Kita ketemu di kafe di lobby apartemen aku aja, ya. Tahu alamatnya, kan?"


"Tahu. See you this evening, Yaya. Assalamuallaikum."


"See you. Wa'allaikumusallam."


Pada akhirnya aku menuruti permintaan Adit, karena aku tidak tahu kapan lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku cukup tahu jika waktu kerjanya lebih fleksibel daripada waktu kerjaku, tetapi pekerjaan dia jauh lebih tidak mengenal waktu. Jantungku berdegub kencang karena ini akan menjadi pertemuan pertama setelah setahun hanya berkomunikasi melalui sambungan ponsel.


"Eciyeh mau ngedate sama calon suami. Kerja apa, Div?" tanya Baby tidak ingin ketinggalan berita sedikitpun, apalagi berita langsung dari sumbernya.


"Belum jadi calon suami, gue masih berusaha keras buat dowload jodoh yang mau menerima gue apa adanya. Dia lawyer di salah satu firma hukum di kota ini," ucapku sembari menyelaraskan langkah dengan Baby yang berjalan meninggalkan pantry dengan secangkir kopi panas di tangannya.


"Keren. Semoga terdownload dengan benar tanpa buffering, ya."


"Aamiin."


Eh. Barusan aku mengaminkan ucapan Baby? Ini nggak salah, kan?

__ADS_1


__ADS_2