DUA BAYANGAN

DUA BAYANGAN
EPS.13


__ADS_3

LANJUT FLASHBACK


Ketika sudah sampai di depan pintu ruang inap nomor 312, Adel segera mengetuk pintu dan masuk.


Nampaknya Bunga sudah siuman dan terlihat berlinang air mata. Terlihat juga Lala ada disitu bersama orang tuanya.


" Kenapa Tuhan begitu tega, mengambil orang-orang yang begitu sayang dan ketika aku membutuhkan mereka" ucap bunga terisak-isak.



"Haa emang siapa yang meninggal?" Batin Adel.



Adel bertatapan dengan Citra dan mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.



Citra segera menjelaskan apa yang dimaksud bunga.



"Innalilahi wa innailaihi roji'un" ucap Adel tiba-tiba.



Tangis bunga semakin pecah ia tak dapat memungkiri apa yang sedang terjadi padanya.



"Sekarang anterin gue ke rumah sakit ortu gue meninggal" ujar Bunga merengek.



"Iya bung kalau keadaan Lo udah bener-bener membaik" ucap Lala menenangkan Bunga.


"Gue ga mau tau, pokoknya sekarang gue harus kesana" rengek Bunga.


Tanpa basa-basi Bunga segera melepas infus ditangannya dan bangun dari tempatnya berbaring.



Lala dan Citra sempat menahannya tapi energi Bunga seakan berkali-kali lipat terlihat emosi yang terpancar di wajahnya.


__ADS_1


Bunga berusaha untuk keluar dari rumah sakit itu.



Sontak semua orang panik dan mengejar Bunga.



"Bung,Lo mau nekat?" Teriak Citra sambil menggenggam erat lengan Bunga.



Tatapan tajam Bunga membuat orang-orang takut.



"Yaudah kalo Lo emang mau kesana, kita temenin yah, bahaya kalo Lo jalan sendiri" ucap Adel menenangkan Bunga.


Bunga hanya diam tak berkutik, dan mengikuti Adel.


********


Belum sempat Bunga sampai di rumah sakit tempat ortu nya meninggal, ia ditelepon oleh bibinya kalau orang tuanya sudah ada di rumah dan hendak dimakamkan.




"Gimana Bung, siapa yang nelpon lo?" Tanya Lala.



"Kita langsung pulang ke rumah Pak, ngebut!" Ujar Bunga menyuruh pak supir nya.



"Oh iya baik non" jawab laki-laki yang ada di jok depan mobil itu.



"Loh kok langsung ke rumah bukannya kita mau ke rumah sakit?" Tanya Citra keheranan.



Namun Bunga hanya diam,diam membatu.

__ADS_1


*******


Setelah sampai di rumah Bunga semua menjadi paham kalau ternyata orang tuanya sudah ada di rumah.



Bunga segera berlari walau berkali-kali terjungkal karena tak kuat menahan tubuhnya, Ia menangis diatas jasad kedua orang tuanya.



"Yang sabar ya Bung, namanya takdir tuhan itu pasti terjadi, dan Lo harus yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya" ucap Adel sambil merangkul Bunga.



"Tapi kenapa harus mereka yang pergi bersama sedangkan aku disini sendirian" ucap Bunga dengan nada tinggi.



"Gue tau Lo pasti sangat sedih, tapi kan masih ada gue, Lala, Citra, saudara-saudara Lo dan temen-temen semua yang bisa buat Lo bahagia" ucap Adel.



Bunga hanya bisa menangis meratapi kepergian orang yang Ia sayangi.



Setelah pulang dari pemakaman Bunga hanya terduduk diam di sofa ruang tamu sambil melamun.



"Gue juga pernah ngerasain apa yang Lo rasain Bung, tapi gue masih bersyukur Tuhan masih menyisakan seorang ayah yang begitu sayang pada Adel" batin Adel sambil memandangi Bunga.



"Non ini obat dari dokter di minum ya supaya cepat sembuh" ucap pembantu Bunga.



"Aku ga butuh obat-obat ini semua biarin aja aku mati" ucap Bunga sambil menangis.



"Loh non Bunga jangan bilang begitu, nanti papa sama Mama non bakal sedih kalau ngeliat non sedih terus" ucap wanita itu menghibur bunga.


__ADS_1


Namun Bunga kembali diam tak bergeming.


__ADS_2