
Lanjut flashback
Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu.
"Neng?" Ucap pak Tamrin dengan nada keras .
Adel kaget dan membuyarkan lamunannya.
"Eh eh maaf pak" ucap Adel terbata bata.
Pak Tamrin tersenyum "kalau Neng butuh apa apa kamu tinggal panggil aja dikontrakkan nomor 8 situ ya!" Ucap pak Tamrin sambil menunjuk ke deretan rumah kontrakan diujung jalan.
Adel mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.
"Bapak tinggal di gang ini juga Neng!" Ujar pak Tamrin yang mengerti ketidakpahaman Adel.
" iya pak terimakasih,oh iya pak Adel lupa ,ini ongkos ojeknya" sambil mengulurkan beberapa lembar uang kepada tukang ojek itu.
"Terimakasih Neng!" Balas pak Tamrin menerimanya.
Adel segera membuka pintu dan betapa tak disangka,kotornya bukan main,coretan ditembok,meja kursi berlapis debu,lantai yang sudah berganti warna. Ia melihat ke bagian rumah lainnya,seperti kamar tidur,dapur,kamar mandi, namun semuanya nampak sama.
__ADS_1
Adel menuju kamar dan membersihkannya. Entah mungkin lelah atau bagaimana dia tertidur diatas ranjang yang Kumal dan masih berantakan.
****
Malam telah berlalu kini suara burung-burung berkicau tengah memenuhi pendengaran. Badannya yang letih mengoyak enggan bangun, tapi perutnya berkata lain ingin diisi. Dengan sempoyongan ia pergi bebersih ke kamar mandi , lalu kembali ke kamar membuka tas mencari makanan instant yang ia bawa.
Dia bergegas ke dapur dan memasak mie instant untuk mengganjal perutnya yang sudah ramai suaranya. Setelah mandi dia pergi keluar menikmati sejuknya udara pagi yang menenangkan. Ia berniat untuk melakukan jogging keliling kompleks sambil mengenal lingkungan disitu. Setelah mengunci pintu ia bergegas lari-lari kecil ke arah Utara menuju taman kota.
Lima belas menit pun berlalu gadis itu tengah duduk di bangku taman melepas lelah. Tak sengaja ia melihat tukang jualan bubur di pinggir jalan, tanpa basa-basi dia menuju penjual itu dan memesan satu porsi bubur ayam. Dia mengambil tempat duduk dibawah pohon yang rindang di samping cowok yang berkacamata itu.Dilihat dari tampangnya mungkin dia seumuran dengan Adel.
Beberapa menit kemudian bubur ayam itu sudah berpindah ke perut Adel. Ia gelisah ketika merogoh saku celana trainingnya tapi tak menemukan seperser uang pun, dia lupa kalau tak bawa uang.
"Aduh Neng, cantik-cantik tapi mau nipu, ga bisa nanti kabur lagi" ucap Abang tukang bubur itu.
"Nggak bang, saya janji kok ya?" Dengan muka polosnya Adel memelas. "Gimana ya Neng?"ucap lelaki paruh baya itu sambil garuk-garuk kepalanya.
Cowok berkacamata itu berdiri dan membayar satu porsi buburnya dengan uang lebih.
"Sisanya buat cewek lugu itu" ucapnya sambil menunjuk Adel.
"Ih nyebelin banget sih tuh cowok" ucap Adel dalam hati.
__ADS_1
"Emm makasih ya" ucap Adel gugup.
Cowok itu pergi begitu saja tanpa membalas ucapan Adel.
Adel segera pulang untuk menutupi rasa malunya. Ditengah jalan pulang dia melihat sekelompok cowok yang berpakaian modis sedang memainkan lidahnya mengejek satu orang diantara mereka.Adel pun tak menghiraukan mereka.
"Eh,eh kayaknya gue pernah liat cowok itu tadi deh" ucap Adel dalam hati.
Setelah ia amati begitu detail ia ingat dia siapa,"iya,dia kan cowok yang bayarin bubur gue tadi" tebak Adel dalam hati.
Adel pun berjalan mendekati mereka.
"Eh kalian tuh ngapain sih ngomel-ngomel ngehina ga jelas emang hidup Lo udah sempurna apa?" Semprot Adel kepada cowok-cowok itu.
"Eh ada cewek cantik nih boleh kenalan gak?" Ucap cowok yang memakai jaket jeans itu.
"Kenalin gue Vito orang terganteng di dunia" ucapnya dengan angkuh.
Adel tak mengerti apa-apa hanya diam tak meladeni perkataan mereka. Cowok berkacamata ialah yang menjadi bahan ejekan mereka, dia mengode Adel untuk segera pergi tapi Adel tak mengerti hingga cowok berkacamata itu menarik lengan tangannya dan melangkah menjauhi mereka yang tak henti-hentinya mengoceh.
Cowok itu menyuruh Adel pulang dan dia berbelok arah ke timur. Sedangkan Adel masih dilanda ketidakmengertian dalam benaknya. Tapi ia enggan memikirkannya dan ia melesat pulang.
__ADS_1