Dua Jiwa Mengubah Takdir

Dua Jiwa Mengubah Takdir
BAB 11


__ADS_3

Aleister yang melihat Alicia tengah memerah malu tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi lembut adik perempuannya yang sangat menggemaskan. Eilaria masih dalam keadaan syok dan berpikir apa yang terjadi padanya.


"Aleister berhentilah mencubitnya!" tegur Archon dengan nada dingin dan memerintah.


Aleister hanya mencibir pada kakaknya yang tengah iri dan mulai melanjutkan aksinya lagi, hingga pipi Alicia bertambah merah. Ratu Ariana yang melihat kelakuan Aleister hanya tersenyum sembari mendekatkan tangannya untuk bergerak mencubit pipi Aleister.


"Ibu ..." protes Aleister.


"Lepaskan adikmu, Dia baru saja sadar," ucap Ratu Ariana.


"Baiklah ... baiklah ..." kata Aleister menarik tangannya dari pipi Alicia sambil memanyunkan bibirnya. Ratu Ariana mengabaikan anak keduanya yang merajuk, lalu bertanya pada Alicia.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang sakit?" tanya Ratu Ariana dengan penuh kasih sayang.


Eilaria hanya menatap kedua mata bercahaya wanita paruh baya cantik di depannya yang mengingatkan pada kepingan salju, tatapan dingin namun hangat. Saat ingin mengatakan sesuatu, Eilaria berteriak kesakitan.


"Aaaaaaah! ..." sambil memegang kepala untuk menekan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang otak, tubuhnya melengkung ke depan hingga kakinya menempel di dada mencari kenyamanan dan wajah yang kemerahan sebelumnya perlahan menjadi putih pucat.


"ALICIA!" mereka meneriakkan nama Alicia secara bersamaan dengan raut wajah khawatir.


"Cepat panggil Tabib Kerajaan!" perintah Raja Argaleon kepada Pengawal di luar.


"Baik Yang Mulia," ucap Pengawal Kerajaan, lalu menghilang dalam sekejap.


Eilaria tidak menyangka bahwa otaknya telah di sapu oleh badai dan dia dapat melihat secara sekilas di dalamnya badai terdapat kepingan wajah-wajah bergerak yang tidak dia kenal. Saat ingin menyentuhnya, sesuatu seperti fragmen kenangan yang bukan miliknya mulai muncul satu demi satu. Eilaria mulai berjuang tetapi sia-sia dan jatuh pingsan.


.

__ADS_1


.


.


Di alam bawah sadar, jiwa Eilaria yang awalnya terpejam mulai membuka mata. Setelah benar-benar tersadar, dia dibuat terkejut oleh hamparan bunga berwarna putih yang luas tersebar hingga ke kejauhan yang tidak dapat dilihat ujungnya, dan diikuti dengan jatuhnya kepingan salju yang turun perlahan dari langit. Terlihat sangat indah, dia juga tidak merasakan rasa dingin yang menyerang.


Saat dengan puas melihat sekeliling tempat ini, Eilaria tidak sengaja menjatuhkan pandangannya kembali di tengah hamparan bunga di kejauhan, dan mengerutkan kening setelah menemukan sosok berambut putih dengan gaun yang senada dengan warna rambut tengah berdiri membelakanginya.


"Siapa di sana?" tanya Eilaria dengan ragu. Lalu dia terkejut saat mendapati suaranya mulai bergema ke kejauhan.


Sosok yang mendengar seseorang berbicara, mulai membalikkan badan dan memperlihatkan wajah cantik yang bersinar di bawah lautan bunga, seperti Dewi yang terlahir dari Kemurnian yang dingin. Bunga-bunga di sekelilingnya tidak lagi indah jika dibandingkan dengan sosok itu.



*Visual sosok yang dilihat Eilaria sumber Google.


"Saya tahu Anda bukan Alicia," sosok itu tiba-tiba membuka suaranya tetapi tidak menjawab pertanyaan Eilaria.


"Maaf, bolehkah Saya tahu siapa Anda?" tanya Eilaria dengan sopan dan menatap sosok itu dengan takut. Dia berpikir sesuatu yang indah belum tentu hal yang baik.


Sosok itu memperhatikan ketakutan Eilaria dan hanya tertawa kecil, lalu dari kejauhan sosok itu mulai mengangkat tangan kanannya mengarahkan jari telunjuk yang mengembunkan Aura murni dan sedingin es ke arah dahi Eilaria.


Eilaria merasakan rasa dingin tetapi sangat menyegarkan memenuhi jiwanya, seolah luka lama akibat penyiksaan batin yang selama ini terpendam di dalam jiwa telah diperbaiki seutuhnya. Setelah itu, perasaan damai dan tenang memenuhi jiwa secara perlahan, menghilangkan kepanikan dan ketakutan di hatinya.


"Tidak apa-apa, jiwamu hanya lebih cocok dari Alicia untuk menerima kekuatanku," ucap sosok itu mulai berbalik.


"Tunggu sebentar, siapa sebenarnya Anda, Nyonya?" setelah terbangun dari sensasi menyegarkan, Eilaria buru-buru berteriak saat melihat sosok wanita cantik itu ingin pergi.

__ADS_1


"Ladysa Demothria, kita akan sering berjumpa di tempat ini di masa depan, Eilaria," sosok bernama Ladysa itu menghentikan langkahnya dan berbalik sambil tersenyum pada Eilaria.


"Segeralah bangun, mereka yang di sana sedang menunggumu, dan mulai saat ini Kau bukan lagi Eilaria tetapi Alicia Auvamor. Jalani lah hidupmu dengan bahagia di dunia ini," Ladysa melihat ke arah langit sambil tersenyum, lalu kembali menatap lurus ke depan, berjalan ke kejauhan dalam sekejap mata seperti teleportasi.


Mata Eilaria berkaca-kaca, dia sangat tersentuh oleh kata-kata Ladysa, Eilaria membungkukkan badannya sembilan puluh derajat ke arah kepergian Ladysa dengan rasa terima kasih yang tulus, lalu mulai menguatkan tekadnya untuk bahagia. Dia mulai memejamkan mata untuk menenangkan dirinya dan membuka mata lagi melihat ke arah langit sambil tersenyum.


Eilaria perlahan membuka kelopak matanya, memperlihatkan iris emas yang berkilau di bawah sinar matahari yang menyerbu masuk melalui celah jendela kamarnya. Suara-suara yang tidak asing lagi mulai terdengar dengan lebih jelas saat dia mulai memfokuskan kesadarannya.


"Alicia, Kau sudah sadar? Jangan membuat Kami khawatir," ucap Ratu Ariana diiringi anggukan setuju dari tiga lainnya.


Eilaria menatap mereka berempat yang berwajah khawatir dan penuh kasih sayang dengan mata berkaca-kaca. Tidak menyangka menerima perhatian yang nyata setelah dia bangun.


"Maaf Ibu, Ayah, Kakak, Aku telah membuat kalian khawatir," ucap Eilaria sambil menyeka air mata yang ingin meluncur dari sudut matanya.


Raja Argaleon dan Ratu Ariana memeluk Eilaria yang tengah menangis diikuti Aleister dan Archon, hingga Eilaria tertutup erat di tengah. Membuat Tabib Kerajaan terharu melihat keluarga yang penuh kasih di depannya.


.


.


.


Setelah menerima ingatan dari Alicia, Eilaria tahu bahwa mereka keluarganya sekarang akan tetapi terdapat beberapa perbedaan dari apa yang Alicia rasakan dan dirinya. Menurut ingatan Alicia, Ayahnya sangat menakutkan, seolah ingin menjaga jarak dengannya. Ibunya hanya berbicara dengan acuh tak acuh seolah tidak ingin berbicara padanya. Kakak Pertamanya selalu sibuk dan saat menatap dengan wajah tanpa ekspresi, seolah mengatakan pergilah jika tidak penting. Sedangkan Kakak Keduanya tampak murung di setiap kesempatan, Alicia tidak berani mengajaknya bermain.


Eilaria berpikir mungkin karena sifat mereka yang seperti itu sudah tertanam dalam tulang, mereka terbiasa mengekspresikan di luar lingkaran keluarga dan Aura yang tidak menyenangkan terbawa sesampainya di rumah. Dalam suasana hati seperti itu Alicia berpapasan dengan mereka, hingga berlanjut kesalahpahaman yang Alicia terima saat itu.


Lagipula Eilaria mulai bertanya-tanya dengan binggung, apa guna topi jaring hitam yang menutupi hingga pinggang itu. Apakah Alicia bisa melihat jalan dan seseorang yang lewat di depannya?

__ADS_1


Jika Calder tahu isi hati Eilaria, mungkin dia akan bertanya apakah dia benar-benar menerima ingatan Alicia, hingga bahkan tidak mengetahui dunia apa yang dia lewati. Bisa dipastikan membuat Calder yang dingin itu frustasi.


--------------------


__ADS_2