Dua Jiwa Mengubah Takdir

Dua Jiwa Mengubah Takdir
BAB 2


__ADS_3

"Ayo cepatlah...lama sekali!!!" kata sang Ibu yang bernama Lacerna Dawson.


Eilaria maju, mengambil barang bawaan di dalam mobil, menundukan kepalanya takut-takut dan di bawah tatapan jijik mereka, dia berkata, "Kalian sudah kembali, makan siang sudah siap."


Ayahnya Luke Carlton semakin tidak puas dengannya, acuh tak acuh dia berkata "Tidak perlu, kami sudah makan siang di luar."


"Setidaknya beritahu aku sebelumnya." ujarnya pelan. 'Aku tidak perlu memasak makan siang hari ini' Eilaria mengeluh dalam hati.


Lagipula dia juga tidak bisa memakannya tanpa izin mereka, bibi di dapur mengawasinya untuk tidak mendekati dapur saat hidangan sudah matang. Jika keluarganya tidak makan, semua makanan diberikan kepada para pembantu, dan dia tidak akan mendapat makanan. Jika Paman Wilis datang, dia setidaknya akan memberinya roti dan segelas susu.


Paman Wilis adalah kepala pelayan keluarga Carlton dari saat kakeknya masih hidup, dia sangat setia pada keluarga Carlton. Tapi semenjak kakeknya meninggal 5 tahun yang lalu, Paman Wilis jarang berada di rumah. Di keluarga Carlton hanya Paman Wilis lah yang sangat baik padanya.


Lilith yang mendengarnya tertawa meremehkan dan sebelum dia sempat berbicara, dia melihat sang Ibu membanting tas mewahnya di atas mobil dan menghampiri Eilaria lebih dulu.


Lacerna dengan kesal datang mendekat dan menarik kasar dagu Eilaria ke atas hingga saling berhadapan satu sama lain. Dia mencengkeram dengan kuat hingga kukunya yang tajam menempel dengan erat di dagu Eilaria, lalu dia berkata "Katakan itu sekali lagi..."


Eilaria tidak mendengar ucapan Ibunya, dia hanya merasakan cengkeraman di dagunya menjadi semakin kuat. Meskipun dia sudah terbiasa, rasanya tetaplah menyakitkan.


"Bukannya kau tadi sangat berani? Mengapa tidak menjawab sekarang, ayo katakan lagi...Ibu menunggumu mengatakannya..." kata-kata lembut itu tidak sesuai dengan wajah kejam yang ditampilkan sang Ibu di hadapannya.

__ADS_1


"Ampun Ibu...aku tidak berani..." Eilaria menatap dengan ngeri dan hanya bisa memohon sambil menangis, memegangi tangan Lacerna yang mencengkeram dagunya. Jika dia menjawab perkataan sang Ibu, siksaan yang dia terima akan lebih berat dari ini.


Belum sempat Lacerna menampar wajah Eilaria. Luke sudah melihat Lacerna dengan tidak sabar dan berkata, "Apa yang kau lakukan, cepatlah masuk ke dalam...!!! Jangan membuatku kehilangan muka di sini...!!!" dengan raut wajah yang buruk, dia memalingkan muka dari Eilaria, menunggu Lacerna di depan pintu masuk.


Lacerna yang melihatnya, buru-buru menghempaskan Eilaria hingga terjatuh, tidak lupa mengambil tas mewahnya di atas mobil, membersihkan kotoran yang tidak ada di tasnya, lalu berjalan cepat menghampiri Luke di depan pintu. Meletakkan tangannya di lengan Luke sambil mendengus kesal.


"Kenapa kesal, suasana hatiku juga sedang buruk sekarang, lanjutkan saja di dalam rumah." ucap Luke kepada Lacerna. Dia juga sangat kesal hari ini, negosiasi bisnisnya dengan keluarga Carter gagal. Suasana hatinya yang buruk menjadi lebih buruk.


Lacerna yang mendengarnya menatap Luke sambil menyeringai dan dalam suasana hati yang baik, dia berjalan masuk ke dalam rumah.


Suara Luke tidak keras, tapi masih bisa terdengar dengan jelas.


Merasakan firasat buruk di hatinya, saat melihat seringai yang perlahan muncul di wajah kecil Lilith. Eilaria dengan cepat menegakan tubuhnya, tapi sayang dia terlambat beberapa detik, Lilith sudah melemparkan tas belanja berat ke tubuhnya hingga dia jatuh terjungkal ke tanah.


Tertawa senang melihat Eilaria jatuh terjungkal dan dengan arogan dia berkata, "Bawa semua barang-barang itu masuk ke kamarku...jangan sampai tertinggal satu pun!!!" sambil berjalan melewatinya.


Eilaria hanya diam dan ingin mengambil tas belanja yang berserakan, tapi dari sudut matanya dia melihat Lilith yang sudah melangkah pergi, berhenti dan berbalik ke arahnya sambil tertawa, dengan sengaja menambahkan kalimat, "Nah, bersiaplah dengan hadiah yang akan diberikan Ibuku padamu...hahahaha..." yang mengingatkan Eilaria pada kata-kata Luke sebelumnya. Dia tahu bahwa yang di maksud kata 'hadiah' itu adalah hukumannya.


Setelah memberitahu Eilaria, Lilith dengan arogan mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan melipat tangannya di depan dada, melenggang masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Setelah kepergian Lilith, Eilaria melihat Lyle yang tertinggal di belakang, yang diam menonton dari awal sampai akhir.


Lyle juga melihat perbuatan orang tuanya dan Lilith pada Eilaria, tapi dia tidak berniat ikut mengejek atau membantu Eilaria, dia hanya berjalan melewatinya, mengibaskan pundaknya yang tidak kotor dan masuk ke dalam rumah, seolah tidak pernah melihatnya.


Melihat sikap saudara laki-lakinya yang seperti itu, Eilaria tidak banyak berharap. Lagipula keluarga ini sudah menghitam dari akar, apa yang diharapkan darinya.


Eilaria menghela napas dan bangun perlahan mengambil tas belanja Lilith. Menyentuh dagunya yang nyeri, 'Pasti akan lebih menyakitkan lagi nanti' batinnya.


Jika dalam suasana hati yang buruk mereka akan melampiaskan kemarahan padanya. Eilaria berusaha menenangkan tubuhnya yang bergetar sejenak, sebelum dia berjalan dengan perlahan membawa barang-barang di tangannya masuk ke dalam rumah, dan menghadapi hukuman yang akan dia terima.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2