
Di ruang dan waktu yang berbeda, tepatnya dimana Alicia atau sekarang yang kita sebut Eilaria berada, tengah duduk santai di sofa ruang tamu sambil menikmati minum teh dengan tenang dan elegan. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang tengah duduk di hadapannya, mereka terlihat menunjukkan wajah kejam dan suram yang bermaksud menakut-nakuti tetapi malah terlihat sangat lucu bagi Eilaria, karena wajah sombong mereka semua babak belur bahkan ada yang kaki dan tangannya patah.
"****** kecil, apa yang kau lakukan pada kami?!" teriak orang yang kaki dan tangannya patah atau kita bisa memanggilnya Luke dengan wajah kejam.
"Saya tidak melakukannya." Eilaria mengangkat salah satu alisnya menatap mereka dan dengan acuh tak acuh menjawab. Apakah mata mereka buta? Meskipun dia sangat ingin memukul orang-orang ini tetapi mengingat tubuh kurus 'Eilaria' yang bahkan tulangnya bisa terlihat, di mana ada energi untuk memukul mereka.
"Kau sudah berani berbohong, lalu siapa lagi jika bukan dirimu!" hardik Lucerna sambil menunjuk wajah Eilaria dan dengan salah satu tangan memegangi pipinya yang sakit dan bengkak.
Lilith yang pipi kanannya terdapat luka miring ke atas seperti tergores benda tajam mengompori dari samping sedangkan Lyle yang duduk di kursi roda karena pergelangan tangan dan kakinya patah, mengerutkan kening dengan jijik ke arah Eilaria. Eilaria hanya mengangkat bahunya tidak peduli dan ingin menjawab lagi tetapi di sela oleh ucapan seseorang.
"Aku yang melakukannya, ada masalah?" tanya seseorang yang keluar dari balik bayang-bayang anak tangga.
"Wilis! Apa yang kau maksud dengan semua ini?!" Luke awalnya terkejut seseorang tiba-tiba muncul tetapi setelah tahu itu Paman Wilis, Luke berteriak marah.
"Paman Wilis?" Eilaria mengerutkan kening, sepertinya seseorang yang pernah disebutkan 'Eilaria' sebelumnya. Lalu dia menatap Paman Wilis dengan teliti dari atas ke bawah.
Merasakan seseorang menatapnya dengan tajam seolah dapat mengupas kulitnya di detik itu juga membuat Paman Wilis terkejut dan merinding, lalu dengan cepat menoleh ke arah tatapan tersebut. Eilaria yang melihat Paman Wilis menoleh ke posisi dia duduk, segera menarik pandangan matanya, lalu dengan tenang menyesap tehnya lagi.
'Apa hanya perasaanku saja?' batin Paman Wilis seraya menyentuh dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdebar.
"Ehmm ..." berdehem dengan keras, Paman Wilis mulai menstabilkan posturnya, dengan melotot menatap Luke dan yang lain secara bergantian.
"Apakah Kalian pikir Aku tidak tahu, hal-hal apa saja yang telah Kalian lakukan pada Eilaria selama ini?!" teriak Paman Wilis dengan urat-urat yang sudah menonjol di kepalanya, pertanda dia marah.
__ADS_1
Luke dan yang lain saling menatap dan dengan panik mengelak dari tuduhan Paman Wilis. Lalu melayangkan tatapan tajam ke arah Eilaria. Mereka berpikir bahwa Eilaria yang mengadu pada Paman Wilis.
"Di mana buktinya, jika kami telah melakukan sesuatu yang buruk padanya?" ucap Luke kembali tenang.
"Buktinya? Ada sebuah ruang kecil yang jaraknya tidak jauh dari tangga lantai dua. Saya bisa memanggil polisi untuk memeriksa beberapa hal yang tertinggal dari tubuh Saya di sana. Tidak mungkin Anda bisa menghapus sepenuhnya jejak penyiksaan terhadap Saya selama bertahun-tahun itu," Eilaria menyela perkataan Paman Wilis, menatap orang-orang di depannya dengan dingin.
Eilaria tahu ruangan itu dari ingatan 'Eilaria' dan tentang Polisi dia juga mengetahui jika dunia ini berada di bawah hukum, jika terdapat pelanggaran moral Polisi ini yang bertindak.
Luke dan yang lain bertambah panik, bahkan Lyle yang acuh tak acuh pun mulai berkeringat dingin. Lilith yang tidak mengetahui situasinya ingin datang memukul Eilaria tetapi dihentikan oleh Lucerna.
"Dasar ****** kecil, atas dasar apa Kau melapor pada Polisi, Kau bahkan bukan anak Ayah dan Ibu, jadi apa yang ingin kita lakukan bukan terserah padamu!" teriak Lilith dengan wajah garang, tidak menyadari wajah keluarganya sudah memucat.
Lucerna yang pucat segera menutupi mulut Lilith, setelah menerima tatapan kejam dari Luke. Dia mulai mengutuk kebodohan Putrinya dalam hati.
"Kau sama sekali bukan Adikku, Kami tidak ada hubungan darah! Ibu berkata bahwa Kau adalah pembantu di rumah kami!"
Lilith yang sudah diliputi rasa marah, di tambah Aura Hitam yang masuk ke dalam otak, membuatnya seperti orang yang kehilangan akal sehat. Tangan Lucerna yang menutup mulutnya pun di gigit oleh Lilith.
"Akh ...!!! Lilith, bagaimana bisa kau melakukan ini pada Ibu?!" Lucerna mengerang kesakitan dan wajahnya tampak syok, karena dia tidak menyangka Putri yang selama ini dia sayangi, berani menggigit tangannya hingga berdarah.
"Apa yang kau lakukan Lucerna! Segeralah tutup mulutnya!" perintah Luke dengan kesal, tidak peduli dengan luka di tangan Lucerna.
Lucerna hanya menggertakkan giginya dan terpaksa mendekati Lilith dengan mata merah.
__ADS_1
Paman Wilis terkejut dengan pemandangan ini dan dengan hati-hati menatap Eilaria yang hanya terduduk diam sambil menundukkan kepalanya. Jantung Paman Wilis kembali berdetak cepat setelah melihat Eilaria seperti itu, merasa bersalah karena menyembunyikan kenyataan pada Eilaria.
Eilaria yang tengah menunduk dan disalahpahami oleh Paman Wilis bahwa dia sedang sedih tetapi pada kenyataannya dia tengah menyelidiki emosi yang mengalir dari beberapa orang di ruangan ini. Dia akhirnya tahu bahwa orang-orang yang ada di sini, termasuk para pelayan yang tengah menguping juga mengetahui asal usulnya yang bukanlah anak dari Keluarga Carlton. Melihat wajah tenang mereka yang tidak terkejut dengan apa yang dikatakan Lilith.
"AHAHAHAHAHAHAHA ..." tawa Eliaria, sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa berlebihan. Menyeka air mata yang tidak sengaja keluar dari matanya, dia mulai menghentikan tawa itu dalam sekejap, lalu berdiri menatap dengan ganas kepada mereka.
Aura Hitam yang di tahannya sedari tadi menguar dengan lebat, menyebabkan mereka yang ada di sana merasa kesulitan bernapas.
"BERANINYA KALIAN MENIPUKU SELAMA INI!" Eilaria dengan marah meningkatkan ketebalan Aura Hitam hingga membumbung ke langit, menciptakan awan gelap dengan sambaran petir.
.
.
.
Paman Wilis tidak terkena dampak dari Aura yang dikeluarkan Eilaria berkat amulet yang diberikan Tuannya ledakan Aura itu hanya membuat Paman Wilis mundur selangkah. Hawa keberadaan tidak menyenangkan yang menyelidikinya tadi benar-benar berasal dari arah Eilaria yang sedang duduk santai di sofa. Mengingatnya membuat Paman Wilis merinding.
Semenjak dia kembali seminggu yang lalu, Eilaria yang biasanya tampak ceria dan tersenyum menyambutnya saat baru saja kembali hanya meliriknya sekilas dan berjalan dengan gaya elegan memasuki kamar tidur. Waktu itu, dia ingin memberitahu Tuannya tentang Eilaria tetapi setelah berulang kali memikirkannya, akhirnya memutuskan untuk mengamati Eilaria lebih dulu. Berpikir bahwa Eilaria disiksa lagi oleh mereka dan sedang sedih dan tidak ingin diganggu, dia hanya menganggapnya sepele.
Sejak saat itu, hal-hal aneh mulai terjadi, para pelayan yang biasa mengejek dan mencemooh Eilaria di belakang punggungnya, selalu gemetar ketakutan saat Eilaria datang mendekat seolah nyawa mereka dipertaruhkan dan dengan gesit mulai melayani Eilaria dengan patuh. Ke empat orang yang membuatnya marah itu juga sudah di rawat oleh Dokter Pribadi Keluarga Carlton, akan tetapi, tampaknya mereka selalu tidak beruntung akhir-akhir ini, setelah dia memukuli mereka.
*Aku akan segera menghubungi Tuan Latimer, aku tidak menyangka masalahnya bertambah serius melibatkan sihir*, pikir Paman Wilis dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
*******