Dua Jiwa Mengubah Takdir

Dua Jiwa Mengubah Takdir
BAB 5


__ADS_3

Alicia menarik napas perlahan, menenangkan sebagian rasa tidak nyaman di hati dan fokus kembali untuk menyelaraskan jiwa dengan tubuh Eilaria.


.


.


.


Keesokan paginya,


Eilaria yang tertidur nyenyak, mulai mengerutkan kening dan membalikkan badannya terlentang untuk menghindari sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela.


Mata yang terpejam itu pun menampilkan mata bulat setengah terbuka, dengan sebagian iris abu-abu yang tampak sedikit berkabut dan berair. Eilaria segera mengerjapkan matanya berulang kali, hingga air mata jatuh ke pipinya. Dia segera menghapusnya menggunakan lengan pakaian, lalu berusaha mengendalikan fokus penglihatannya, menatap lurus ke arah depan dan merasakan bahwa jarak pandang mata antara dia dengan langit-langit kamar, tampak lebih dekat daripada saat dirinya masih sebuah boneka.


Alicia pun mulai memastikannya dengan merentangkan salah satu tangan di depan wajah. Dia dapat dengan jelas melihat punggung tangan kurus Eilaria.


"Sepertinya aku berhasil." ujarnya. Alicia mulai menggerakkan jari-jari tangan, kaki dan kepalanya yang kaku, lalu bangun perlahan.


Dia mencubit pangkal hidungnya untuk meredakan rasa pusing yang menyerang secara tiba-tiba.


Dan setelah sedikit terbiasa, Alicia melirik boneka yang berada di atas tempat tidur dengan tenang, mengambil dan melihatnya dengan saksama.


Setelah selesai memeriksa dengan teliti, Alicia begitu terkejut mendapati bahwa boneka 'Alicia' itu adalah tubuhnya sendiri. Pakaiannya juga sama persis dengan yang terakhir kali dia pakai.


Dan selama jiwa Alicia berada di dalam tubuh boneka, dia sempat berpikir bahwa penyihir itu telah memindahkan jiwanya ke suatu 'Benda', lalu menyegel 'Benda' tersebut dengan Aura Emas yang dilihatnya tadi. Lalu menggunakan tubuhnya untuk menyebarkan kejahatan atas namanya. Tetapi fakta yang terjadi saat ini tidak terlihat seperti apa yang ada di pikirannya.


'Sebenarnya apa tujuan dari penyihir itu??? Mengatakan bahwa dia adalah jiwa yang ke-100. Apakah penyihir itu sedang membuat lelucon padanya..!!!'

__ADS_1


Alicia memeriksa lagi boneka itu, memastikan untuk kesekian kali bahwa ini benar-benar tubuhnya. Dia menghela napas lega, setidaknya penyihir itu belum sempat menyalahgunakan tubuhnya. Dan dalam kasusnya ini, faktor keberuntungan mungkin sedang baik saat itu.


Tetapi Alicia tidak tahu bahwa kata dengan tinta emas bertuliskan 'Alicia' di belakang leher boneka, telah menghilang setelah jiwanya keluar dari tubuh boneka.


Karena Alicia sudah mendapatkan kembali kesadarannya, dia mulai berpikir dengan enggan bahwa dia tidak ingin kembali lagi ke tempat gelap dan suram itu.


Lalu mengedarkan pandangan melihat perabotan kamar sederhana di sekelilingnya, Alicia yang tidak tahu barang-barang itu pun merasa sangat unik.


'Lagipula tempat ini sangat berbeda dari tempat asalku'. Batinnya terpesona.


"Untuk saat ini, aku tidak memiliki keinginan untuk kembali lagi ke sana." ucapnya acuh tak acuh.


Alicia bertekad tidak mau menyerahkan kebebasannya dan dia mulai mencari ide untuk solusinya.


Setelah memutar otak begitu lama, Alicia menemukan ide yang sangat cemerlang. Idenya adalah, jika dia mengikuti cara penyihir itu melemparkan boneka ke dalam danau yang sama ketika dia ditemukan, dia pasti mendapatkan lebih banyak ketenangan pikiran. Dia juga tidak perlu khawatir sepanjang hari jika suatu saat nanti jiwanya akan kembali ke dalam tubuh boneka itu.


Jika hal itu sudah terjadi, Alicia hanya akan meminta maaf pada tubuh yang dia tempati.


Lalu dengan tenang memilah-milah ingatan Eilaria, dia akhirnya mendapatkan informasi dimana letak danau ditemukannya boneka itu yang ternyata tidak jauh dari rumah Eilaria. Dia juga sudah mengetahui bahwa gadis kecil ini bernama Eilaria.


Dia belum seutuhnya menyerap fragmen memori Eilaria, dan yang ada di pikirannya saat ini adalah ide cemerlang yang akan dia gunakan nanti.


Alicia berdiri dari duduknya lalu mengerutkan kening, menyadari ada yang tidak beres dengan tubuh Eilaria, sebab tubuh ini terlalu kurus dan pendek untuk usia anak 10 tahun. Jika dilihat lebih jauh lagi, pakaian besar yang dikenakannya juga tampak tidak sesuai dengan ukuran tubuh saat ini.


Ciri-cirinya juga tampak sangat mirip dengan budak kecil yang dia lihat saat melewati kota Gloomrest bersama Ibunya.


Lalu dia berpikir untuk menaikan berat badannya nanti, menjaga asupan nutrisi dan lain-lain. Untuk membayar rasa terima kasihnya.

__ADS_1


'Tubuh ini terlalu rapuh, jika dia bisa berlatih Mana Sihir di sini, itu hal yang baik..' batinnya merasa sangat disayangkan. Dia bisa mencobanya nanti, tidak perlu terburu-buru.


Alicia tidak terlalu memikirkannya dan mulai menata rambut dan pakaiannya yang berantakan.


Alicia yang belum terbiasa dengan tubuh Eilaria, sepertinya belum menerima efek samping dari pemukulan yang di terima Eilaria selama ini.


Alicia mulai sibuk menjalankan rencananya hari ini. Karena efek Aura Hitam, sangat tak tertahankan bagi orang biasa, maka jangka waktu untuk sadar kembali hanya terbatas sampai jam 12 siang nanti. Meskipun masih ada banyak waktu, Alicia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang bagus. Alicia fokus menyembunyikan boneka 'Alicia' di dalam pakaiannya. Mengambil pita berwarna merah yang dilihat di atas meja dan mengikatkan pita itu di pinggangnya agar boneka tidak jatuh, lalu dengan elegan berjalan ke arah pintu kamar, menutupnya dengan perlahan.


Menoleh ke kanan, kiri dan belakang memastikan bahwa di koridor tidak ada orang lain selain dia, Alicia menghela napas lega lalu melanjutkan perjalanannya ke pintu depan dengan elegan.


Beberapa saat ketika dia berbalik menuju pintu keluar, Paman Wilis muncul dari belokan koridor dan ingin datang menghampirinya, tetapi Paman Wilis menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, saat melihat Eilaria berjalan layaknya putri-putri dari keluarga kaya kelas atas. Bahkan dengan pakaian seperti itu tidak menutupi pancaran aura elegannya.


Oh iya, Paman Wilis baru saja tiba pagi ini, jadi dia tidak terkena efek Aura Hitam Alicia.


Alicia juga tidak menyadari tatapan berbagai macam ekspresi yang dilayangkan Paman Wilis padanya.


'Apakah Eilaria salah minum obat hari ini? Sejak kapan dia berlatih gaya berjalan anak-anak kelas atas? Juga ada apa dengan sikapnya yang lebih tenang dan acuh tak acuh itu...?' batinnya bertanya-tanya dalam hati.


'Pasti telah terjadi sesuatu kemarin, saat aku tidak berada di Rumah..!!!' batin Paman Wilis sambil mengerutkan kening dengan marah. Tidak jadi menghampiri Eilaria, tapi berbalik menuju ruang kerja Luke di lantai dua.


Karena dialah yang paling tahu Eilaria sejak dia masih bayi, maka dia juga mengetahui perlakuan tidak menyenangkan keluarga Carlton padanya.


Saat dia tidak berada di rumah, orang-orang kejam itu pasti akan mengambil kesempatan untuk menyiksa Eilaria lagi.


Dan mengapa mereka tidak berani melawannya, padahal dia hanya seorang kepala pelayan? Itu karena sebelum meninggalnya Tuan Louis Carlton, beliau meninggalkan wasiat untuk menyerahkan 20% saham perusahaan padanya, dan hanya meninggalkan 10% untuk putra satu-satunya Luke Carlton. Bisa dikatakan, dulu dia adalah orang kepercayaan Tuan Louis.


Dulu dia ingin membawa pergi Eilaria, tapi Eilaria kecil tidak mau ikut dan berkata dengan polosnya,

__ADS_1


"Rumahku ada di sini, aku tidak ingin pergi kemana pun, rumah itu tempat tinggal untuk keluarga, jika aku pergi, mereka pasti akan sedih."


Waktu itu dia ingin berteriak pada Eilaria bahwa " Yang disebut rumah olehnya itu tidak layak jika di pasangkan dengan rumah keluarga Carlton..!!!" Tapi dia menahan diri untuk tidak mengatakannya karena Eilaria terlalu kecil untuk mengerti. Dari saat itu dia tidak lagi mencoba membujuk Eilaria untuk pergi, dan hanya bisa melindunginya.


__ADS_2