Dua Jiwa Mengubah Takdir

Dua Jiwa Mengubah Takdir
BAB 6


__ADS_3

Alicia sudah berada di luar rumah, mengedarkan pandangannya ke halaman keluarga Carlton, lalu berjalan menuju ke arah danau.


Saat melihat arah samping rumah matanya tidak sengaja menangkap kendaraan yang di sebut mobil itu dengan rasa penasaran. Dia mulai menyentuh badan mobil dan mengetuknya dengan pelan.


"Sebuah Logam? Apakah pengguna Elemen Logam ada di sini? Lalu bagaimana benda ini digerakan?" Setelah memastikan ingatannya, bahwa Eilaria juga belum pernah menaiki benda ini.


Di dunia asalnya, ada juga kendaraan yang digunakan sehari-hari, tetapi itu adalah Kereta Binatang Buas. Kereta itu digunakan oleh kaum Bangsawan atau orang biasa untuk melakukan perjalanan santai atau berbisnis.


Mereka juga dapat berpindah tempat sesuka hati menggunakan sihir teleportasi, tetapi karena penggunaan sihir tersebut menghabiskan banyak Mana, mereka hanya dapat menggunakannya pada saat-saat kritis atau terjadi hal-hal penting saja.


Maka dari itu, Kereta Binatang Buas masih menjadi favorit di kalangan para Penyihir dan Bangsawan, bahkan ada yang dimodifikasi seindah mungkin untuk mencuri pusat perhatian atau hanya untuk pamer.


Setelah memuaskan rasa ingin tahunya, Alicia kembali tenang, lalu dengan cepat memalingkan muka dan berlari menuju ke arah danau. Tetapi jika kalian melihat lebih dekat, muncul semburat samar berwarna merah di pipinya. Alicia tampak malu karena terlalu asik meneliti dan hampir melupakan tujuannya.


.


.


.


.


.


Setibanya di lokasi, Alicia tampak bersandar pada batang pohon terengah-engah kehabisan napasnya. Dia tampak mengepalkan tangan dan mulai bertekad untuk memperbaiki kondisi memprihatinkan tubuh Eilaria.


Setelah beberapa saat pernapasannya kembali normal.


Alicia berjalan kearah tepi danau, lalu mengeluarkan boneka dari dalam pakaian dan mengangkat boneka ke hadapannya. Tetapi menyadari bahwa apa yang dia lihat, membuat mata bulat itu melebar tak percaya dan dengan cepat dia menurunkan boneka dari garis pandangnya.


Alicia maju selangkah demi selangkah melihat lebih jauh ke arah danau.


"Danau ini, kenapa sama persis dengan Danau yang ada di dunianya...??? Apa yang sebenarnya terjadi di sini..." sambil mengerutkan kening, dia memilah ingatannya sendiri dan hanya bisa mengaitkan jawaban dengan informasi yang dia dengar waktu itu.


"Apakah ini percobaan yang dilakukan oleh Tuan Helion???" bertanya-tanya dengan bingung.


Informasi yang ditemukan dalam ingatannya yaitu tentang Percobaan Besar yang pernah dilakukan oleh Penyihir Tingkat Tinggi Termuda dalam sejarah Kerajaan Alastrine, Calder Helion.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Tuan Helion bersama rekan-rekannya, dikabarkan tengah melakukan percobaan 'Penghubung Antar Dimensi' yang pada saat itu mendapatkan apresiasi dari semua kalangan.


Namun, setelah mencapai tahap akhir penyelesaian, kegagalan terjadi pada saat uji coba dilakukan. Disebabkan oleh penghianatan yang dilakukan rekannya, Calla Graeme pada waktu itu.


Masalah percobaan gagal itu sudah biasa, tetapi yang membuatnya tidak biasa adalah sosok yang menjadi sukarelawan dalam percobaan ini, yaitu Guru Tuan Helion sendiri, Kepala Akademi Sihir Galahad Latimer. Dikatakan bahwa kekuatannya bisa sebanding dengan Raja Alastrine, yaitu Argaleon Auvamor.


Alicia menerima informasi dari salah satu anggota Persatuan Penyihir yang terlibat dalam insiden itu. Pada saat situasi kacau tersebut, para Tetua Persatuan Penyihir dan Raja Argaleon tengah bekerja sama membentuk penghalang sihir yang kuat untuk mencegah dampak dari Mana yang melebihi kapasitas dan menyebar ke tempat yang luas.


Sebagian besar orang di sana juga menghalangi Tuan Helion yang kehilangan akal sehat untuk menyelamatkan sang Guru dan mencegahnya mendekati alat magis. Jadi mereka tidak memperhatikan bahwa Calla Graeme telah melarikan diri.


Setelah berjuang selama 5 jam, Kepala Sekolah Latimer tiba-tiba menghilang bersamaan dengan runtuhnya alat magis. Sejak saat itu, mereka menyegel tempat dilakukannya percobaan tersebut.


Mereka sudah menggunakan berbagai cara untuk menemukan Kepala Sekolah Latimer, tetapi tetap tidak ada hasilnya.


Raja Argaleon yang murka pun segera mengerahkan penduduk Kerajaan dan koneksinya untuk mengejar Penyihir Calla Graeme dengan imbalan yang sangat tinggi dan hingga saat ini, orang itu masih menjadi buronan di seluruh dunia asalnya.


Tidak ada yang menyalahkan Tuan Helion, karena mereka tahu dialah yang paling merasa bersalah atas kejadian tersebut.


Selama dia berada di dunia asalnya, belum ada satu pun berita seseorang pernah mengunjungi menara Tuan Helion.


Kehilangan sosok kuat dan dihormati oleh seluruh dunia, sampai saat ini masih meninggalkan duka dan penyesalan di seluruh Kerajaan Alastrine.


.


.


.


.


.


Saat Alicia ingin melemparkan boneka itu ke danau, Eilaria yang tengah tertidur mendapatkan kembali kesadarannya akibat guncangan yang dilakukan Alicia.


Dia mulai panik dan berteriak saat melihat tubuh dan wajah yang akrab muncul di hadapannya,

__ADS_1


"Bukankah itu aku, siapa kamu...?! Apa yang kamu lakukan pada tubuhku...?!!" marah Eilaria.


Alicia menghentikan gerakannya dan berkata, "Aku hanya ingin menyelamatkanmu dan orang-orang itu..." dia mengerutkan kening tampak ragu, tapi tetap melanjutkan kalimatnya, "Ingin membunuhmu..." dengan wajah serius, padahal dia hanya berbicara omong kosong.


Eilaria yang mendengarnya tampak terkejut dan muncul keraguan dihatinya. Eilaria ingin membantah bahwa mereka tidak begitu, tetapi dia segera diingatkan oleh sesuatu bahwa mungkin perkataan Eilaria itu benar dan dengan cepat memutar ingatan-ingatan menyakitkan yang dilakukan mereka semua selama ini padanya. Dia terdiam sejenak lalu berkata,


"Aku mengerti..." Sambil menatap wajah Eilaria di hadapannya, dia melanjutkan,


"Jika mereka ingin menyakitimu balaslah dendammu pada mereka saja dan tolong jangan menyakiti atau membenci Paman Wilis, Dia adalah satu-satunya orang yang paling berharga yang aku miliki di dunia ini." Eilaria mengingatkan pada Alicia, karena dia sudah menerima kematiannya. Tetapi dia ingin egois sekali saja, untuk melindungi orang yang dia sayangi.


Alicia yang yang sensitif pada emosi merasakan kesedihan Eilaria dan merasa bersalah.


"Baiklah..."


"Oh iya, meskipun hanya sesaat kita bertemu, setidaknya, bolehkah aku tahu siapa namamu?" tanya Eilaria dengan tersenyum ramah.


"Alicia...Alicia Auvamor". Ucap Alicia, awalnya dia tidak ingin mengucapkan nama lengkapnya, tetapi karena gadis kecil ini sangat tulus dia tidak keberatan.


"Alicia Auvamor...???" tanyanya. Karena Alicia tidak menjawab.


"Alicia... "


Dia pura-pura tidak mendengar, lalu melemparnya dengan cepat.


Byuurrr....


"Alicia, nama yang indah...senang bertemu denganmu." ucap Eilaria untuk terakhir kali pada Alicia.


Alicia membelalakan mata, lalu menghadap ke langit, tetapi tidak mencegah setetes air mata yang mengalir turun ke pipinya, lalu berkata,


"Eilaria juga nama yang indah, senang bertemu denganmu juga." dengan nada lembut sambil tersenyum dengan tulus untuk pertama kalinya. Baru saat ini lah Alicia merasakan perasaan senang dan bahagia, karena Eilaria mengatakan hal yang paling ingin di dengarnya, yaitu perasaan berkenalan dengan seorang teman.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, kegembiraanya berangsur-angsur lenyap setelah mengingat hal yang telah dia lakukan. Terduduk di rumput, dia mulai berkata, "Maafkan aku Eilaria, semoga di kehidupan selanjutnya, aku bisa membalas kebaikanmu." lalu menghapus kasar air mata dengan lengan pakaiannya, berdiri dengan teguh.


"Mulai saat ini aku akan menjadi Eilaria Carlton." ucap Alicia, memancarkan Aura Gelap di sekeliling tubuhnya, lalu berbalik pergi.

__ADS_1


Alicia tidak menyadari munculnya setitik cahaya putih dengan Aura Emas yang berkedip secara berkala di balik Aura Gelap padat yang mengelilingi, lalu menghilang dengan cepat di kedalaman jiwanya'.


__ADS_2