Dua Jiwa Mengubah Takdir

Dua Jiwa Mengubah Takdir
BAB 14


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan sang kakek tentang nama dan usia gadis kecil itu, Raymond membandingkan apa yang dilihatnya, lalu mengangguk setuju. Apa yang diucapkan kakeknya memang benar, bahwa gadis kecil itu terlalu kurus untuk anak perempuan usia 10 tahun dan Keluarga Carlton itu memang bukanlah hal yang baik.


Saat itu, Raymond segera membatalkan niatnya untuk bertemu Eilaria. Selama ini, dia tidak memiliki teman dan tidak mengerti topik pembicaraan yang menarik di kalangan anak-anak seusianya. Kata-kata acuh tak acuh yang keluar dari mulutnya, membuat dia takut melukai hati rapuh Eilaria.


Raymond yang sedang bergelut dalam pikirannya berbalik menatap mereka, lalu dengan nada datar berkata, "Keluarga Carlton tidak seperti apa yang dikatakan oleh rumor."


"Sungguh? Ray, menemukan sesuatu?" tanya Reyanna dengan antusias menatap Raymond dengan mata berbinar, jiwa bergosip nya mulai bergejolak.


Raymond hanya menganggukkan kepala, lalu menjawab sang ibu. "Mereka suka melakukan kekerasan pada gadis kecil ... Eilaria," ucapannya sedikit terjeda mengingat nama gadis kecil yang disebutkan sang kakek.


Kakek Russell tampak terkejut dengan apa yang di dengarnya dari sang cucu. Sebab selama ini, dia saja yang tinggal di sebelah rumah Keluarga Carlton tidak tahu. Menyentuh dagunya, mengingat bagaimana Keluarga Carlton sangat ramah kepada para tetangga dan juga dia pernah bertegur sapa dengan Luke saat berpapasan di jalan. Sesuai dengan citra baik yang orang-orang katakan.

__ADS_1


Reyanna juga terkejut tetapi terus menatap mata Raymond yang juga menatapnya dengan tajam dan tidak bergeming, lalu diyakinkan lagi dengan anggukkan berulang kali Raymond yang tampak tak berdaya.


Sedangkan Ronan hanya diam terpaku menatap Raymond. Dia ingat seminggu yang lalu, putranya bertanya sesuatu tentang Keluarga Carlton. Mungkin karena dirinya terlalu bersemangat, dia tidak begitu memperhatikan hasil penyelidikkan terperinci yang di mintanya dari Asisten Pribadi, hanya berdasarkan tidak ada masalahnya dengan keluarga Carlton di permukaan, dia dengan cepat meminta Asisten Pribadinya untuk menghubungi keluarga Carlton menandatangani kerjasama keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi.


Waktu itu, Ronan sebenarnya tidak begitu puas dengan proyek-proyek yang tengah ditangani Perusahaan Keluarga Carlton. Dia masih ingat, tingkah aneh Asisten Pribadinya yang sempat menatap dirinya dengan ragu-ragu dan mengatakan dengan serius, jika ada sesuatu yang aneh di Keluarga Carlton dan sengaja ditutup-tutupi. Saat itu, dia tidak berpikir terlalu jauh, selama putranya tertarik akan sesuatu tidak peduli apapun, dia akan memberikannya.


Beruntung mereka tidak datang waktu itu dan penandatangan kerjasama ditunda. Ronan menghela napas, dengan cepat mengambil ponsel yang dia letakkan di saku jas dan segera menghubungi Asisten Pribadinya, meminta mengirimkan berkas file terperinci Keluarga Carlton segera. Setelah secara singkat berbicara dengan Asisten Pribadinya, dia dengan cepat mematikan panggilan telepon dan dengan tenang kembali mendengarkan putranya berbicara.


****


Brakk ...

__ADS_1


Suara keras kepalan tangan menghantam meja hingga retak terdengar, mereka langsung tersadar dan melihat bahwa Kakek Russell yang telah memukul meja.


"BISA-BISANYA MEREKA MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU!" Kakek Russell dengan geram dan marah, tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Ayah, jangan terlalu bersemangat, sakit Ayah bisa kambuh lagi!" ucap Ronan dan Reyanna bersamaan dengan raut wajah yang khawatir, lalu berusaha menenangkan sang kakek yang berapi-api terlebih dahulu. Raymond juga mengerutkan kening, dia juga tampak khawatir pada kakeknya.


****


Kakeknya adalah Jenderal Militer Negara, tetapi karena penyakit yang tidak diketahui menyerang secara tiba-tiba, membuatnya cuti untuk sementara waktu.


Pada waktu itu, Kakek Russell bahkan dengan tidak berdaya dan memutuskan untuk pensiun dini. Memberikan janji bahwa jika mereka tengah menghadapi masalah dalam misi, mereka bisa datang meminta saran padanya. Akan tetapi, salah satu Jenderal meminta agar kakek Russell tidak terburu-buru mengambil keputusan pengunduran diri dan mengusulkan untuk cuti terlebih dahulu, yang disetujui oleh yang lain.

__ADS_1


Pada akhirnya, sang kakek menenangkan diri di sini, tempat di mana penuh dengan kenangan bersama sang nenek, yang telah meninggal lebih dulu di usianya yang ke-56 tahun.


****


__ADS_2