
Devano menatap sendu pada putrinya yang masih berusia tiga bulan itu. Ia tidak pernah membayangkan jika liandra akan begitu tega meninggalkan dirinya dan putri mereka yang masih bayi hanya untuk mengejar karier nya menjadi seorang model.
Devano yang kebingungan saat clara terus menangis digendongannya segera menghubungi ibunya.
Tak butuh waktu lama, sarah pun sampai dirumah devano. Dan saat mendengar suara tangisan cucunya semakin kencang, sarah segera masuk ke dalam rumah.
"Uuuu... cucu eyang yang cantik, tenang ya. Sekarang kamu sama eyang..! " ucapnya sembari menggendong clara.
"Cepat buatkan susu..! " perintahnya pada devano.
Dan benar saja, setelah meminum habis susu yang dibuatkan devano, clara langsung tertidur pulas digendong eyangnya.
"Maafkan devano bu..! " ucap devano lirih namun masih dapat didengarkan ibunya.
"Hah. Ibu sudah menebak ini semua pasti akan terjadi. Keluarga liandra memang sejak awal tidak menyetujui liandra menikah dengan mu..! " ucap sarah.
"Dan semua yang dikatakan ibu dan ayahmu terbukti hari ini kan..? Liandra memilih pergi meninggalkan kalian untuk menuruti ambisi orang tuanya...! "
Sedangkan devano terdiam, karena sebelum ia menikah dengan liandra, ibu dan ayahnya memperingatkan bahwa keluarga liandra menginginkan seorang menantu kaya. Bukannya dirinya yang hanya seorang dari perusahaan kecil yang baru saja ia rintis.
"Sudah jangan kamu pikirkan lagi, sekarang yang lebih penting kamu menjaga dan rawat anakmu dengan baik. Dan lupakan liandra..! " ucap sarah yang kemudian masuk kedalam kamar anaknya untuk menidurkan clara.
Sedangkan devano masih terdiam didepan rumahnya. Rumah yang ia beli dari hasil tabungannya sendiri. Meskipun kecil, dan hanya terdapat satu kamar. Namun dulu ia pernah berharap bisa hidup bahagia dengan keluarga kecilnya dalam kesederhanaan namun penuh dengan kasih sayang.
Namun semua impiannya hancur dalam beberapa detik, saat liandra memutuskan untuk pergi bersama orang tuanya dan mengejar impiannya tuk jadi seorang model.
FLASHBACK OFF
Tanpa sadar air mata devano kembali menetes mengingat perjuangannya bersama kedua orang tuanya. Dalam membesarkan perusahaan nya kini yang menjadi begitu besar dan sudah memiliki cabang bisnis dimana mana.
Hingga ia kini bisa memiliki rumah yang kini ia tinggali. Dan mengingat kembali semua perubahan pada dirinya karena perpisahannya dengan liandra. Yang membuatnya menjadi seorang yang dingin, tidak berperasaan, dan selalu tidak mudah untuk percaya pada orang yang baru ia kenal.
__ADS_1
Namun kini ia juga merasakan perubahan pada dirinya lagi, setelah naura masuk kedalam hidupnya.
Ia bisa tersenyum bahkan tertawa. Meskipun ia terlalu gengsi untuk mengakui hatinya yang sudah jatuh cinta pada naura.
Gadis manis yang terpaut usia 5 tahun dengannya, namun dengan segala tingkah lucu dan baiknya. Berhasil mencairkan hati devano yang sudah begitu lama membeku.
Saat melihat jam yang menunjukkan pukul 9 malam, devano pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya untuk tidur.
Sesaat ia menatap wajah manis naura yang sudah tertidur, yang berhasil membuatnya terpesona sesaat. Sebelum tiba tiba naura menendang tubuhnya hingga terjatuh.
"Ah..! Sialan..! Berani sekali dia menendang ku sampai jatuh dari ranjang. Lihat saja aku akan buat perhitungan padamu..! " ucap devano yang begitu kesal.
Malam pun berlalu, dan kini mentari menyelinap masuk melalui celah celah tirai di jendela.
Naura yang terganggu dengan sinar mentari itu pun mulai membuka matanya. Dan seketika ia mematung, saat di depannya terlihat jelas wajah tampan devano yang masih begitu nyenyak tidur.
Dan saat naura merasa ada yang aneh, ia melihat tubuhnya sendiri yang sudah menempel pada devano dengan kakinya yang menumpang pada kaki devano sedangkan tangan devano ada di pinggangnya.
"Aaaaa....! " teriak naura seketika menjauhkan dirinya.
"Dasar mesum, cabul..! " teriak naura kembali mengatai devano.
"Siapa yang mesum dan cabul..? Asal kamu tau ya, semalam kamu yang terus menerus memelukku erat. Untung aja aku sedang mengantuk, kalau tidak mungkin saja aku sudah menerkammu semalam..! " ucap devano berbohong namun berhasil membuat naura bergidik ngeri.
"Dasar mesum..! " teriak naura kesekian kalinya dan kini sembari melempari devano dengan bantalnya, sebelum ia berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan devano tertawa puas, setelah mengerjai naura. Yang sebenarnya adalah ia tadi yang menarik naura dalam pelukannya dan berpura pura tidur kembali.
Dilain tempat.
Naura didalam kamar mandi menangis karena takut jika keperawanannya kini mulai terancam. Ia juga takut untuk keluar dan bertemu dengan devano.
__ADS_1
"Mama, papa..! Anakmu ini terancam tidak perawan lagi..! Waa.. hiks.. aaa...! " isak naura.
Setelah cukup lama, naura akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Namun saat ia melihat keseluruh penjuru kamar, ia tidak melihat keberadaan devano. Melainkan seorang pelayanan ynag sedang merapikan tempat tidurnya.
"Nyonya mencari tuan..? " tebak pelayan itu yang dijawab anggukan naura.
"Tuan sudah berangkat bekerja sejak tadi, dan juga tuan meminta nyonya untuk segera pergi sarapan selepas mandi..! " terangnya.
Setelah mendengar hal itu, naura bernafas lega, karen aia memiliki waktu untuk tidak bertemu dengan devano sejenak.
Selesai sarapan, naura pun mengantarkan clara untuk sekolah. Dan lagi lagi naura merasa kesal, karena devano memaksanya untuk diantar sopir pribadi yang sudah ia siapkan untuk naura.
"Saya naik motor saya aja pak, bapak dirumah aja ya..! " ucap naura yang tidak ingin jika devano akan mengetahui semua hal yang akan naura lakukan diluar rumah.
"Tapi nyonya. Kalau saya tidak mengantarkan anda dan nona kecil, saya akan langsung dipecat sama tuan..! " jelas sopir itu.
Dan dengan terpaksa, naura menyetujui diantar sopir itu. Dan setelah mengantar clara ke sekolah, naura kembali pergi menuju ke sebuah kafe.
"Hai dar..! " sapa naura saat melihat dara yang sedang melayani pelanggannya.
"Oh naura, wah... sekarang kamu kemana mana pakai supir pribadi..? Seperti seorang putri saja..! " ucap dara yang melihat kedatangan naura diantar seorang sopir.
"Hah..! Putri apanya, yang ada aku merasa tidak bisa bebas karena selalu ada orang yang akan mengikuti ku terus. Oh ya, aku sedang butuh pekerjaan untuk menghilangkan bosan ku. Apa kamu sedang membutuhkan karyawan..? " tanya naura.
"Ya memang aku sedang mencari karyawan sih, tapi aku butuhnya pelayan. Kamu nggak papa kalau jadi seorang pelayan..? " tawar dara.
"Nggak papa, lagian seru juga. Kan kerjanya cuma nganter nganter pesanan aja..! Aku bisa kerja kapan..? "
"Hari ini bisa..? "
"Ok..! "
__ADS_1
Dan naura pun kini berkerja di kafe keluarga dara, untuk menghilangkan semua kejenuhannnya di rumah.
Ia memang sudah lama ingin merasakan berkerja sendiri. Namun saat ia lulus sekolah, impiannya seketika pupus saat mama dan papanya lebih memilih untuk menikahkan nya.