Dugaan Jingga

Dugaan Jingga
Dugaan Jingga


__ADS_3

Dugaan Jingga


“Ping! Pingkan! Kamu di mana?” teriak Jingga Nahira, ia hampir saja tidak bisa membuka mata, saat baru saja bangun dari tidurnya pagi itu. Ia tidak menemukan Pingkan, saat meraba-raba tempat kosong di sebelahnya.


“Ahk!” Teriaknya lagi saat ia meraba bagian mata dan hendak mengusapnya. Seperti ada sesuatu yang sulit di lepaskan, tapi ia tidak tahu itu apa.


Ia ingin tahu, apakah Pingkan pun mengalami hal yang sama, tapi gadis itu tidak ada.


Ia yakin mereka berada dalam satu tenda tadi malam. Pingkan adalah, salah satu teman yang ikut dalam perjalanan mendaki bukit kecil yang berada beberapa kilo meter dari sekolah mereka.


Saat itu seluruh siswa yang tergabung dalam pengurus Organisasi Siswa, mengadakan acara perpisahan, setelah mereka resmi lulus dan menjadi alumni SMA Nusa Mekar Jaya, di kota tempat tinggalnya.


Gadis itu hanya bisa merasakan gelap disekelilingnya, tapi sejenak kemudian ia mendengar seorang teman lelaki berteriak dari luar tenda.


“Jingga! Kamu sudah bangun? Aku mau masuk kalau kamu sudah bangun!” tidak jelas siapa yang bicara, tapi Jingga merasa tidak masalah kalau teman laki-lakinya itu masuk karena ia memang butuh pertolongan.


Dia , teman satu angkatan dengan jingga itu masuk dan melihat keadaannya yang sama dengan seorang teman lainnya, matanya lengket oleh sesuatu.


“Kamu nggak papa, kan?” Ahnad bertanya sambil menyentuh bahu Jingga lembut, dan gadis itu menoleh ke arah asal suara.


“Kamu liatin deh, mataku ada apanya? Kok, lengket banget nggak bisa dibuka!” kata Jingga setelah mengetahui ada Ahnad di dekatnya.


“Oke, kamu tenang, ya?” Ahnad mengamati wajah temannya sambil mengerutkan alisnya, ada sesuatu berwarna putih kusam di wajah Jingga. Pantas saja gadis itu tidak bisa membuka matanya.


“Ada apa? Kenapa, sih?”


“Ayo berdiri! Ikut aku ke mata air, buat cuci muka!” kata Ahnad. Lalu, mereka pun berdiri bersamaan dengan sambil berpegangan tangan.


Ahnad pun bercerita jika salah satu teman mereka mengalami nasib yang sama, yaitu Muriani, ia adalah anak perempuan yang berada dalam satu tenda dengan Jingga dan Pinkan. Sekarang, ia sedang menangis karena trauma dan ketakutan.


Jingga merasa tidurnya terlalu nyenyak hingga tidak bisa merasakan atau melihat, kejadian yang terpaksa harus ia alami semalam. Ia bersyukur nyawanya masih selamat.

__ADS_1


Sementara Pingkan hilang, dan teman yang ada di dekatnya tidak tahu. Hal yang sedikit aneh, sebab biasanya dalam keadaan seperti itu, seseorang akan sulit tidur dengan nyenyak.


Jadi, karena peristiwa itu tim panitia membagi kelompok menjadi dua bagian, sebagian pulang, menemani Muriani yang terus menangis karena ketakutan. Tugas mereka lainnya adalah, melaporkan kejadian yang mereka alami, termasuk kehilangan Pingkan pada pihak pemerintah dan keamanan setempat.


Sementara sebagian peserta lainnya menetap di sana, menunggu perkembangan keadaan sampai keesokan hari, sebab ada kemungkinan Pingkan kembali. Dikhawatirkan, jika ternyata ia tersesat dan akan kembali, maka masih bisa menemukan tenda mereka.


Ahnad menuntun Jingga keluar tenda, ia hendak mencuci matanya di mata air yang terdapat di sekitar tempat di mana mereka melangsungkan acara inagurasi semalam. Adanya mata air, adalah satu hal penting yang harus dipikirkan oleh orang yang akan mendirikan tenda atau tinggal di alam terbuka.


Iwan Sanusi, salah satu teman Jingga juga, mendekati dan ikut membantu menuangkan air dari peralatan dapur yang mereka bawa.


“Ini apaan, sih?” tanya Jingga, sambil memegangi kerudung kecilnya yang basah, agar lebih mudah membersihkan muka yang dipenuhi getah lengket. Dua temannya dengan suka rela membantu.


“Kalau menurutku ... itu, cuma tepung sagu biasa, di campur getah enau, jadi lengket begitu!” kata Iwan.


“Iya, gak bahaya, kok. Tapi cuma bikin kamu gak bisa melek!” sahut Ahnad.


“Siapa yang melakukannya? Apa kalian tahu?” tanya Jingga sambil terus mengusap matanya agar segera terbebas dari cairan lengket itu.


“Mana ada yang tahu!” ujar Ahnad.


“Jadi, di mana Muri sekarang?” tanya Jingga. Ia juga ingat dengan jelas kalau Muriani ikut tidur dalam satu tenda dengan dirinya belakangan, dan tidur di sebelah Pingkan. Semua terlihat biasa saja baginya, tanpa ada sikap atau obrolan yang mencurigakan.


“Kayaknya ia mulai bersiap mau pulang!” Jawab Iwan.


“Kenapa pulang?” tanya Jingga, ia mulai sedikit membuka mata.


Ahnad menceritakan semua kejadiannya saat ia dan Iwan berjaga malam itu di dekat api unggun. Sementara Jingga sudah bisa melihat semuanya dengan jelas, walau wajahnya masih memerah karena terlalu lama di gosok-gosok dengan sabun.


Ketiga anak remaja itu mengobrol di sekitar mata air yang keluar dari celah batu-batu besar yang seolah menempel di tebing bukit. Itu tebing yang tidak terlalu tinggi dan cukup mudah di daki. Para pendaki menamai tempat itu dengan sebutan Batu Payung, karena batunya memang menyerupai payung. Seseorang bisa bernaung dari hujan di bawahnya.


Di sana ada kolam kecil tempat menampung mata air itu, dan terus mengalir ke bawah tebing hingga menyerupai sungai yang kecil pula.

__ADS_1


Malam itu, Iwan dan Ahnad tengah bernyanyi di sekitar api unggun, dengan gitar mereka, saat suasana mulai sepi. Beberapa teman wanita, termasuk Jingga, sudah tidur dan beberapa teman lainnya memilih untuk, menyibukkan diri dengan ponsel mereka di tenda.


Mereka berada di kawasan bukit yang biasa digunakan untuk melangsungkan berbagai kegiatan. Di dekat bukit itu ada sebuah gunung besar yang juga cukup indah, banyak para pendaki pernah mendatanginya. Namun, kebanyakan orang biasa, lebih senang mendaki gunung anakannya yang kecil, jika melangsungkan acara, seperti Pramuka, autbond dan sebagainya. Selain mudah dilalui, di sana terdapat area luas yang pas untuk mendirikan tenda.


Saat itu, Iwan merasa mendengar suara orang berjalan di sekitarnya, tapi Ahnad yang sedang bernyanyi, mengabaikannya. Ia menganggap apa yang dirasakan Iwan hanya halusinasi sebab ia tak mendengar dan melihat apa pun setelah menoleh ke segala arah. Lalu, mereka bernyanyi kembali, dan baru berkeliling untuk memeriksa keadaan di sekitar tenda, setelah lelah melantunkan beberapa lagu kesukaan mereka.


“Padahal, aku jelas sekali mendengar suara kayak daun dan ranting kering kalau diinjak!” kata Iwan.


“Mungkin masalahnya aku masih nyanyi waktu itu, jadi gak dengar,” sahut Ahnad.


“Iya, bisa jadi.”


“Anehnya, kita nggak liat apa-apa waktu keliling, kan?”


“Iya, tapi kita keliling itu udah lewat lama dari waktu aku dengar suara itu!” sangkal Iwan.


“Iya juga, sih, jadi wajar kalau orang itu sudah pergi,” kata Ahnad.


“Sudah, jangan saling menyalahkan, siapa tahu yang lewat itu salah satu dari teman kita yang mau buang air!” kata Jingga membuat dua temannya saling berpandangan, lalu tertawa kecil.


“Iya, iya,” ucap mereka hampir bersamaan.


Sementara itu, kelompok satu sudah bersiap pulang, dua tenda sudah dibereskan dan tinggal dua tenda lagi yang masih berdiri. Masing-masing satu tenda untuk anak perempuan dan satu tenda lain untuk laki-laki.


Kelompok itu hanya terdiri dari sepuluh orang, karena ada beberapa anggota organisasi yang tidak ikut. Saat sebagian anak pulang, maka hanya tersisa empat orang, dihitung lima termasuk dengan Pingkan, anak yang hilang.


Kali ini Jingga di temani Pipit, ia ingin ikut dengan kelompok yang tinggal sementara agar Jingga tak sendiri, mengingat gadis itu tidak mau pulang.


Jingga memilih untuk tetap tinggal, dengan niat akan mencari jejak Pingkan—sahabatnya. Apalagi, bekal makanan yang ia bawa masih banyak, cukup sampai dua hari sesuai rencana. Masih ada satu malam lagi sebelum pulang.


Mereka baru tiba sore hari kemarin dan malam harinya, justru mendapatkan peristiwa yang bagi anak seusia mereka cukup mengerikan. Kehilangan seorang teman padahal mereka tidur bersama dalam satu tenda.

__ADS_1


Bagaimana bisa hal itu terjadi, kalau bukan penculikan?


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2