Dugaan Jingga

Dugaan Jingga
Pelarian Tahap 1


__ADS_3

Pelarian Tahap 1


“Hai! Kalian mau lari ke mana? Jangan anggap kalian bisa lari ya!”


Mendengar suara itu seperti suara petir yang hampir menyambar tubuh mereka di siang hari baik Pingkan anak maupun Jingga berlari lebih cepat Bahkan mereka menerjang apa pun yang ada di hadapannya tidak peduli semak belukar dan juga ada yang berduri.


Langkah ketiga anak remaja itu terhenti, ketika melihat keruang kosong di depan. Tidak ada tumbuhan apa pun lagi di sana. Mereka menghadapi sebuah tebing yang cukup terjal di bawah. Kebetulan Ahnad yang lebih dulu sampai hingga ia berbalik dan merentangkan kedua tangannya. Maksudnya agar dua teman wanita yang berlari di belakang, tidak terperosok ke dalam tebing itu.


“Ada tebing!” katanya dengan suara keras, meningkahi suara motor yang semakin dekat. Biar bagaimanapun, mereka melarikan diri jika dikejar dengan laju motor akan kalah jauh lebih cepat.


Melihat ke bawah, justru Jingga merasa jika itu masih bisa ditempuh, walau dengan sedikit usaha.


Rasa nekat yang tumbuh di benaknya sejak tadi pagi, kini muncul lagi. Ia pun bergerak turun mengabaikan Ahnad dengan menepiskan tangan teman lelakinya yang menghalanginya itu


“Kalau kalian mau menyerah, menyerah saja! Tetapi aku lebih baik berjuang lebih dulu menuruni tebing ini, sebelum benar-benar tertangkap dan tidak ada jalan lainnya!” kata Jingga penuh percaya diri.


Dengan gerakan gesit Jungga membalik tubuhnya hingga kakinya lebih dulu menuruni tebing.

__ADS_1


“Ini nggak terlalu tinggi!” katanya sambil melihat ke bawahnya, ada sungai kecil di sana. Ia mengira kalau ternyata aliran air dari Batu Payung itu mengalir dari sana.


Sungguh pemandangan yang indah, seandainya keadaan sekarang tidak mendesak, mungkin ia akan memotret keindahan alam itu dari tempatnya berdiri sekarang. Namun, keindahan alam itu sirna oleh ketakutan.


“Kamu mau nekat turun?” kata Ahad terlihat khawatir.


“Pilih mana, turun atau tertangkap, terserah! Aku dari awal nggak pernah memaksa kamu, Nad!” ujar Jingga.


Tanpa aba-aba Pinkan mengikuti gerakan Jingga yang sudah turun, kini setengah badannya ada di atas dan kedua kakinya sudah menjejaki batu-batuan terjal yang ada di bawahnya.


Sekuat tenaga gadis itu menepis rasa lelah, lapar, dan lemas di sekujur tubuhnya. Ia seolah-olah tidak peduli walau harus tiada di sana, daripada tertangkap lagi.


Untung saja orang lain datang dan kemudian pria yang menangkapnya pun berhenti mengganggu. Ia tidak tahu siapa kedua laki-laki itu hingga pria tambun tidak melakukan apa-apa lagi pada tubuhnya yang tak berdaya.


Ia lebih baik tiada dalam keadaan memperjuangkan diri di tebing itu, daripada harus menyerah kembali pada laki-laki yang hampir saja menodainya. Kekuatannya muncul dari ingatannya, dan oleh karena itu ia tidak boleh menyerah.


Ahnad akhirnya berbuat menyusul, ia sudah turun dengan menjejakkan kakinya ke adalah satu batu di tebing itu.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saja.


Dor!


Suara tembakan mengagetkan ketiga anak remaja yang baru saja menuruni tebing. Jingga ada di paling bawah, lalu Pingkan dan Ahnad berada paling atas.


Dor!


Suara tembakan itu terdengar lagi.


Dalam hati Jingga merutuki orang-orang yang, menggunakan senjata dan kekerasan pada anak-anak seperti mereka. Negara tempat mereka tinggal berhukum dan menggunakan senjata pada sesama manusia sangat dilarang. Bagaimana mereka menggunakan benda itu seenaknya, padahal dirinya, Ahnad dan juga Pingkan bukanlah musuh dan tidak berbahaya.


Dor! Sekali lagi suara itu terdengar kuat.


“Ahk!” pekik Ahad keras, secara tiba-tiba.


“Ahnad!” seru Pingkan dan Jingga secara bersamaan, sambil mendongak ke atas.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2