Dugaan Jingga

Dugaan Jingga
Laki-laki Separuh Baya


__ADS_3

Laki-laki Separuh Baya


 


Pingkan membeliakkan matanya, tanda ia terkejut, tapi kedua tangan dan kakinya sudah bebas, membuatnya lega. Lakban di mulutnya pun sudah terlepas. Ia sekali lagi harus menahan keinginan untuk buang hajat. Ia segera menarik tangan Jingga ke samping, Ahnad mengikutinya dengan cepat pula.


Di saat yang bersamaan, seorang pria bertubuh tambun, berkulit hitam dan berambut keriting, masuk dengan amarah dalam hatinya. Sementara tatapan matanya penuh waspada, menelisik ke dalam rumah pohon, memindai setiap sudut dengan teliti.


“Ke mana perginya anak-anak sialan itu?” gumamnya kuat. Ia mengacak-acak semua benda yang diperkirakan, bisa dibuat sebagai tempat persembunyian bagi anak-anak. Beberapa menit yang lalu, ia lihat dengan jelas ada dua anak naik ke rumah pohon. Saat itu ia sedang memakai celana karena baru saja selesai dengan keperluannya di toilet.


Saat pria itu hendak menggulingkan meja kayu, tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh di bagian luar rumah poho. Pria tambun segera melongok ke bawah melalui jendela berbentuk kotak kotak di dekatnya. Namun, ia tidak melihat orang atau siapa pun juga di bawah sana.


“Hah! Sialan!” pria itu kesal dan mengumpat, ia langsung ke bawah melalui tali besar yang menggantung di dekat pintu. Itu cara turun yang praktis dan lebih cepat.


Namun, begitu pria itu berada di bawah rumah, juga tidak menemukan apa pun, padahal sebelumnya ia berpikir jika anak-anak itu bersembunyi tepat di batang pohon. Mereka  tidak akan terlihat bila ia hanya mengamati dari jendela saja.


Pria tambun hanya melihat botol minum yang sudah kosong tergeletak di tanah. Entah bagaimana bisa benda yang biasa dipakai untuk membawa air minum oleh anak-anak itu ada di sana. Alisnya berkerut karena berpikir keras sebab ia belum pernah melihatnya. Ia pikir Pingkan yang membawanya. Tiba-tiba ia semakin kesal dengan wanita yang sudah disekapnya semalam. Gara-gara wanita itu keluar dari tenda, ia hampir saja ketahuan. Waktu itu ia tahu kalau Pingkan hendak membuang air seninya.


Kalau bukan karena wanita itu, mungkin ia sudah berhasil mengambil satu ponsel milik salah satu siswi yang tertidur. Akhirnya, ia berbuat nekat, dengan membekab mulutnya, lalu menutup dan menempeli wajah Pingkan, dengan getah yang biasa ia gunakan untuk menangkap binatang buruan.


“Di mana mereka?” gumamnya, “Kalau mereka tadi baru sampai di sini, itu artinya mereka belum jauh dari sini, kecuali mereka bersembunyi!”


Pria tambun lalu melangkah pergi, sambil menyeringai. Is yakin kalau anak-anak itu tidak akan bisa lari atau jauh dari tempat itu, sebab hanya dia yang tahu jalan keluarnya. Ia berjalan perlahan-lahan, sedang matanya terus meneliti dengan cermat, keadaan sekitar yang kini mulai panas menyengat. Ia memilih untuk mencari makanan dan minuman di luar kebun. Ia akan kembali secepatnya, dan setelah perutnya terisi, ia akan segera menangkap bocah-bocah kurang kerjaan itu sendiri.

__ADS_1


“Huh! Merepotkan saja!”


 


$$__$$__$$__$$__$$


 


Sementara itu, di rumah pohon, kaki Ahnad sudah pegal karena ia harus berlutut di balik meja kayu. Tadi, pria tambun hampir membalikkan meja itu, tapi ia tak berhasil melihat Ahnad yang bersembunyi di sana.


 Jingga yang bersembunyi dengan menahan tubuhnya di salah satu dahan pohon, berhasil melemparkan botol minumnya ke luar pintu rumah kayu yang terbuka. Ia bersyukur karena persembunyian mereka aman dan orang itu pergi sebelum mereka ketahuan.


“Ahk!” Ahnad keluar dari balik meja dan langsung memanjangkan kakinya di lantai kayu. Ia sudah kesemutan. Menunggu pria tambun ke luar dan pergi, itu hampir memakan waktu kurang lebih satu jam, dan ia harus berlutut selama itu.


“Ahnad, jangan berisik!”kata Jingga sambil menuruni dahan, di mana ia berbaring lurus di atasnya. Tubuhnya kecil hingga ia bisa bersembunyi dengan baik pada posisinya.


Sementara Pingkan pun merasa mulai pegal. Ia berada dalam salah satu dahan besar yang bisa menopangnya. Ia pun turun secara perlahan, setelah memastikan kalau pria tambun sudah pergi. Namun, ia yakin pria itu pasti akan kembali tidak lama lagi. Ia sudah mengamati tempat itu sejak semalam, hingga ia sudah memikirkan berbagai kemungkin. Termasuk ada beberapa tempat untuk bersembunyi kalau ada kesempatan untuk melarikan diri.


“Pingkan! Ceritakan sama aku sekarang juga, gimana kamu bisa ada di tempat ini!” Jingga bertanya guna menuruti rasa penasarannya.


Pinkan menolak untuk bercerita dengan menggelengkan kepalanya. Ia memegangi perutnya dan segera berlari kecil ke arah pintu keluar. Ia tidak memperdulikan Ahnad dan Jingga yang masih duduk santai, mereka merasa jika keadaan mungkin sudah aman.


Begitu tahu ada pria tambun di bawah rumah, Pingkan langsung memerintahkan Ahnad meringkuk di bawah meja kayu, menaikkan Jingga ke sebuah batang yang menjadi penyangga atap. Sementara ia sendiri melakukan hal yang sama pada dahan pohon lainnya. Tubuh mereka tertutup sedikit dedaunan yang tumbuh di sana.

__ADS_1


“Nggak ada waktu, aku mau turun dulu!” kata Pingkan, sambil meringis. Lalu, ia turun menggunakan tali yang menggantung, seperti cara yang digunakan pria tambun. Sejak ditangkap dan dikurung di tempat itu, ia terus memperhatikan apa yang dilakukan pria tambun dan temannya. Termasuk bagaimana mereka turun naik dengan cepat menggunakan tali yang sama.


“Pinkan, kamu mau ke mana?” katan Jingga, ia menelan rasa penasarannya begitu saja, tapi ia tidak menampik kenyataan bahwa Pinkan terlihat menahan rasa sakit, ia meringis sambil memegangi perutnya.


Pinkan turun dengan cepat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat Pingkan pergi menggunakan tali, Ahnad segera bangkit dan mengabaikan rasa sakit di kakinya. Ia menyusul dan melakukan hal yang sama seperti Pingkan sehingga Jingga pun berbuat demikian.


Sampai di bawah, Ahnad dan Jingga menunggu Pingkan yang masih berada di dalam bilik kecil, tak jauh dari rumah kayu berada. Bilik itu sengaja di bangun di pinggir sungai kecil dengan aliran air yang lambat, tapi jernih dan dingin. Air khas daerah pegunungan.


Beberapa saat kemudian, Pingkan keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar, ia tampak sudah membasuh wajahnya. Selain itu ia juga terlihat sudah lega karena berhasil membuang hajat yang, sudah ditahannya dari semalam.


Jingga dengan cepat menghampiri dan memberikan air mineral dalam botol miliknya. Itu adalah botol yang lain karena yang kosongnya, sudah ia buang untuk mengalihkan perhatian pria tambun tadi.


“Nih! Kamu pasti haus, habis itu, baru cerita!” katanya sambil tersenyum.


“Nggak sabar banget, sih?” Pingkan menerima air minum dari tangan sahabatnya. Ketenangan dan perasaan lega, terlihat jelas di wajahnya. Padahal, sebelumnya ia sangat tegang dan ketakutan.


Pingkan meneguk air minum hampir habis karena ia pikir kalau-kalau Jingga juga haus.


“Woi! Bandi!” tiba-tiba terdengar suara orang dewasa lain mendekat ke arah mereka.


 


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2