Dugaan Jingga

Dugaan Jingga
Nekat


__ADS_3

Nekat Mencari


“Bagaimana bisa hal itu terjadi, kalau bukan penculikan?” kata Jingga dalam hati.


Jingga mendekati Muriani yang masih menangis sesenggukan. Walaupun, tangisannya sudah sedikit reda, tapi ia masih terlihat ketakutan.


Dua perempuan itu duduk di atas sebuah batu.


“Kamu beneran nggak ngerasain apa-apa tadi malam, Mur?” tanya Jingga.


“Nggak, aku biasanya susah tidur kalau bukan di kamar sendiri, tapi tadi malam, begitu aku rebahan, langsung nyenyak, hp-ku aja belum sempat aku matikan, padahal biasanya aku matikan data dulu sebelum tidur!” kata Muriani sambil menyeka air matanya.


“Terus, mata kamu juga lengket? Sama kayak aku?” tanya Jingga lagi.


“Ya! Aku juga bangunin kamu, pas aku sadar gak bisa buka mata, tapi kamu gak bangun-bangun, jadi aku teriak aja panggil yang lain biar bantuin buat cuci muka aku!”


Jingga seketika heran, ia benar-benar tidak merasakan apa pun jika memang dibangunkan. Anehnya lagi, hanya dirinya dan Muriani yang mengalami, sedangkan anak perempuan lain yang tendanya bersebelahan, tidak mengalami hal yang demikian.


“Aku nggak kerasa apa-apa kalau kamu bangunin, kok bisa ya?” Jingga berkata dengan heran.


“Nah, aku juga tanya seperti itu dari tadi! Tapi nggak da yang bisa jawab!” Muriani jadi heran juga. Ia terjaga dalam keadaan tidak bisa melihat karena matanya lengket oleh sesuatu.


Oleh karena itu, ia berteriak membangunkan Jingga. Namun, karena teman satu tendanya itu tidak bereaksi, ia pun minta tolong pada beberapa teman kainnya yang sudah bangun dan beraktivitas di luar tenda. Ahnad membantunya hingga Muriani bisa melihat kembali.


Sebagai ketua, Ahnad menyadari keadaan mereka tidak aman, maka dari itu ia memutuskan untuk pulang. Namun, sebagian menolak dan memilih untuk menunggu. Siapa tahu Pingkan kembali dan mereka masih ada di sana sampai keesokan harinya.

__ADS_1


“Kalau mau tahu, berarti harus kita selidiki, Mur!”


“Ah, ogah! Kamu punya niat buat nyari Pingkan?” tanya Murani penasaran.


“Justru itu ideku, Mur!”


“Apa kamu nggak takut?”


Jingga menggelengkan kepalanya, saat itu ia merasa ketakutannya hilang entah kemana. Ia langsung berpikir untuk mencari, saat mendengar keputusan Ahnad yang membagi mereka menjadi dua kelompok. Dari pada hanya berdiam diri saja, maka ia memutuskan untuk mencari, walaupun kedua temannya atau sang ketua sendiri tidak tahu.


Jingga merasa bisa menemukan sahabatnya itu. Ia melihat beberapa tanda dan jejak seseorang di sekitar tenda, saat ia sudah mulai bisa membuka mata.


“Ya, sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya, tetap waspada dan jangan sampai terulang lagi!” kata Muriani sambil berdiri, karena rombongan sudah mulai bergerak meninggalkan lokasi.


“Jadi, kita mau ngapain sekarang?” tanya Pipit. Mereka bagai pasangan dua perempuan dan dua laki-laki. Namun, mereka bukan pasangan melainkan teman biasa yang sebelumnya tidak pernah terlibat obrolan serius kecuali, soal kegiatan Organisasi Siswa di sekolah mereka.


Ada beberapa murid yang menjadi dekat karena seringnya mereka melakukan aktivitas bersama, tapi tidak demikian dengan keempat anak remaja itu. Mereka hanyalah teman, benar-benar teman.


“Aku mencari Pingkan!” kata Jingga, sambil beranjak ke tendanya.


“Apa kamu gila, gimana kalau kita tersesat?” kata Pipit, “Ingat kata Ahnad, kita cuma butuh menunggu sampai besok, siapa tahu Pingkan balik lagi!”


Ketiga orang yang ada di sekitar api unggun itu saling berpandangan, saat mereka melihat Jingga yang sudah keluar tenda dengan membawa tas ranselnya.


Gadis itu sudah mengganti kerudungnya yang basah tadi, ia juga sudah memakai sepatu, lengkap dengan sarung tangan dan topi.

__ADS_1


Ahnad diam, ia tidak bisa memutuskan apa-apa sekarang. Meskipun, Pipit dan Iwan menyenggol laki-laki itu dengan maksud memberi isyarat, agar ia mengomentari tentang apa yang mereka lihat.


Namun, belum sempat Ahnad bicara, Jingga sudah berjalan mendekati mereka bertiga, sambil membawa tongkat kayunya. Tongkat yang biasa digunakan untuk menopang dan memudahkannya dalam melangkah.


“Denger, ya! Aku mau pergi walaupun kalian nggak mau ikut, aku nggak butuh persetujuan dari kalian ... barang-barangku, nggak semua aku bawa, ini cuman yang penting-penting aja!” kata Jingga sambil menunjukkan tas di punggungnya.


Ia kembali meneruskan bicara, “Aku bawa banyak makanan dan udah aku tinggal di dalam, kalau kalian butuh, makan aja dan gak usah khawatir sama aku, oke?”


“Tunggu! Jingga, kamu jangan sembarangan, kalau ada apa-apa di sini, aku yang harus tanggung jawab sama kamu ... sama kita semua!” Ahnad akhirnya bicara, ketika Jingga berbalik badan ke arah yang berlawanan dari mereka. Ia segera meraih tangan temannya itu dengan maksud menahan langkahnya. Namun wanita itu menepisnya dengan keras.


“Apaan, sih? Kamu ini, Nad! Kan, udah aku bilang nggak usah kuatir!” kata Jingga.


“Apa sih yang bikin kamu semangat banget buat nyari Pinkan, apa kamu tahu sesuatu?” tanya Ahnad begitu tangannya sudah terlepas dari Jingga.


“Aku nggak tahu pasti, sih, Nad. Cuma nebak aja kalau Pingkan kemungkinan di culik!”


“Kalau soal itu aku juga punya dugaan yang sama, Jingga!”


“Ya, tapi alasan dasarku bukan cuma itu!” kata Jingga sambil mengedarkan pandangan ke belakang tenda.


“Apa lagi?” tanya Ahnad.


“Kita berteman, kan?” Jingga balik bertanya.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2