
Perkemahan Terakhir (SELESAI)
“Jingga, gimana ini! Gimana kalau Ahnad—“ kata Pingkan.
“Jangan mikir macam-macam Ping! Kamu kuat jalan, kan?” sahut Jingga sambil mengahpus keringat dingin di kening Ahnad yang bercucuran seperti habis bermain sepak bola.
“Gimana, ya? Aku sebenarnya lemes banget!” kata Pingkan.
“Gimana kalau kuat, kita bantu Ahnad jalan turun ke Batu Payung, kayaknya udah dekat, tuh!” ujar Jingga, ia bersiap mengangkat tangan Ahnad ke pundaknya.
“Kita, jalan sambil bawa Ahnad, gitu?”
“Iya! Kita bantu dia jalan, kan dia bisa pake satu kakinya!”
Pingkan mengerti maksud Jingga, tapi ia sendiri ragu apakah kuat atau tidak. Ia hampir tidak punya sisa tenaga lagi.
“Nah! Nyerah sajalah! Dari pada teman kalian itu mati!” kata Karyo sambil terus berusaha melepaskan tali di tangannya yang berada di belakang punggungnya.
Pingkan dan Jingga khawatir jika dua pria itu berhasil melepaskan diri, lalu bagaimana dengan mereka sebab posisi dua pria jauh lebih kuat.
“Iya, Neng! Di sana ada obat! Jadi, buka saja ikatan tangan Bapak!” seru Dudin bersemangat dan terlihat sungguh-sungguh. Kalau ikatan kaki dan tangannya terlepas, ia memang akan membantu Jingga sebagai balas budi. Namun, setelah itu ia berniat kabur lagi agar tidak tertangkap.
Tiba-tiba Jingga merasa bimbang, ia kembali menoleh Ahnad dan Dudin secara bergantian. Di sini ia harus mengambil keputusan yang penuh risiko sendirian. Kalau memang Dudin bohong, maka habislah ia dan dua temannya. Namun, dilain sisi ia melihat ketulusan lewat pancaran mata pria paruh baya itu.
Akhirnya ia melepaskan tangan Ahnad yang sudah diletakkan di bahunya secara perlahan, ia kembali menyandarkan tubuh temannya itu pada sebatang pohon seperti sebelumnya. Lalu, ia beranjak mendekati Dudin yang berbaring dan Karyo yang dalam posisi tengkurap di tanah.
“Jingga!” kata Pingkan memegang tangan sahabatnya, ia takut kalau dua pria itu bohong, tapi sekaligus khawatir dengan keadaan Ahnad.
Jingga menatap Pingkan sejurus, ia tahu maksud temannya serta, menangkap keraguan di wajahnya, tapi ia harus mengambil segala risiko demi Ahnad.
__ADS_1
Tiba-tiba suara ponsel berdering tepat saat ia kan melangkah menuju Dudin, ia segera meraih benda itu dengan penuh rasa syukur.
“Hallo!” katanya antusias, “Ya, Pak benar!”
Setelah diam sebentar, Jingga kembali berkata, “Iya, Pak! Saya akan menunggu di sini!” dengan penuh semangat.
Demikian pula ponsel Ahnad, pun berdering, tapi sepertinya ia pingsan.
Demi melihat Ahnad diam saja dan justru memejamkan mata karena lemah, Pingkan mengambil benda yang terus berdering itu di saku celana pria itu. Setelah berhasil mengambil, ia menerima panggilan karena melihat nama guru mereka di layar.
“Hallo, Pak Guru! Ini Pingkan! Ahnad tertembak!”
Mereka mendapatkan telepon dari seorang guru dan juga pihak keamanan lokasi bukit, termasuk para polisi. Mereka tentu sudah membaca pesan Jingga. Ini waktu yang tepat sekali, hingga gadis itu tidak perlu mengambil risiko untuk diri dan temannya, dengan membebaskan Dudin serta Karyo.
“Jadi, Pak Guru sama Polisi juga?” seru Pingkan setelah diam beberapa saat. Sebelumnya ia menjawab pertanyaan penelepon dengan mengatakan hal yang penting-penting saja.
“Apa? Polisi?” seru Dudin dan Karyo nyaris bersamaan. Mereka sadar, riwayat mereka sebagai penjaga Hutan Larangan sebagai kebun gan*ja, akan segera tamat.
Jingga melirik Dudin sekilas, lalu ia membelakangi pria itu dan mengambil posisi bersujud, menempelkan keningnya di atas rumput.
“Alhamdulillah!” katanya.
Setelah sujud syukur, Jingga menarik napas panjang dan mendekati kepala Ahnad, ia meraba keningnya, ternyata panas. Temannya itu mengalami infeksi luka serius. Ia menitikkan air mata, lalu berbisik pelan di telinganya.
“Tenang, bala bantuan sudah datang ... bertahanlah sebentar lagi, semua akan baik-baik saja, kamu pasti selamat, aku tahu kamu laki-laki yang kuat!”
Ahnad menoleh pada Jingga tapi matanya masih sedikit terpejam. Lalu, pria itu mengangguk pelan sambil menarik satu sudut bibirnya ke atas.
“Terima kasih, Jingga, kamu luar biasa!” gumamnya nyaris tak terdengar siapa pun kecuali dirinya sendiri.
__ADS_1
Jingga dan Pingkan saling melemparkan senyum penuh harapan. Perjuangan mereka tidak sia-sia. Ya, mereka sudah berjalan mengendap-endap, lalu menuruni tebing bukit walau tidak berbahaya tapi cukup terjal, berlari menerobos semak-semak, kemudian tertangkap. Bagian paling menegangkan adalah saat berkelahi dengan pria dewasa, dan tertembak— itu adalah, pengalaman luar biasa. Bahkan, mungkin akan jadi sejarah di Hutan Larangan.
Mereka menjadi sekelumit kisah dari para remaja yang berani menantang maut demi seorang teman. Masih banyak kisah lain dari para remaja baik dan berkarya, tapi cerita Jingga mungkin akan jadi satu-satunya dari sekolah menengah atas Tunas Mekar Jaya.
Dunia anak remaja seharusnya penuh dengan kisah manis dan baik, tapi tidak ada salahnya mempunyai cerita yang menegangkan bukan?
Demikianlah harapan Jingga dan dua temannya pun terlaksana, bantuan yang datang untuk menolong cukup banyak.
Mereka terdiri dari dua polisi hutan, dua guru, dua petugas pejabat kampung terdekat dan dua teman yang semula berjaga di tenda, ikut dalam rombongan. Mereka bahu membahu menolong Ahnad, memberi minuman dan makanan. Hal terakhir yang mereka lakukan adalah, menggelandang dua penjahat yang sudah tertangkap.
“Terima kasih, Nak Jingga! Kalau kamu nggak nekat mencari Pingkan, mungkin selamanya kami tidak akan bisa menangkap dua penjahat ini!” kata salah seorang polisi sambil memborgol Dudin dan Karyo.
Dua pria itu menatap sinis pada Jingga.
Gadis itu hanya mengangguk, ia sedikit kecewa dengan Dudin dan memikirkan salah satu anaknya yang menjadi teman. Bagaimana nasib keluarganya. Namun, mungkin lebih baik seperti sekarang, dari pada menafkahi keluarga dengan nafkah yang haram meskipun itu hasil keringatnya.
Rombongan berjalan secara perlahan ke tempat lokasi tenda, di mana sudah ada beberapa anak lainnya yang menyiapkan tandu seadanya. Jadi, pesan-pesan yang dikirim Ahnad serta Jingga membuat semua temannya heboh dan memilih kembali ke lokasi kemah mereka untuk menolong teman mereka.
Setelah semua tenda di bereskan, mereka pun pulang. Perjalan mereka kali ini bersama para polisi dan para petugas yang membawa dua penjahat. Berita adanya kebun pohon terlarang di sana adalah hasil kerja keras Jingga dan Ahnad, setelah berhasil menolong Pingkan. Semua guru dan teman memuji keberanian mereka dan salah satu guru mengatakan, kalau kemah kali ini menjadi yang terakhir di bukit Batu Payung bagi sekolah mereka.
Dengan demikian, semua anak yang mengikuti kegiatan pada hari itu benar-benar menjadi sejarah bagi Bukit Batu Payung dan Hutan Larangan. Semua akan menjadi kenangan yang mungkin tak terlupakan.
Selesai
❤️❤️❤️❤️
Terima Kasih atas dukungannya, terima kasih sudah membaca karyaku, ini cerita pendek ya, sengaja buat selingan saja, biar nggak bosen melulu masalah percintaan 😊 sampai jumpa dikaryaku berikutnya, semoga kalian suka ❤️
Salam manis dariku, El Geisya Tin ❤️
__ADS_1