
Hutan Larangan
“Eh, ini bener kan arahnya ke sini?” tanya Ahmad, sambil melihat ke bagian kakinya, di mana ia berpijak pada guratan tanah yang semakin jelas.
“Iya!” sahut Jingga dengan memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Ada beberapa bagian ranting patah cukup banyak di sana. Hal itu menunjukkan seseorang baru saja lewat dengan menebas beberapa ranting yang menghalangi jalannya.
Namun, yang membuat Jingga dan Ahmad menjadi ragu untuk melangkah adalah, jejak yang mereka ikuti berbelok pada sebuah kawasan yang dipenuhi dengan semak merambat. Tidak ada jalan masuk untuk ke sana, selain memotong semak-semak itu dengan alat seperti sabit atau golok. Tanaman di hadapan mereka tumbuh subur dan lebat, seolah menjadi pagar pembatas antara area luar hingga tidak terlihat jelas apa yang ada di baliknya.
Semak itu seperti sengaja ditanam, untuk mengelilingi kawasan yang terlihat melingkar di sepanjang mata memandang, mirip seperti pagar pembatas.
“Lihat, jejaknya berhenti di sini!” Jingga menunjukkan sebuah akhir di mana tidak ada lagi guratan tanah lagi di sana. Sebuah batu yang cukup besar seolah menutupinya.
“Kalau jejak ini habis sampai di sini, nggak mungkin orang yang lewat masuk ke dalam batu!” seru Ahnad, seraya mendekati arah yang ditunjuk Jingga.
“Kamu percaya ada kisah batu belah?” tanya Jingga.
“Kisah itu dongeng, buat pelajaran anak yang durhaka pada ibunya!”
“Eh, iya, aku tahu bukan Cuma Malin Kundang saja yang jadi batu, kalau kisah batu belah, ibunya yang dimakan batu!” Jingga menyeringai lucu saat bicara, “Ayo! Kita lihat saja dulu ke sana!”
Jingga berjalan lebih dulu mengitari batu besar itu, lalu ia mencoba mengintip ke bagian dalam semak yang merambat, tapi ia tidak bisa melihat apa pun di dalamnya. Ia menarik paksa tanaman itu agar terputus, karena mereka tidak membawa perlengkapan seperti benda tajam, yang bisa digunakan untuk memotong. Ia hanya membawa sebuah tongkat kayu.
Jingga terus memotong semak yang mirip benalu itu, dengan tangannya sambil berdiri di dekat batu. Ia tampak kelelahan, tapi rasa lelahnya hilang karena penasaran. Lagi pula, jejak itu berakhir di sana. Seolah batu itu telah menelan jejak mereka atau merupakan sebuah pintu rahasia. Ada yang lebih aneh, saat ia melihat semak yang tumbuh dengan rapi di hutan liar. Bagaimana pohon yang lemah itu bisa berkembang melingkar dari pohon ke pohon lainnya seakan-akan sengaja dijalinkan.
__ADS_1
“Nggak apa, nih, kita rusak tanamannya?” tanya Ahnad, ia mulai mengikuti apa yang dilakukan Jingga.
Gadis itu menoleh, “Memangnya kenapa? Kamu takut?”
“Kata orang, kan daerah ini hutan larangan!”
“Ya, kan kata orang, bukan kata aku!”
“Eh, aku serius Jingga!” kata Ahnad, sambil menghentikan gerakan tangan Jingga yang terus memutuskan rambatan benalu. Ternyata tanaman itu sangat tebal hingga susah dipatahkan.
Jingga menepiskan tangan Ahmad, “Aku juga serius, kita lihat, seperti apa larangannya! Siapa juga sih yang bikin larangan itu? Kan, mereka bukan Tuhan!”
“Mungkin ada pantangannya!”
Jingga melihat ke arah temannya itu yang kembali memutuskan belukar dengan tangannya.
“Bisa jadi!”
Jingga memutuskan semak terakhir hingga dedaunan tampak berserakan di sekitarnya, begitu pula dahan-dahan yang berhasil ia putuskan dengan tangan.
“Lihat!” katanya sambil menoleh pada Ahnad, lalu ia menjulurkan kepalanya ke dalam lubang semak yang berhasil ia buat. Sejenak kemudian ia menoleh lagi pada temannya itu dengan wajah cemas.
Ia menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Benar, mereka menutupi sesuatu!”
Ahnad sudah berhasil juga membuat lubang hingga ia bisa melihat ke dalam. Tatapannya sama dengan Jingga, aneh dan alisnya berkerut, tanda ia berpikir cukup keras.
__ADS_1
“Sesuatu apa maksudmu? Tanaman apa itu?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari dalam semak merambat.
“Ganja!” Jingga menyahut dengan santai. Ia melihat banyak pohon dengan daun-daun mirip daun singkong tapi lebih kecil dan lebih runcing, tumbuh dengan rapi di sana.
“Apa kamu yakin?”
“Ya!”
“Ahk! Itu nggak mungkin! Gimana tanaman itu ada di sini?”
“Ya mana aku tahu?”
“Apa benar itu pohin ganja?”
Jingga mengangguk. Ia memang belum pernah melihat tanaman itu secara langsung, tapi ia pernah melihatnya beberapa kali di berita televisi. Pada berita itu dikabarkan bahwa, adanya tanaman ganja yang sengaja ditanam oleh oknum tak bertanggung jawab. Namun, berhasil diketahui oleh pihak keamanan dan kemudian di bakar.
“Kira-kira siapa yang menanamnya?” tanya Ahnad, ia duduk di tanah sambil bersandar pada batu besar.
“Nah, aku juga penasaran, tapi itu bukan urusan kita. Sekarang, yang kita cari Pingkan!”
“Masa, Pingkan ada di dalam, sih? Itu nggak mungkin, kan?”
Jingga mengeluarkan air minum dari dalam tasnya, lalu ia ikut duduk menyusui Ahnad.
“Ya, namanya mencari, kita—“ Jingga berkata sambil bersandar juga pada batu, dan ucapannya terputus saat tiba-tiba batu besar itu bergeser.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️