
Kesalahan Masa Lalu 1
“Pak Dudin!” Jingga berseru sambil menatap tajam, pria paruh baya bertubuh gemuk di hadapannya.
Pria yang disebut oleh Jingga dengan Dudin itu, seketika tersentak dan mundur beberapa langkah ke belakang. Ia tidak menyangka kalau ada anak yang sedang jadi tawanannya itu, ternyata mengenal dirinya.
Begitu juga dengan kedua teman Jingga—Ahnad dan Pingkan, mereka sama terkejutnya karena Jingga ternyata tahu nama orang yang mencoba membunuh mereka dengan senjatanya.
Jingga maju selangkah dengan wajah serius dan penuh keberanian ia terus menatap pria itu tepat di matanya.
“Pak Dudin nggak tahu siapa saya? Saya Jingga, Pak!” kata gadis itu sambil mencibir dengan perasaan getir.
Mereka saling kenal beberapa tahun yang lalu, orang yang bernama Dudin itu pernah menjadi asisten di rumah milik keluarga Jingga. Ia bekerja sebagai tukang kebunnya, lalu berbuat kesalahan hingga dipecat dari pekerjaannya. Siapa yang tahu kalau pria itu sekarang bekerja menjadi penjaga kebun yang ditanami pohon terlarang.
“Ternyata sekarang Pak Dudin, bekerja seperti ini? Apa Bapak pikir kami ini hanya anak-anak yang lemah dan bisa ditindas begitu saja?”
“Eum ....” Dudin bergumam sambil berpikir keras, ia tidak ingin mati konyol kalau benar-benar anak itu mengenalnya. Ia tidak bisa berkutik, mundur salah dan maju juga salah.
__ADS_1
Kalau ia menyandera anak-anak, maka mereka akan tertangkap cepat atau lambat. Namun, kalau ia melepaskan mereka, akibatnya pun kurang lebih sama.
Atau ia bisa saja melarikan diri, tapi bagaimana dengan anak dan istrinya. Ia takut bukan hanya pada polisi, melainkan pada Bos Barri--laki-laki yang sudah banyak menolong keluarganya. Ia-lah pemilik kebun itu dan sekaligus menjadi bos tempatnya bekerja. Tentunya ia tidak ingin mereka semua celaka.
“Ingat, Pak. Saya sudah mengirim lokasi dan pesan pada Guru saya kalau kami ada di sekitar sini!”
“Apa?” teriak pria tambun teman Dudin dan berdiri di sampingnya
Laki-laki itu terkejut dengan perbuatan anak-anak yang ia pikir lemah tak berdaya. Mereka yang seperti berada di dunia terbalik, di mana orang yang seharusnya mengancam justru menjadi terancam.
“Ya, cepat atau lambat mereka pasti akan mencari dan menemukan kami, Pak!” Jingga masih terus bicara dengan penuh rasa percaya diri, sebab ia yakin kalau Dudin, pria gendut paruh baya itu pasti takut dengan ancaman sekaligus keadaan yang mendesaknya sekarang.
Jingga menyeringai melihat reaksi kedua pria dewasa di hadapannya. Perbuatan buruk yang dilakukan seseorang, memang terkadang tidak pernah terpikirkan akibat sesudahnya. Misalnya hari ini di mana ada seseorang yang mengira jika perbuatan dirinya tidak akan pernah di ketahui oleh anak-anak tak berdaya, tapi keberadaan mereka sekarang justru seperti jurang terburuknya.
“Pak Dudin pasti tahu Pak Angkasa, kan? Dulu Bapak pernah kerja lama di sana!” kata Jingga lagi, ia berusaha mengungkapkan masa lalu Dudin agar pria itu ingat. Saat ia masih menjadi tukang kebun ayahnya, Jingga masih di tingkat pertama sekolahnya.
“Saya anak Pak Hardian Angkasa!”
__ADS_1
Mendengar ucapan Jingga, semua orang terkejut, bukan hanya Dudin saja.
“Apa? Anak Pak Angkasa?” kata Ahnad, Pingkan dan Dudin hampir bersamaan.
Selama ini, baik Pingkan maupun Ahnad hanya tahu kalau teman mereka itu anak orang berada, tapi tidak tahu siapa nama belakang ayahnya.
Namun, nyatanya sungguh di luar pikiran Jingga sebab Dudin justru tertawa terbahak-bahak,
Ia berkata sambil berkacak pinggang, sementara pistol rakitan di tangannya, tetap siap untuk ditembakkan, “Kamu pikir aku takut? Hah! Dasar anak-anak!”
Ia membuang ludahnya ke tanah.
“Cih!”
“Din! Kamu kenal sama mereka, ini bahaya! Sebaiknya kamu pergi saja dan cepat melarikan diri!” kata seorang teman di sebelahnya.
Dudin mengangguk, sementara matanya menatap berkeliling untuk mencari sesuatu.
__ADS_1
“Tenang saja, mereka tidak akan mengejar kita!*
❤️❤️❤️❤️