
Bersembunyi Dan Menyelamatkan Diri 2
“Iya, nih!” sahut Ahnad sambil meringis menahan sakit yang luar biasa. Ia berkata sambil membenarkan posisi duduk, mencari tempat yang cukup nyaman dan memanjangkan kakinya.
Di antara semak belukar tiga remaja duduk berdekatan, tubuh mereka dipenuhi keringat dan patahan dari ranting dan dedaunan. Pakaian mereka kotor karena terkena tanah, di antara berbatuan saat mencoba turun.
Mereka bertaruh nyawa, demi menyelamatkan nyawa agar selamat dari mara bahaya. Sungguh seperti ironi, tapi nyatanya itulah yang mereka lakukan.
“Kamu, sih! Tadi nggak ikutan cepat turun!” keluh Jingga.
“Aku, kan, tadinya mau matiin dulu kalau kalian bisa turun dan aman!” katanya.
Pingkan tersenyum tipis.
“Kamu, kayak nggak pernah naik gunung aja!” Jingga lagi-lagi mengomel, “Cepat buka bajumu, lihat kayak apa lukanya?”
Ahnad melepaskan kemeja putih yang dipakainya dan ia melihat luka serius merobek kulitnya. Bahkan, dagingnya hampir terlihat.
“Itu, kayaknya gak ada pelurunya, deh? Cuma kegores, iya, kan?” tanya Jingga setelah melihat luka di bahu temannya itu. Ia mengusap darah yang menutupi luka dengan ujung jilbabnya.
Jingga pernah melihat di film-film aksi kesukaannya, kalau luka yang ada pelurunya itu tidak akan robek seperti itu, tapi robekan kulitnya seperti menghunjam di dasar daging. Ia belum pernah melihat luka seperti itu di dunia nyata.
Lalu, Jingga dengan cekatan membuka tas ranselnya dan mengeluarkan botol minum. Gadis itu memberikan airnya pada Ahnad dan Pingkan. Ia menghabiskan sisinya untuk dirinya sendiri.
Ia masih punya satu sapu tangan di dalam tas, dan mengikat luka di bahu Ahnad dengan kain kecil itu.
“Ini, pakai! Bisa mengurangi darahnya, biar kamu nggak mati kehabisan darah!” kata Jingga sambil mengikat luka Ahnad.
Ahnad memperhatikan cara Jingga mengikat luka dan wajahnya secara bergantian.
“Terima kasih!’ gumamnya lirih.
Tanpa disadari, mereka telah bahu membahu saling tolong menolong dalam keadaan yang menyulitkan. Pengalaman yang tidak pernah terpikirkan sepanjang hidup.
Ahnad memakai kembali bajunya setelah pundaknya diikat kuat oleh Jingga. Darah memang berhenti merembes ke luar, tapi masih sakit dan panas, serta perih dan menusuk kulit pada bahunya. Ia berharap ucapan Jingga benar, kalau luka itu bukan karena hunjaman peluru, tapi hanya tergores timah panas yang sempat lewat.
__ADS_1
Walaupun, tidak ada peluru di dalam tubuhnya, tapi itu juga tetap sakit luar biasa.
“Gimana, kita mau lanjut jalan?” tanya Pingkan.
“Sekarang gimana, kita mau lanjut jalan?” tanya Pingkan, ia tampak gelisah sambil menatap dua sahabat di depannya secara bersamaan.
“Kita istirahat sebentar, kayaknya mereka nggak ngejar kita, deh!” sahut Jingga mantap. Ia berdiri, untuk melihat keadaan sekitar. Di luar semak-semak merambat yang mengelilingi dengan aman. Dan, tempat di mana mereka sembunyi, tampak sepi. Mereka merasa aman.
“Mereka nggak ngejar kita!” katanya lagi setelah duduk kembali.
Jingga mengeluarkan ponsel dan mengirimkan letak lokasi sekaligus pesan ke beberapa orang bahwa, mereka butuh pertolongan. Ia juga mengirimkan beberapa pesan lain, mengatakan hal tentang pria tambun yang ia temui dan dikenalnya secara tidak sengaja.
“Nad, aku pengen deh, laporin soal penemuan kita, soal pohon ini!” Jingga berkata sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kembali. Ia berharap segara ada sinyal, dan pesannya bisa cepat terkirim.
“Buat apa Ga? Ini bukan urusan kita!” kata Ahnad masih dengan wajah meringis karena menahan rasa sakit.
“Apa salahnya, bilang benar kalau itu benar!” ujar Jingga. Ia sengaja mengambil sedikit daun sebagai bukti. Kalau benar seperti yang ia pikirkan bahwa, pohon yang ia temui termasuk jenis pohon yang mengandung zat psikotropika.
“Ya, kan, belum tentu juga kamu benar kalau yang kita lihat itu pohon gan*a!”
Jingga mengangguk.
“Ga! Urusan kita jadi panjang nanti sama orang-orang itu!” kata Ahnad.
“Memang, aku juga takut begitu! Tapi, kita bisa milih, kok, mau tetap diam atau ngomong ke orang lain kalau di hutan larangan itu, gak ada hantunya tapi ada pohon anunya!” ucap Jingga sambil membenarkan letak kerudungnya yang miring.
“Kalau aku terserah kamu saja, Ga! Kalau kamu ngomong aku juga siap jadi saksinya,” kata Pingkan, dari dulu ia selalu setuju dengan Jingga.
“Siip! Kamu memang sahabat terbaik aku!” Jingga mengedipkan mata sambil menunjukkan jempolnya ke arah Pingkan.
“Terserah kalian sajalah, ayo cepat pulang! Kita nggak tahu jarak ke Batu Payung, jauh atau nggak? Nanti keburu malam!” Ahnad berkata sambil berdiri.
“Kamu kuat, kan? Nad!” tanya Jingga sambil memegangi tangan Ahnad.
Laki-laki itu mengangguk, sambil menyibakkan semak-semak untuk kedua teman wanitanya berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Mereka berjalan penuh waspada, menoleh ke segala arah untuk memastikan keadaan, ke arah atas tebing juga lengang.
“Ayo!” kata Jingga sambil berjalan lebih dulu. Ahnad dan Pingkan mengikuti di belakangnya. Ujung dari belahan tebing pendek di mana Batu Payung berada, tampak di ujung pandangan mereka.
“Bilang kalau aku salah arah, ya! Soalnya aku lihat itu ujung Bivak satu, kalau nggak salah!” kata Jingga sambil menunjuk ke satu arah.
“Ya! Aku juga lihat!” kata Pingkan.
“Ya, udah ayo! Cepat!” kata Ahnad berjalan lebih cepat, dengan mengabaikan rasa sakitnya.
Mereka terus menyusuri hutan dengan berjalan melewati rumput liar setinggi dada. Jalan hanya bisa dilalui setelah menyibakkan semak-semak, mematahkan ranting dan dahan pohon atau menginjak batu-batu. Arah yang dituju hanya satu, Batu Payung yang sudah semakin jelas terlihat.
“Hai! Kalian berhenti!” kata sebuah suara tak jauh dari mereka.
Sontak saja ketiga anak remaja itu menghentikan langkah, dan menoleh ke sumber suara hampir bersamaan. Baik Jingga, Pingkan maupun Ahnad seketika terkejut. Lalu, secepat kilat berusaha berlari untuk kembali menyelamatkan diri.
“Hahaha!”
Terdengar suara tawa keras dari dua orang yang menangkap mereka dengan senjata di tangannya. Kilatan mata jahat tersorot seperti singa yang siap menangkap mangsa.
“Kalau kalian coba lari lagi, kalian pasti mati!” kata salah satu pria tambun sambil menodongkan senjata ke arah buruan mereka.
Biar bagaimanapun juga, anak-anak itu sudah tahu tentang rahasia apa yang ada di balik hutan larangan. Jangan sampai rahasia ini sampai ke orang luar. Apalagi pihak kepolisian.
Jingga, Pingkan dan Ahnad pun sadar, mereka tidak bisa berlari secepat di arena balapan sebab ini hutan. Mereka tidak tahu apakah di depannya ada batu, pohon atau hewan liar. Walaupun, sungai sebagai penunjuk arah menuju Bivak Satu sudah pasti, tapi rerumputan yang tinggi serta dahan pohon yang berserakan, tidak bisa membuat mereka cepat melarikan diri.
“Angkat tangan kalian!” kata dua pria tambun itu lagi.
Pria tambun dan pria gendut mengacungkan senjata ke arah tiga anak remaja, yang jelas-jelas menampakkan ketakutan di wajah mereka.
Jingga, Ahnad dan Pingkan mengangkat tangan ke atas. Lalu, mereka berdiri berdekatan dan menatap para pria tambun penuh waspada dan ketakutan.
“Pak Dudin!” kata Jingga.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1