Dugaan Jingga

Dugaan Jingga
Rumah Pohon


__ADS_3

Rumah Pohon


“Ya, namanya mencari, kita—“ Jingga berkata sambil bersandar juga pada batu, dan ucapannya terputus saat tiba-tiba batu besar itu bergeser.


Dua anak berlawanan jenis itu saling menatap, lalu melihat pada batu besar yang tiba-tiba bergerak. Seketika mereka menegakkan punggungnya dan batu itu pun berhenti bergerak. Lalu, mereka langsung berdiri secara bersamaan. Sementara Jingga memasukkan kembali botol minumnya.


“Kalau kamu percaya pada batu belah, tapi kita sekarang ada dalam dongeng batu yang bergeser!” Ahnad berseru sambil menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang kotor karena terkena tanah.


“Ayo! Kita dorong!” kata Jingga yang mengikuti Ahnad, menepuk-nepuk bagian belakang celana gunung yang dikenakannya.


Mereka mendorong batu itu sekuat tenaga yang tersisa, dan ternyata bisa bergeser dengan mudah. Aneh bagi keduanya yang menyadari bahwa, batu itu tidak seberat yang mereka bayangkan sebelumnya.


Setelah batu itu bergeser cukup lebar, mereka kembali tercengang. Ada sebuah tangga dari tanah yang menjadi jalan masuk ke dalam sebuah lubang besar di hadapan keduanya. Ahnad berjalan mendahului Jingga, untuk menapaki tangga demi tangga, secara perlahan.


“Jingga! Kamu yakin mau ikut masuk, Aku khawatir kalau ada yang berbahaya di dalam sana!”


“Kenapa nggak? Aku nggak takut, kalau memang ada risiko, ayo kita tanggung sama-sama!”


“Baiklah kalau begitu! Hati-hati”


“Kamu juga!”


Remaja laki-laki itu berhenti sejenak setelah beberapa langkah, ia mengambil ponsel dan menyalakan aplikasi senter sebagai penerang, karena suasana di dalam semakin gelap, tidak ada penerangan di dalam sana.


Mereka sampai di akhir anak tangga sekitar lima menit kemudian. Lorong gelap yang mereka lalui, ternyata tidak panjang. Itu seperti jalan pintas untuk menyeberangi pagar alam yang sengaja di buat dari semak belukar yang merambat dengan lebat. Jadi, orang yang lalu lalang keluar masuk ke dalamnya tidak harus merusak tanaman yang menjadi pembatas.


Beberapa tangga yang dilalui oleh Ahnad dan Jingga sebelumnya menurun, tapi kemudian tangga itu kembali naik dan mereka muncul di balik semak-semak yang sudah dirusak sebelumnya. Mereka kembali tercengang, orang yang sudah membuat jalan pintas itu tidak bodoh, tapi cukup jenius.

__ADS_1


“Apa kira-kira Pingkan ada di sini?” kata Ahnad, sambil mengedarkan pandangan di sekitar. Wajahnya jelas menunjukkan rasa khawatir, ini adalah pengalaman pertamanya, berpetualang dalam hal yang menegangkan. Semua karena dugaan Jingga.


Dalam benaknya terus berpikir keras, bagian bila mereka terlibat dengan orang jahat. Tentunya, nyawa mereka akan terancam. Kalau benar yang ia lihat adalah tanaman ganja, mungkin orang-orang yang menanamnya, bukan orang biasa.


“Ahnad, ayo kita laporkan tanaman ini ke polisi!” Jingga memberikan jawaban yang tidak semestinya, membuat Ahnad gusar.


“Nggak, jangan campuri soal tanaman ini apalagi berani melapor ke polisi, gimana kalau nanti kita terancam atau terlibat dengan orang-orang jahat yang sudah menanam tanaman ini, pasti mereka akan bertahan dengan segala cara untuk kepentingan mereka!”


“Apa maksudmu? Kan, nggak ada salahnya melapor ke polisi?”


“Sudah jangan nambah masalah kita konsentrasi aja mencari Pinkan! Bukankah itu tujuan awalmu?”


“Dasar penakut! Aku nggak pernah maksa kamu buat ikut!”


“Jingga! Aku bukan takut, tapi lebih baik kita konsentrasi aja dulu cari Pinkan!”


Biar bagaimanapun juga, mereka masih remaja masa depan mereka masih panjang. Apalagi ada Jingga di sampingnya, membuat Ahnad—sebagai laki-laki merasa bertanggung jawab untuk melindunginya. Walaupun gadis itu tidak pernah meminta untuk dilindungi, tapi ia hanya merasa terpanggil untuk tetap berada di sisinya. Bahkan gadis itu terlihat lebih berani dari dirinya.


“Pingkan!” Tanpa aba-aba, Jingga berteriak dengan sangat keras hingga menggema di sekitarnya. Ada sebuah tebing yang tak jauh dari sana, hingga wajar kalau pantulan suara gadis itu terdengar bersahutan.


“Pingkan! Ping—“ Jingga kembali berteriak, tapi tiba-tiba Ahnad membekap mulutnya dengan kuat.


Jingga menepis tangan laki-laki itu hingga terlepas. Ia menatap Ahnad kesal, seperti ada percikan api di sana.


“Apa sih!” katanya, “pake tutup mulut segala!”


“Jingga, jangan teriak-teriak, kalau ada orang yang dengar dan tahu kita masuk tempat ini tanpa sepengetahuan mereka!” kata Ahnad setengah berbisik padanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Jingga menyadari kenapa kawasan di mana ia berada dikatakan daerah terlarang. Yaitu karena sengaja dilakukan oleh orang terdahulu agar orang lain yang tidak memiliki kepentingan, tidak berani mendekat. Tentunya mereka tidak ingin ada orang tahu tentang tanaman terlarang itu. Maka, orang yang menanamnya tidak akan merasa aman. Oleh karena itulah pemiliknya, atau orang yang menanam pohon ganja sengaja membuat desas-desus menyesatkan.


Jingga pikir mereka sangat keterlaluan, karena menanam pohon terlarang di atas tanah pemerintah. Itu adalah tanah negara dan hutan di sana adalah hutan yang dilindungi, yang dijadikan tempat resapan air dan juga sekaligus pariwisata.


Akhirnya Jingga mengikuti nasihat Ahnad agar tidak berteriak-teriak, mereka mencari Pinkan dalam diam. Keduanya berjalan mengendap-endap, memasuki kawasan perkebunan ganja semakin dalam.


Setelah banyak langkah mereka lalui di antara pohon ganja, tapi belum menemukan apa pun di sana. Namun, mereka terus berjalan ke depan, hingga mereka melihat sebuah rumah pohon, yang berdiri di tengah-tengah kawasan. Ahnad dan Jingga mempercepat langkah, demi memuaskan rasa penasaran.


“Kira-kira, apa ada Pingkan di sana? Ayo!” kata Ahnad, dan Jingga mengangguk mereka berjalan berdekatan sambil merunduk. Itu adalah cara aman agar tidak terlalu terlihat bila ada orang lain yang memergoki mereka.


Dalam pikiran dan hati hanya dugaan jika kemungkinan Pinkan ada di dalamnya.


“Apa kamu mau naik ke sana?” tanya Jingga, setelah berada di bawah rumah pohon itu.


Mereka berdua kini berdiri sambil memegang pohon, sambil mengatur napas yang terengah-engah. Degup jantung seolah terdengar dari luar, dan keringat yang mengucur deras dari ribuan pori dari kulit mereka.


Ahnad melihat ke atas, ada sebuah tangga yang terbuat dari tali tergantung di sana. Namun, ada juga tangga dari kayu yang melingkari pohon besar itu hingga sebatas pintu rumah kecil yang tertutup di atasnya.


“Periksa dulu apa di sekitarnya ada orang!” kata Ahnad lagi.


Kedua anak remaja itu celingukan ke segala arah.


Setelah memastikan aman, Ahnad mulai menapaki satu anak tangga kayu, karena ia pikir lebih cepat naik ke atas dengan cara itu. Namun, bersamaan dengannya naik, terdengar suara benda yang terjatuh cukup keras dari rumah di atas kepalanya.


Brakk!


“Akh!”

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2