
Bersembunyi Dan Menyelamatkan Diri 1
“Ahnad!” seru Pingkan dan Jingga secara bersamaan, sambil mendongak ke atas. Mereka berpikir kalau Ahnad terluka karena suara itu jelas dari senjata api yang tidak pernah mereka ketahui jenisnya.
Seketika Ahnad merambat turun lebih cepat mendahului dua teman wanitanya. Kaki-kakinya dengan sigap dan gesit memijak kuat saat melompat pada beberapa bebatuan yang menjadi pembatas tebing. Napasnya tersengal-sengal dan wajahnya pucat.
Seluruh tubuhnya sebenarnya lemas, tapi ia kuatkan dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa. Untuk sementara ia tidak merasakan sakit di kulit bahunya meski, ia tahu kalau terserempet peluru. Ia merasakan sendiri beberapa tembakan yang tadi sempat di arahkan padanya.
Benar, Jingga melihat bahunya berdarah.
“Ayo! Cepatlah!” kata lelaki remaja itu, “Perhatikan langkah kalian!” katanya lagi meningkatkan.
Jingga mengikuti gerakan Ahnad menuruni tebing yang tidak terlalu curam baginya. Memang sedikit terjal, tapi ia masih sanggup melaluinya. Sebab ia pernah melakukan pendakian di Bukit Cadas, tebingnya mirip sekali dengan yang ia turuni sekarang.
Pingkan melakukan gerakan yang sama gesitnya. Selain karena takut tertembak, ia juga penasaran dengan luka di bahu Ahnad. Anak perempuan seperti dirinya tidak memikirkan sesuatu dalam menghadapi hal mengerikan seperti itu, selain lari.
Masih jelas rasanya bagaimana ketakutan yang meliputi Pingkan semalam, saat ia dibawa oleh orang asing. Ia terbangun tengah malam itu karena ingin buang air, padahal baru saja tidur. Ia melihat sekeliling yang tidak ada seorang pun, dan hanya mendengar suara-suara samar. Ternyata itu berasal dari dua teman yang tidak ia ketahui namanya, sedang berjalan ke arah tempat mata air. Dugaannya, kemungkinan dua laki-laki itu akan pergi untuk membuang hajat juga. Jadi, tidak mungkin ia pergi ke tempat yang sama karena malu. Padahal ia sudah tidak tahan hingga memutuskan, untuk membuangnya di antara semak-semak saja.
“Toh, tidak ada yang melihat,” pikirnya.
Namun, belum sempat melakukan buang air, Pingkan melihat sekelabat bayangan menakutkan seperti hantu di dekat pohon besar. Tiba-tiba jantungnya berdegup tak beraturan. Ia pikir itu penampakan penghuni hutan atau semacamnya. Meskipun demikian, ia tidak segera berlari ketakutan.
Pingkan selama ini adalah wanita pemberani pada hal-hal seperti hantu dan penampakan. Oleh karena itu, ia senang ikut kegiatan perkemahan. Selama ia tidak pernah melihat sendiri hal-hal yang disebut hantu, ia tidak akan percaya. Seperti sekarang, setelah ia perhatikan sungguh-sungguh, ternyata itu hanyalah bentuk dari pepohonan yang terkena cahaya. Lalu, gerakan dari dedaunan membuatnya seolah menjadi bentuk bayangan menyeramkan.
__ADS_1
Anehnya, keinginan untuk membuang hajatnya hilang. Lalu, ia kembali ke kemah, tapi dalam tendanya ia justru melihat hal yang jauh lebih mengerikan dari hantu. Ada seorang pria bertubuh gempal dan berkulit hitam, sebuah karung besar berada di sampingnya. Pencuri itu berdiri membungkuk di hadapannya. Pria itu sedang mengambil ponsel miliknya.
Pingkan berpikir cepat bahwa pria itu adalah pencuri, maka ia pun reflek berteriak. Namun, tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Ia lupa kalau ia sedang serak karena batuk.
Pria itu mendekat dengan cepat, sambil memasukkan ponsel ke saku celananya. melangkahi tubuh Jingga. Menutup mulut Pingkan dengan kuat.
“Diamlah, kalau kamu mau selamat!” katanya lirih di dekat telinga Pingkan sambil menunjukkan sebuah pisau belati tajam, di wajah gadis remaja itu.
Seketika Pingkan melotot dan inilah ketakutan yang sempurna. Takut yang bukan hanya debaran jantungnya saja, tapi isi kepala seolah meledak oleh pikiran tak tentu arah. Tentang kematian, rasa sakit dan penderitaan lainnya. Air mata segera meluncur dari matanya, namun isak tangisnya tidak ada yang mendengar.
“Hmmpp!”
“Uh!”
Dua teman yang tidur di dekatnya tadi, tentu tidak akan mendengar apa pun karena pria gendut menutup kepala mereka dengan selimut. Bahkan, mengoleskan sesuatu yang lengket dari dalam karung yang di bawanya, ke wajah teman-temannya.
Pingkan tidak menyangka kalau ia juga mendapatkan perlakuan yang sama. Pria itu menariknya ke luar, mengikat kaki dan tangannya, setelah menutup mulut dan matanya dengan kain yang bau.
Ia tidak bisa berkutik dan berharap cukup sampai di sana saja perbuatan pria itu. Lalu, keesokan harinya bisa diselamatkan semua teman lain yang menemukannya. Namun, ia justru di bawa pergi, dengan cara di seret seperti karung ke sebuah tempat, yang sekarang membuatnya kembali dalam ketakutan luar biasa. Ini bukan hanya takut melihat hantu, tapi lebih dari itu.
“Jangan lari kalian!” kata sebuah suara membuyarkan lamunan Pingkan.
“Pingkan! Cepat turun!” teriak Jingga.
__ADS_1
Pingkan segera menoleh ke bawah dan ternyata ia tertinggal, sedangkan temannya, Ahnad dan Jingga sudah berhasil menuruni tebing. Mereka kini berada di sungai kecil yang mengarah ke Batu Payung.
Pingkan tidak berpikir panjang dan ia lompat dengan memaksakan diri.
Hap!
“Aduh!” pekiknya panik, kakinya sedikit sakit.
“Pingkan, kamu nggak apa?” tanya Jingga khawatir, kalau kaki Pingkan bermasalah, itu artinya kedua temannya kini terluka.
Ahnad memegangi bahunya sambil terus setengah berlari karena tenaganya sudah hampir habis. Ia berusaha mencari tempat untuk sembunyi.
Jingg dan Pingkan yang menahan rasa sakit, mengikutinya, setelah Ahnad menemukan tempat persembunyian yang bagus untuk mereka. Ada sebuah celah di antara berbatuan besar yang di kelilingi semak belukar.
“Ayo! Cepat sini!” teriak lelaki itu seraya menyibakkan semak-semak, lalu ia hilang di baliknya.
Sementara dua pria yang sama-sama bertubuh gempal itu, tidak mengikuti kenekatan para anak remaja dengan menuruni tebing. Itu hal gila bagi mereka kalau mencoba melakukannya. Biar bagaimanapun juga, mereka hanyalah pria dewasa yang tidak terbiasa panjat tebing. Lalu, mereka memilih untuk berbalik arah, kembali ke perkebunan atau yang di sebut dengan hutan larangan.
Nama hutan larangan ternyata bukan karena angker dan berhantu, melainkan karena ada tumbuhan haram dan terlarang untuk dibudidayakan, di tanam di tempat itu! Baik Jingga, Ahnad dan Pingkan memikirkan hal yang sama.
“Ahnad, kamu kena tembak?” kata Pingkan terlihat panik, kedua alisnya berkerut sangat dalam.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1