
Dugaan Jingga Benar
“Akh!”
Suara keras dari teriakan seseorang terdengar jelas dari rumah pohon di atas kepala Jingga dan Ahnad. Seketika mereka mendongak dan bersegera menaiki tangga secara bergantian.
Ahnad membuka pintu rumah kayu dan melihat ke dalamnya yang tampak gelap.
“Pingkan! Apa kau ada di sana?” teriak Ahnad. Mendengar teriakan itu, Jingga yang berada di belakang tubuh pria itu, langsung menutup mulutnya.
Napas Jingga tertahan saat ia bicara, dengan suara lirih, “Jangan keras-keras, gimana kalau ada orang jahat?”
Ahmad segera melepas tangan temannya itu dari mulutnya. Ia merasa bahwa, Jingga benar. Kalau mereka tidak hati-hati, maka bukan hanya dirinya yang celaka tapi, Jingga juga. Biar bagaimanapun, reputasi dan nama baiknya sebagai ketua kelas, ketua OSIS, ketua panitia kegiatan dan berbagai macam jabatan ketua yang pernah disandangnya, saat ini dipertaruhkan.
Seolah ketua adalah sosok yang lebih baik dari orang lainnya, lebih berani, lebih tangguh, hebat, pintar, bijaksana, dan biasanya juga lebih kaya serta lebih berpengalaman. Kebanyakan pula yang biasa dijadikan ketua itu pria yang lebih tampan.
__ADS_1
Ahnad pun demikian, kelebihan paras dan fisiknya menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-teman, untuk menjadikannya pusat perhatian. Menjadi ketua membuat orang merasa maklum kalau lebih sering dan intens dalam berbicara dengannya. Itu alasan yang sangat masuk akal.
Namun, kali ini ia merasa kalah langkah dengan Jingga, gadis yang selama ini dinilainya biasa saja. Ternyata ia punya banyak kelebihan yang terabaikan, sebelumnya ia tidak pernah menonjolkan diri dan hanya terlihat sekedarnya dalam beberapa aktivitas.
Jingga kini lebih berani dan rela berkorban demi teman, bukan tanpa alasan ia ingin menemukan Pingkan, karena ia adalah satu-satunya teman yang selalu mengerti dirinya.
Pingkan tahu kalau Jingga bukan gadis dominan tapi ia senang beraktivitas, walau pendiam. Ia tidak pernah menuntut atau meminta sesuatu yang tidak bisa disanggupi Jingga.
“Emmpp ...!”
Tiba-tiba terdengar suara tercekat di sekitar Jingga dan Ahnad. Dua remaja itu langsung menoleh secara serempak ke arah suara.
“Pingkan!” Jingga beteriak kecil dengan suara tertahan di tenggorokan, sambil melangkah cepat ke arah temannya yang tampak menangis tanpa suara itu.
Ia segera mengangkat tubuh Pingkan hingga duduk kembali dengan tegak di lantai kayu. Wajahnya tampak kacau.
__ADS_1
Ruangan di dalam rumah pohon itu tidak begitu lebar, hanya sekitar tiga kali empat meter saja, hingga jarak antara jendela, pintu, kursi bambu dan sebuah meja kecil yang ada di sana cukup berdekatan. Keadaan di dalamnya lebih mirip sebuah markas, yang digunakan tidak lebih dari tiga atau empat orang.
Banyak benda seperti puntung rokok, botol minuman segar atau tisu serta bungkus makanan di mana-mana. Ada baju, jaket beberapa gelas kopi yang sudah kosong serta galon air mineral di sudut dekat tangga.
Ahnad bergerak mendekati Pingkan dengan gesit pula. Ia melepaskan tali tambang kecil yang mengikat tangan dan kakinya. Sementara Jingga melepaskan lakban di mulut sahabatnya dengan perlahan karena khawatir menyakitinya.
“Pingkan!” seru Jingga lirih. Dugaannya benar jika di dalam kawasan terlarang itu adalah tempat di mana temannya disembunyikan.
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Jingga, tapi Pingkan tidak menjawab, ia terlalu banyak perasaan hingga hanya bisa menangis.
Dua wanita itu saling memeluk dan bertangisan. Sementara Ahnad hanya menatap penuh emosional. Ia ingin memeluk juga, tapi ia tahu batasan di Amna dialah satu-satunya pria yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan keduanya.
Pingkan tidak bisa menahan rasa haru sekaligus lega karena ada teman, yang membantunya melepaskan diri dari ikatan juga lakban yang membungkam mulutnya. Ia sudah tidak tahan di tutup baik mata dan mulutnya. Apalagi ia ingin buang air, bertepatan dengan saat ia mendengar suara orang di bawah pohon. Ia ingin bergerak dan memaksakan diri untuk membuka ikatan di tangannya hingga ia terjatuh, dari kursi di mana ia didudukkan dalam keadaan terikat kuat
Pelukan dan kelegaan mereka tidak berlangsung lama, sebab tiba-tiba ada suara langkah kaki berjalan cepat mendekati rumah pohon. Itu suara seorang pria dewasa yang berteriak cukup keras.
__ADS_1
“Tetap di sana! Aku tahu kalian ada di atas!”
❤️❤️❤️❤️