
Ahnad Tertembak
“Pingkan! Tahan dia!” kata Jingga keras sambil menghapus keringat di hidungnya. Ia menunjukkan ke arah bagian bawah tubuhnya dengan maksud menunjukkan pada Pingkan bagaimana cara melumpuhkan pria di sudah tersungkur di atas tanah itu.
Sedari tadi Pingkan hanya berteriak dan menangis saja. Gadis itu ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia menoleh Jingga dengan air mata yang meleleh di pipi.
“Apa? Aku?” sahutnya heran. Seharusnya sehingga tidak mengandalkan dirinya karena dia tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan temannya.
“kamu cuma perlu duduk di atasnya agar dia tidak bergerak oke?” kata Jingga dengan segera menarik tangan Pingkan begitu gadis itu dekat padanya.
Dengan ragu Pinkan melakukan seperti yang dicontohkan Jingga, walau kakinya masih gemetar saat menekan tubuh gempal itu di tanah.
Mana tahan ia seperti itu, rasanya tidak tega. Biar bagaimanapun, yang ada di bawah tubuhnya adalah seorang pria yang jauh lebih tua dari dirinya.
Setelah Pingkan menggantikan posisinya, dengan cekatan Jingga melemparkan sesuatu yang ada di dekat kakinya. Itu adalah patahan dahan pohon yang tepat mengenai kepala laki-laki di dekat Ahnad.
Duk!
“Akh!” pekik pria itu seraya menoleh pada Jingga dan memegangi kepalanya.
Ia semula hendak membuat Ahnad semakin tak berdaya, karena pemuda itu sudah tergeletak karena terkena peluru tajam di kakinya. Namun, kini pun segera bangkit dan bergerak menuju Jingga.
“Dasar anak kurang ajar!” katanya seraya hendak melangkah dengan terhuyung, tapi belum sempat melakukan gerakan apa pun, Jingga sudah mengayunkan kaki kanannya ke arah kaki Karyo.
Syuut!
Duk!
Lalu, pria itu tersungkur ke tanah.
“Akh!” lagi-lagi Karya terjatuh dan kembali memegangi kepalanya, yang kembali ditinju oleh anak gadis itu.
“Uh!” kini ia memegangi perut karena terkena hantaman kaki Jingga ke arah lambungnya, mendadak ia jadi sakit kepala dan sakit perut. Ia meringis sambil mengusap bagian yang sakit.
“Keterlaluan!” gerutunya dengan kesal. Matanya memerah menatap Jingga seperti hendak menelannya hidup-hidup.
Tendangan kaki kembali diayunkan Jingga ke arah perut dan kaki serta pinggang Karya. Maksud semua itu adalah agar pria itu tak berdaya.
Sementara Ahnad melihat teman wanitanya itu begitu brutal. Ia seperti melihat beberapa gerakan takwondo wanita jagoan di film-film action yang pernah ia tonton.
“Maaf, Pak!” kata Jingga sambil berlutut. Kali ini ia mengambil beberapa tali dari akar kayu hutan, yang diambil Karyo tadi. Lalu, ia ikatkan ke kaki dan tangannya.
Senjata makan tuan, bukan pria itu yang seharusnya diikat, melainkan anak-anak, tapi anak-anak-lah yang kini justru mengikatnya.
Setelah selesai dengan Karyo, Jingga kembali ke tubuh gempal Dudin, ia mengikat kakinya terlebih dahulu, baru kemudian membalikkan badan pria itu, setelah berhasil mengikat tangannya.
__ADS_1
Jadi, kini posisi Karyo adalah terlentang di tanah dengan keadaan kaki dan tangan terikat, sama seperti Dudin juga.
Setelah semua selesai, ia tersenyum puas, menyeringai ke arah pria yang juga menatapnya penuh kebencian.
Dudin marah, tapi merasa putus asa dan tak percaya dengan akhir hidupnya akan seperti ini di tangan anak mantan majikannya.. Lari dari keluarga kaya seperti Jingga karena tidak mau repot-repot dengan urusan barang yang telah dicurinya dahulu. Lalu sekarang justru berhubungan dengan kejadian yang lebih buruk.
Sementara Pingkan sudah berlari ke arah Ahnad yang duduk dengan menahan kakinya, ia tampak begitu kesakitan. Betisnya terus mengeluarkan darah dan wajahnya sudah seputih kapas.
Ia menoleh pada Jingga, “Ga! Gimana nih, Ahnad? Darahnya banyak banget!”
“Gimana kamu, Ahnad?”
Jingga mendekat, dan melihat keadaan Ahnad, lagi-lagi dia mendapatkan ide untuk membebat luka temannya itu dengan sesuatu.
“Tunggu, kayaknya aku punya sesuatu buat nahan darah dan lukanya, sementara kita tunggu bantuan datang!”
Jingga berjalan cepat meraih tas ranselnya di tanah, lalu mengobrak-abrik isinya hingga menemukan jilbab instan kecil di dalamnya. Ia mengganti kerudung segi empat modern yang ia pakai dengan jilbab kecil dari dalam tasnya itu. Lalu, kembali ke Ahnad, menyibakkan bagian bawah celana panjangnya dengan perlahan agar bisa melihat jelas letak lukanya.
“Pakai ini saja mudah-mudahan bisa menahan darahnya biar gak keluar terus!” katanya, sambil melipat kerudung itu menjadi persegi panjang. Setelah rapi,ia segera membeliikan kain itu pada Ahnad.
“Terima kasih ya, Ga!” kata Ahnad sambil meringis.
Jingga mengangguk, “Itu bukan apa-apa ... sakit ya, Nad?”
“Iya, di dalam sini ada pelurunya!” katanya sambil meringis dan menunjuk betisnya.
Mereka terlihat cemas. Setelah selesai mengikat lawan dan berhasil menahan darah Ahnad dari luka tembak, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
“Bukan kamu yang salah, kalau bukan karena aku yang ngotot mau cari kamu, kita nggak mungkin dapet masalah!” kata Jingga. Tiba-tiba ia merasa bersalah, semua berawal dari sikap keras kepalanya.
“Kamu sih, Ga! Nekat banget orangnya!” Ahnad menimpali.
Saat itu, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Baik Ahnad maupun Jingga serentak mengambil ponsel di saku celana mereka. Sebelum melihat layar, keduanya kompak melihat langit.
Mungkinkah? Ini pertanda akan turun hujan lebat, dan kalau memang hal itu terjadi, itu artinya mereka akan terjebak di sana dalam hujan dan kedinginan.
Jingga melihat satu strip tanda sinyal di ponselnya. Ia tersenyum sambil berseru, “Alhamdulillah!”
“Ke kirim ya, pesannya?” tanya Pingkan dan Jingga mengangguk. Gadis itu sedikit terlihat lega setelah dari tadi hanya kepanikan yang terlihat di wajahnya, masih bersyukur tidak pingsan.
Sebagai wanita yang kurang pengalaman di berbagai bidang, wajar saja ia panik dan gelisah dalam situasi mengerikan seperti itu. Bagaimana tidak, nyawanya hampir melayang karena kejadian yang telah ia alami bersama temannya. Ini sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Atau mungkin juga kenangan menegangkan yang bisa diceritakan pada banyak orang, sampai kelak mereka dewasa dan menjadi tua.
Ahnad pun melihat hal yang sama, pesannya yang ia kirimkan beberapa waktu sebelum tertangkap, sudah terkirim entah sejak kapan. Ia hanya berharap bantuan segera datang. Kalau menunggu lebih lama lagi kemungkinan ia akan kehabisan darah. Atau dua laki-laki yang berhasil dilumpuhkan oleh Jingga itu, kembali menemukan kekuatannya.
Seandainya laki-laki itu melawan kembali secara bersamaan, Jingga tidak akan mampu melawan sendirian. Apalagi tenaga mereka sudah habis untuk bertarung tadi.
Ahnaf berusaha menggeser duduknya hingga mendekati Jingga, ia berbisik di telinga wanita itu. Setelah ia memikirkan baik-baik apa yang akan mereka lakukan sebelumnya. Ini memang penuh risiko tetapi mereka harus melakukannya.
__ADS_1
“Jingga!” panggilnya.
Gadis yang dipanggil itu menoleh sambil mengerutkan keningnya dan mengangkat dagu.
“Apa?”
“Cari pistol yang tadi terlempar, mumpung mereka masih kesakitan! Eh, kamu kuat, kan, tadi ngikat mereka?” tanya Ahnad, masih sambil berbisik.
Jingga segera menoleh pada dua laki-laki yang tidak berdaya di tanah itu. Ia tidak yakin dengan simpul tali yang dibuat tadi. Sebagai perempuan ia pikir sudah kuat, tapi ia tidak tahu apakah ikatannya bisa mengimbangi kekuatan laki-laki itu atau tidak.
Gadis itu tidak menunggu perintah Ahmad dua kali, dan langsung bergegas mencari pistol yang dimaksud oleh temannya. Pingkan pun segera mengikuti Jingga, walau ia tidak mendengar jelas permintaan Ahnad, tapi ia tahu maksud kedua temannya.
Akhirnya, mereka menemukan benda itu hampir bersamaan, dan Jingga memasukkan ke dalam tas ransel kecilnya.
“Hei! Kalian bocah kecil! Kembalikan pistol itu pada kami, kalian tidak berhak memegangnya itu benda berbahaya!” kata Dudin.
“Hei Pak Dudin! Kan, udah tahu itu benda berbahaya, kenapa masih dipakai juga, kalian menembakkannya kepada kami!”
“Kakian bisa kena hukuman kalau pegang senjata!” kata Karyo. Dua pria itu tampak berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
“Oh! Saya cuma mengamankannya, tapi kalian menggunakannya, kira-kira siapa yang akan dituduh lebih bersalah dan akan mendapatkan hikuman karena memegang benda berbahaya ini?”
“Kamu, dasar anak ingusan, awas saja nanti!” kata Dudin lagi.
“Pak Dudin, tahu nggak, Pak? Kalau tahu begini, saya nggak akan bela perbuatan Bapak di depan Ayah!”
“Memangnya apa perbuatanku, kamu tahu?” Dudin tertawa sambil mengalihkan pandangannya.
“Bapak tertangkap basah mencuri hp Ibuku, dan saya bilang kalau Bapak itu terpaksa karena kekurangan uang!”
Seketika Dudin tercengang mendengar pengakuan Jingga. Ia baru menyadari jika selama ini tidak dituntut apa-apa karena hal itu. Dahulu ia berpikir kalau keluarga Jingga akan menuntut atau menghukumnya. Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa, padahal ia sampai melarikan diri bersama keluarganya karena takut tertangkap.
Jingga melengos pada Dudin dengan sinis, ia menyesal membantunya. Ia tidak merelakan ayahnya yang akan melaporkan Dudin ke penjara karena pernah melihat kehidupan keluarga pria itu, dan salah satu anaknya ada yang berteman dengan Jingga.
“Neng, Jingga! Maafkan saya, Neng!” tiba-tiba Dudin memohon, membuat Jingga menilelah sambil mengerutkan keningnya pada pria itu.
“Trus, Bapak mau apa? Saya nggak akan tinggal diam sekarang karena Bapak sudah melukai teman saya dan berniat mengurung saya tadi!”
“Neng! Tolong lepaskan saya kali ini! Biar bisa melarikan diri, saya nggak mau di penjara di kantor polisi!”
Jingga bergeming dan ia menoleh antara Dudin dan Ahnad yang tiba-tiba gemetar. Ia semakin gelisah dan mendekat sambil melihat luka di kakinya. Itu mungkin berbahaya.
“Ahnad! Kamu nggak papa?” tanyanya.
“Neng! Lepasin saya! Ada obat di rumah pohon, bisa bantu buat teman Neng itu!” kata Dudin sambil terus berusaha melepaskan ikatan tangannya.
“Semua juga gara-gara Bapak!” kata Jingga dengan suara yang cukup keras. Perasaan bersalah, panik dan takut menjadi satu dalam hatinya.
__ADS_1
“Jingga, gimana ini! Gimana kalau Ahnad—“ kata Pingkan.
❤️❤️❤️❤️