
Dugaan Jingga Bukan Tanpa Alasan
“Kita berteman, kan?” Jingga balik bertanya, tatapannya lurus pada Ahnad yang memiliki postur tubuh sama tingginya dengan dirinya.
“Ya,” sahut Ahnad sambil menganggukkan kepala.
“Aku kira alasan itu sudah cukup!” tandas Jingga.
Ia pergi setelah itu, tapi Ahnad mengikutinya. Gadis itu menoleh, ia tidak peduli apakah temannya itu akan percaya atau tidak, akan menurutinya atau tidak. Ia hanya mengikuti jejak kaki atau semak yang terserak seperti habis dilalui seseorang. Semua terlihat dengan jelas di sana.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ahnad, saat melihat Jingga mengawali langkahnya dari arah belakang tenda, dan ia seperti orang yang sedang mencari sesuatu di tanah.
“Kamu lihat ini!” kata Jingga sambil menunjuk ke tanah dan sebuah ranting yang patah. Itu potongan dahan dari salah satu pepohonan yang tumbuh di sekitar tenda.
Ahnad melihat dan mengikuti arah yang ditunjukkan Jingga, seketika ia sadar, bahwa pengetahuan seperti ini adalah dasar dari bagaimana cara beradaptasi di alam liar, atau petunjuk arah yang mudah dipahami.
Bagaimana ia bisa lupa akan hal dasar seperti itu, lalu ia menoleh pada Pipit dan Iwan yang juga melihat ke arah mereka, karena Ahnad dan Jingga belum terlalu jauh.
Iwan penasaran, hingga ia mendekat.
“Ada apa?” katanya.
“Kamu lihat ini?” kata Ahnad, sambil menunjuk beberapa hal, seperti yang ditunjukkan Jingga.
Iwan dan Pipit sama-sama tercengang akan petunjuk yang merupakan dasar dari pengetahuan dalam mencari jejak di Pramuka. Tentu saja semua orang yang mengikuti kegiatan itu di sekolah akan tahu apa artinya petunjuk itu.
“Aku tahu, kenapa kamu mau ngari Pingkan?” tanya Iwan setelah melihat dan memikirkan hal itu, “kalian mau mengikuti petunjuk itu?”
“Ya. Kenapa nggak?” sahut Jingga tegas. Ia sudah memikirkan semuanya sejak mendengar, bagaimana kronologi kejadian tadi malam dari Ahnad. Itu artinya Pingkan di bawa seseorang atau gadis itu sendiri, yang berusaha mengelabuhi mereka semua dengan maksud dan tujuan tertentu.
Tapi apa? Apa dia orang jahat? Lagi-lagi Jingga menduga demikian.
__ADS_1
“Aku yakin ini perbuatan seseorang!” katanya lagi.
“Kalian nggak berpikir kalau jejak itu sengaja di buat oleh orang lain biar kita mengikuti mereka?” kata Iwan menanggapi ucapan Jingga.
“Kalau memang mereka memancing kita, kira-kira untuk apa?” tanya Ahnad.
“Aku juga mikir gitu dari tadi!” ujar Jingga. Ia termasuk murid yang pandai di kelas, Iwan, teman sekelasnya juga mengakui kepandaian Jingga, yang masuk dalam siswi berprestasi di sekolah.
“Kalian nggak takut kalau ternyata mereka orang jahat? Gimana kalau nyawa kita jadi taruhannya?” kata Iwan lagi, ia pria yang sederhana tapi penuh pertimbangan. Biar bagaimanapun seseorang tidak bisa ikut secara gegabah dengan keputusan orang lain. Apalagi, kalau itu soal keselamatan jiwa atau harga diri. Tidak ada salahnya mempertimbangkan secara matang.
“Kamu, terserah deh mau ikut apa nggak! Aku nggak maksa dan aku nggak takut!” kata Jingga.
“Kamu nekat banget, sih, Jingga!” ujar Pipit, ia juga ikut mawas diri.
Tidak ada komentar lagi setelah itu karena Jingga terus melangkah mengikuti petunjuk dan Ahnad berjalan di sisinya. Pria itu hanya mengikuti naluri ingin membantu, sedangkan pikirannya terus berkecamuk penuh pertimbangan antara kenyataan bahwa Jingga sangat keras kepala serta dugaan jika mereka terjebak dalam situasi sulit nantinya.
Pipit dan Iwan memutuskan untuk tetap tinggal. Mereka tetap menyalakan ponsel dan mengaktifkan lokasi demi memudahkan pencarian. Mereka tentu menunggu kabar dari kelompok satu yang akan mencari bantuan. Jadi, keadaan yang memaksa mereka untuk bertahan di sana.
Sudah beberapa kali ia mendaki bukit itu, beberapa kali juga ia bersama Jingga atau Pipit serta Ahnad. Semua dalam kegiatan yang hampir sama, tapi setiap kesempatan memiliki kenangan yang berbeda.
Seharusnya ia menambah keseruan dengan mengikuti jejak itu tadi, tapi sekali lagi karena ia tidak akan meninggalkan teman perempuannya itu sendiri. Jadi, ia sekarang duduk di tenda saja sambil memainkan ponselnya.
Sementara itu di antara Ahnad dan Jingga terjadi kebekuan, saat mereka melihat ada bercak darah di antara pepohonan. Meskipun tidak banyak, tapi sempat membuat mereka merinding. Ada beberapa pikiran buruk muncul secara bersamaan di otak mereka.
Sebagai anak SMA yang baru saja lulus, pengalaman seperti itu sungguh baru dan menegangkan. Apalagi terkait hal seperti pembunuhan atau tindak kekerasan lainnya. Meskipun banyak informasi dari berita di berbagai media, tapi mengalami sendiri itu, adalah hal yang berbeda.
Namun, keduanya tetap memberanikan diri melanjutkan perjalanan. Bukan karena mereka punya kelebihan, melainkan karena rasa penasaran yang jauh lebih besar.
“Nad, jejak darahnya habis sampai di sini, kamu lihat juga, kan?” tanya Jingga sambil menunjuk tetesan darah yang semakin kecil dan sudah tidak segar lagi. Kemungkinan sudah beberapa jam lamanya bercak darah itu menempel di beberapa benda seperti akar, batu, dahan dan dedaunan kering yang berserakan.
Ahnad diam, ia melihat ke sekitar yang pepohonan yang semakin lebat. Mereka sudah cukup jauh berjalan dari tenda dengan mengikuti jejak tadi. Semua petunjuk yang mereka dapatkan dari awal, berupa dedaunan kering yang terserak, seperti habis di lalui seseorang yang menyeret sesuatu di atas tanah. Ada bekas guratan yang cukup jelas di sana.
__ADS_1
Kalau pelakunya bodoh, maka ia tidak sengaja meninggalkan jejak yang sangat jelas seperti itu. Namun, kalau pelakunya pandai, mungkin jejak itu hanyalah memancing mangsa—siapa pun orangnya, ke sarang mereka.
“Jejak ini jelas banget, apa mereka sengaja?” tanya Ahnad, sambil terus melangkah mengikuti jejak itu.
“Kamu pikir mereka lebih dari satu orang? Kalau aku pikir sih, cuma satu orang!”
“Kayaknya iya, kalau dua orang ... nggak mungkin diseret kayak gini,” katanya ragu, ada rasa takut terselip di hatinya, kalau terjadi apa-apa dengan mereka maka Jingga jadi tanggung jawabnya.
“Iya, kalau dilihat dari bekas tanahnya, benda yang di seret ini berat, kalau enteng pasti gak akan jelas begini di tanah!”
“Hmm ... iya, ya udah! Ayo! Kita lanjutin, lebih cepat lebih bagus. Eh! Kamu nyalain lokasi, kan?”
Jingga mengangguk, walau ia tahu sinyal di pegunungan seperti ini lebih sulit di jangkau, tapi tetap menyalakan di mana lokasi mereka pada ponsel.
“Kira-kira orang ini bawa apaan ya, dari tenda kamu, Ga!” Ahnad bertanya dengan alis bertaut, sambil menatap gadis di depannya.
“Eh, ya mana aku tahu, Nad!”
Mereka bertatapan, dalam pikiran mereka mengarah pada orang yang sama, kemungkinan jejak itu menunjukkan jika Pingkan yang dalam keadaan tidur lalu di seret oleh seseorang tak dikenal.
Atau hal lainnya.
Jingga mengalihkan pandangan, sejenak kemudian ia merasa haus. “Kamu nggak bawa minum, ya?” kata Jingga setelah meneguk air minumnya. Saat itu ia menyadari Ahnad tidak membawa apa pun di badannya.
Pria itu mengangguk.
“Kalau kamu haus, bilang ya? Aku cuma bawa sebotol, jadi kita bagi dua!” Jingga berkata lagi sambil menggoyangkan botol air minumnya. Mereka sebenarnya lapar, karena belum mengisi perut dengan apa pun sejak bangun dari tidur. Namun, rasa penasaran sudah mengalahkan permintaan isi lambung mereka.
Jingga dan Ahnad sama saja dengan Iwan dan teman lainnya, yang tidak hanya sekali pergi ke bukit Alif itu. Sedikitnya mereka hafal jalan dan beberapa bivak yang sering digunakan untuk mendirikan tenda. Beberapa jalan yang mereka lalui di antaranya adalah, arah ke perkebunan warga. Ada beberapa penduduk lokal yang mencari rezeki dengan menanam palawija. Biasanya mereka membuka lahan di sana.
Namun, arah jejak yang Jingga dan Ahnad temui ternyata, menuju ke sebuah kawasan yang kata beberapa orang adalah, daerah terlarang.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️