Dugaan Jingga

Dugaan Jingga
Pukulan Telak


__ADS_3

Pukulan Telak Di Area Dua Kaki


“Tenang saja, mereka tidak akan mengejar kita!” kata Dudin, yang ia maksud adalah orang-orang yang dihubungi oleh Jingga. Ia tidak akan kalah oleh anak remaja itu begitu saja. Ia lebih berpengalaman. Kalau nanti keadaan sudah aman, ia akan mengambil ponsel milik mereka.


“Ahk! Kamu yakin begitu?”


“Ya, kan sudah kubilang! Kamu tenang saja, aku nggak takut sama gertakan anak kecil! Bawa mereka kembali ke markas! Sita hp mereka dan kita kurung saja, beres, kan?” kata Dudin.


Rekannya mengangguk, lalu ia mengikat tangan anak-anak itu dengan tali yang ia temui di sekitar mereka. Biar bagaimanapun mereka berada di hutan, sangat mudah mencari bahan yang bisa digunakan untuk mengikat tangan.


Sementara sang rekan yang bernama Karya, mengambil beberapa akar benalu untuk dijadikan pengikat, Dudin menodongkan pistol rakitan ke arah anak-anak.


Ia yakin dengan dugaannya, padahal dalam hati ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Ia manusia biasa yang juga takut kalau perbuatan dosanya ketahuan.


Dudin berusaha melawan rasa takutnya dengan melihat sekeliling, keadaan hutan yang sedikit lebat itu memungkinkan orang tidak mudah masuk. Ia merutuki temannya yang teledor meninggalkan jejak semalam. Kalau bukan karena keteledorannya, mereka tidak akan berada pada posisi sekarang.


Awalnya, ia melihat kejanggalan saat masuk pintu batu, dan berpikir kalau ada orang lain yang sudah melewati selain rekan sesama penjaga. Mana mungkin rekannya akan membiarkan pintu batu itu tetap terbuka. Bagaimana kalau ada orang yang tahu bahwa, batu di dekat tanaman merambat itu hanyalah kamuflase semata. Tidak akan ada orang yang menduga kalau batu itu adalah jalan masuk ke area yang disebut Hutan Larangan yang tertutup oleh semak-semak menjalar serta, apa yang ada di baliknya.


Oleh karena itu ia mencari temannya, tapi ternyata tidak ada orang di sana, rumah pohon itu kosong. Seharusnya rekannya tetap di sana sampai ia datang sesuai giliran jaga, sambil membawa makan siang mereka. Namun, ia lagi-lagi curiga kalau ada orang lain yang menyelusup di sekitarnya.


Dudin tidak menyangka kalau ternyata penyusup itu hanyalah anak-anak. Itulah yang ia dengar dari pengakuan rekannya, setelah mengakui perbuatan yang telah ia lakukan semalam. Jadi, setelah mendengar penjelasan kejadian dari awal, maka wajar kalau anak-anak itu bisa memasuki kawasan terlarang.


Mereka anak-anak yang cukup cerdas, berhasil mengikuti jejak kebodohan yang ditinggalkan sang rekan.


“Sst ...!” desis Jingga di ujung bibirnya.


Ia menyenggol Ahnad dengan siku tangannya, saat melihat Dudin yang mengedarkan pandangan ke sekeliling. Itu artinya mereka sedang tidak memperhatikan, ini kesempatan untuk mengambil tindakan bagi dirinya dan teman-teman. Ya, dengan kata lain, saat ini Dudin—orang yang menjadi musuh mereka, sekarang lemah.

__ADS_1


Lagi-lagi Jingga memberi isyarat agar bertindak, pada dua teman di sampingnya. Mereka bertiga bisa mengalahkan dua pria bertubuh tambun itu kalau bekerja sama. Begitu pikirnya.


Namun, masalah mereka adalah Pingkan. Gadis itu sudah menangis dan gemetaran, dan keringat membanjiri kening, itu artinya ia sangat ketakutan. Tidak bisa dibayangkan bajunya yang basah disebabkan oleh keringat di badannya.


Namun, yang terbersit di pikiran Jingga adalah, bagaimana caranya agar bisa bebas. Rasanya percuma sudah susah payah menuruni bukit kalau pada akhirnya harus kembali tertangkap. Sama saja bohong, usahanya sia-sia. Ia tidak akan diam begitu saja. Apalagi, dari awal ia sudah mengambil segala resiko demi menebus rasa penasaran dan menyelamatkan Pingkan. Jadi, mau tidak mau ya harus selamat.


“Hah!” seru Jingga sambil mengayunkan kaki kanannya lurus, menendang pistol di tangan Dudin.


Tak! Suara pistol beradu dengan punggung kaki Jingga. Pria itu terkejut, sambil mengibaskan tangannya yang sakit dan ketika sadar, pistolnya sudah terlempar ke semak-semak di sebelah kanannya dalam sekejap mata.


Jingga melakukan serangan secara tiba-tiba tanpa aba-aba lagi pada kedua temannya.


Gadis itu tidak memberikan kesempatan pada Dudin untuk mengambil tindakan lain. Sebelum pria itu melakukan serangan balasan, ia bergerak maju dan mengayunkan sebuah pukulan telak ke arah perut Dudin.


Jingga begitu percaya diri dan berpikir kalau temannya pasti bisa membantu, mumpung tangan mereka belum terikat.


“Ahnad!” pekiknya ketika ia sudah dalam posisi tegak dengan kedua tangannya siap melakukan pukulan kembali. Sementara Dudin mengaduh sambil membungkuk memegangi perut gendutnya.


Ahnad segera mengerti, ia pun berlari menghadang seorang pria yang hampir sampai ke tempat mereka berkelahi, ia menjegal Karya dan saat pria itu tersungkur, ia langsung memukul kepala dan menendang bagian perutnya. Alhasil pria yang tidak siap akan mendapatkan serangan itu, menodongkan pistol, mereka mempunyai senjata yang sama.


Tanpa pikir panjang, Ahnad menendang pistol itu seperti yang dilakukan Jingga.


Bersama dengan gerakan menendang yang dilakukan Ahnad, suara letusan senjata kembali terdengar.


Dor!


Tak!

__ADS_1


Jadi, Ahnad kembali tertembak bersama dengan saat ia berhasil menendang senjata itu.


“Ahk!” pekiknya.


“Ahnad! Huu, huu, huu ...!” suara Pingkan menangis, sambil berjongkok di antara semak-semak. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Pingkan sudah sangat kelelahan dari semalam, hingga saat melihat perkelahian di hadapannya, ia semakin lemas dan gemetar. Apalagi, tenaganya sudah hampir habis untuk merangkak menuruni bukit.


Lengkap sudah rasa lelahnya, jiwa dan raga. Sekarang, ia kembali melihat temannya berlumuran darah, ia semakin tidak tega. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena semua tidak akan mungkin terjadi kalau bukan karena mereka akan menyelamatkannya.


Tidak ada yang menyangka semua ini akan terjadi, sedangkan Ahnad baru saja terluka tadi. Ia memaksakan diri melakukan pukulan sambil menahan rasa sakit di bahu sebelah kiri. Sekarang, kaki sebelah kanannya yang tertembak. Dan, kali ini benar-benar ada sebutir peluru tertancap di betisnya.


Sementara itu Jingga sudah berpeluh-peluh memukul tubuh Dudin yang gemuk dan meringkusnya tanpa ampun. Saat suara pistol terdengar, ia segera menoleh. Saat itu, ia dalam posisi sedang berlutut di tanah dengan badan pria paruh baya—yang pernah bekerja di rumahnya itu, sebagai tumpuan kakinya.


Dudin sudah tak berdaya karena Jingga sudah menjatuhkan beberapa pukulan, ke perut dan kakinya hampir bersamaan. Gerakan anak perempuan itu sangat cepat. Pria itu menyesal, tidak pernah berlatih bela diri tangan kosong lagi hingga kesulitan menghadapi serangan anak perempuan yang memiliki kemampuan.


Bukan ia tidak melawan dan melakukan serangan balik, tapi setiap kali ia hendak memukul atau menarik jilbabnya, Jingga selalu bisa mengelak dengan gesit, bahkan berbalik memukulnya dengan telak ke area vitalnya.


Dudin menggerutu berkali-kali karena rasa sakit di antara dua pahanya tak tertahankan. Luar biasa sakitnya karena Jingga mengerahkan hampir seluruh sisa tenaga untuk menendang, lalu membuatnya tak berkutik, tersungkur di tanah. Gadis itu gila menurutnya, karena menggunakan dengkul untuk menekan punggungnya.


Rasa sakit di area dua kakinya belum habis, punggungnya yang kini mendapatkan giliran.


Jingga melihat Ahnad terjerembab dan Karya hampir bangkit berdiri.


“Pingkan! Tahan dia!” kata Jingga keras sambil menghapus keringat di hidungnya.


Sedari tadi Pingkan hanya berteriak dan menangis saja.

__ADS_1


“Apa? Aku?” sahut Pingkan.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2