
Jarak Tempuh Memutar
“Woi! Bandi!” tiba-tiba terdengar suara orang dewasa lain mendekat ke arah Jingga, Ahnad dan Pingkan.
Mereka yang semula masih berada di toilet, segera berhamburan untuk bersembunyi. Ketiga anak itu sempat kebingungan, tapi sesaat kemudian, Jingga melihat sebuah tumpukan karung dan tong kayu besar di belakang toilet itu. Mereka segera berlari ke sana dengan cepat sambil merunduk.
Gerakan merunduk harus dilakukan karena tanaman di bagian bawah, lebih lebat dari bagian atas. Banyak semak belukar di antara tumbuhan yang dilarang dikonsumsi itu.
Baik Jingga Ahnad maupun Pingkan, berjongkok di antara tumpukan karung. Jingga sempat mengorek lapisan karung dan ia melihat isi di dalamnya seperti dedaunan kering. Dari arah karung mengeluarkan bau agak tidak sedap. Itu pupuk atau semacam kompos yang digunakan untuk menyuburkan bibit tanaman. Pupuk kompos biasanya dihasilkan dari sampah atau tanah yang dicampur dengan kotoran binatang.
Pada saat yang sama, seorang pria yang juga bertubuh tambun berjalan dengan cepat ke arah rumah pohon dan menaiki tangganya.
“Bandi! Ayo turun!” kata pria itu lagi, sambil mendongak ke arah pintu yang terbuka, wajahnya terlihat kesal.
“Pak Ludi?” kata Jingga lirih sambil mengerutkan alisnya. Sontak kedua temannya menoleh dengan kerutan alis yang sama dalamnya.
“Kamu kenal orang itu?” tanya dua temannya, Pingkan dan Ahnad, hampir bersamaan. Namun, mereka hanya berbisik-bisik saja sehingga laki-laki yang sekarang sedang berada di atas rumah pohon, tidak mendengarnya.
Jingga mengangguk dan di saat itu juga, pria yang diketahui Jingga bernama Ludi itu melongok ke jendela. Wajahnya keruh dan ia memukul daun jendela itu keras hingga suaranya terdengar oleh tiga anak remaja di bawah sana.
“Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanya Pingkan.
“Berapa orang yang kemarin menyekap kamu di sini, Ping?” Jingga balik bertanya.
“Cuma satu!”
Mereka bercakap-cakap dalam posisi yang sama dan dengan suara rendah. Cuma di antara mereka sendiri yang bisa mendengar.
“Yang mana?” tanya Ahnad.
“Orang gendut yang lagi keluar!”
“Oh, kalau gitu bagaimana kalau kita tunggu biar orang itu pergi juga?” kata Ahnad lagi.
“Tapi, gimana kalau orang yang satu lagi justru kembali?” kata Jingga.
“Ayo! Telepon pak guru atau siapa saja biar bantu kita!” kata Pingkan.
“Nggak ada sinyal!” sahut Ahnad dan Jingga bersama-sama.
__ADS_1
“Sial!” Pingkan mengumpat keras.
“Huss! Diam!” kata Ahnad, “Awas kedengaran!”
“Ayo kita jalan pelan-pelan, kayaknya Pak Ludi lagi nunggu temannya di dalam!” kata Jingga sambil membungkuk dan memegangi tas ranselnya. Ia mendahului dua temannya mencari jalan keluar, yang dia perkirakan tidak terlihat dari arah jendela rumah pohon itu.
“Iya! Ayo!” Ahnad berseru dan mengikuti langkah Jingga, dengan cara membungkuk pula.
Pingkan berjalan di belakang mereka berdua. Jantung dan tubuhnya sudah gemetaran sejak ia melihat orang yang disebut Ludi oleh Jingga. Wajahnya pucat dan perutnya lapar.
Namun, soal lapar, bukan Cuma Pingkan saja, melainkan Jingga dan Ahnad juga. Mereka belum ada yang makan sejak bangun tidur tadi pagi. Sementara matahari mulai menampakkan kegarangannya di atas kepala mereka.
Tiba-tiba terdengar suara motor menderu dari kejauhan semakin lama semakin dekat. Anak-anak itu menghentikan langkah dan saling bertukar pandangan.
“Perasaan nggak ada jalan motor, deh, di sini!” kata Pingkan. Ia berusaha keras melawan segala ketakutan dalam hatinya dan mulai berpikir keras.
“Kayaknya, setiap jalan setapak yang bisa dilewati manusia, hampir semuanya bisa dilewati motor, deh! Kecuali sungai!” kata Jingga.
“Sungai juga bisa kalau cuma nyebrang terus airnya nggak dalam!” sahut Ahnad.
“Ya, ya, sekarang gimana ini?” tanya Pingkan.
Jingga benar-benar melihat pemandangan Batu Payung dari samping. Saat itu ia sempat menduga jika lokasi mereka sebenarnya dekat. Kalau tidak, mana mungkin ada orang yang berkeliaran malam-malam di sana. Bahkan, menculik teman mereka.
“Masa?” tanya Ahnad dan Jingga mengangguk yakin.
“Jadi, kemungkinan ada jalan pintas dari sini sampai ke Batu Payung, cuman kita nggak tahu nih, jalannya gimana?” kata Jingga lagi.
“Nah, aku juga mikir sama, aku juga lihat, kok, Ga! Cuma aku mikir lagi, akh nggak mungkin, soalnya kan, aku nggak sadar semalam itu, pas aku bangun udah pagi dan—“
Ucapan Pingkan yang hendak menceritakan pengalamannya terhenti. Padahal ia sudah tidak sabar ingin mengatakan bagaimana semalam, bisa berada di rumah pohon itu bersama orang asing. Namun, ia tidak bisa melihat apa pun karena mata dan mulutnya tertutup.
Seketika suara motor semakin dekat, lalu lewat di depan mereka. Baik Jingga, Ahnad maupun Pingkan terpaksa menunduk lebih dalam lagi. Anak-anak remaja yang berteman itu melihat orang yang tadi hampir memergoki mereka sudah kembali. Kalau orang itu mencari dengan menggunakan motor trail itu, kemungkinan besar pasti tertangkap!
“Bagaimana, ini?” tanya Pingkan lagi, ia terlihat pias dan gemetar, sedangkan air mata sudah meleleh di pipi.
Ia sangat takut dengan segala kemungkinan yang terjadi. Perjuangan semalam berada di tempat yang aneh seorang diri saja, sudah membuatnya hampir mati. Apalagi sekarang, ia tidak ingin kalau tertangkap untuk kedua kali.
“Tenang Ping!” kata Jingga sambil menepuk bahu sahabatnya.
__ADS_1
Sejak tadi pikirannya sudah berkelana mengira-ngira jarak tempuh antara rumah pohon dan Batu Payung sesuai penglihatannya. Jika ia perkirakan, kemungkinan ada sesuatu yang memisahkan antara Batu Payung itu, dengan rumah pohon sehingga apabila mereka melewatinya akan lebih sulit. Namun, sepertinya akan lebih baik daripada tertangkap.
Seandainya tidak ada sesuatu yang memisahkan antara rumah pohon dengan Batu Payung, kemungkinan tempat itu akan menyamai tempat yang biasa digunakan berkemah.
“Bisa jadi, ada sungai atau tebing di antara Batu Payung sama tempat ini!” kata Jingga tiba-tiba.
Kalau hendak kembali dan melihat lebih jelas, itu tidak tidak mungkin. Sama saja mereka memundur ke belakang dan itu artinya menyerahkan diri untuk ditangkap. Apabila mereka berjalan melalui jalan yang sama, ketika mereka masuk tadi--melewati batu besar sebagai pintunya, itu juga tidak mungkin. Mereka akan terlihat jelas dari rumah pohon sehingga jalan satu-satunya adalah, melewati arah samping di mana mereka bersembunyi saat ini.
Jingga mengambil ponselnya dan melihat aplikasi penanda lokasi terakhir pada situasi dirinya di tenda, sebelum sinyalnya tidak ada. Mereka hanya bisa memperkirakan dari lokasi itu. Kalaupun berubah, lokasi awal mungkin tidak akan terlalu jauh.
“Kamu ini ngomong apa, sih, Ga?” tanya Ahnad.
“Cuma perkiraan saja, jarak kita sekarang sama Bivak satu!” kata Jingga sambil melihat ponsel di mana terakhir lokasinya berada. Kemudian ia segera mengira-ngira posisinya. Arah yang benar memang menuju ke selatan dari tempat mereka berdiri sekarang.
“Jadi, maksud kamu, kita akan mengikuti arah itu? Akh! Yang bener aja?” sela Ahnad tidak percaya.
“Ya, kan, ini Cuma perkiraan!” sahut Jingga ketus. Ia dan Ahnad sejak tadi selalu beda pendapat.
“Gak apa, berarti kita ke arah selatan, kan?” kata Pingkan terlihat pasrah.
“Ya, ke arah selatan!” ujar Jingga yakin.
“Tapi, kita nggak bisa ngikutin arah itu karena nggak ada sinyal, kemungkinan sudah berubah lokasi kita!” tukas Ahnad lagi.
“Memang, tapi kayaknya nggak terlalu jauh, yang penting kita bisa keluar dari sini, gimana?” tandas Jingga.
“Ya sudah, aku ikut saja sama kamu, Ga! ayo cepetan!” kata Pingkan sambil berjalan cepat.
Pinkan justru berjalan lebih ke arah samping dan lurus hingga kemudian diikuti oleh Jingga dan Ahnad, setelah melempar pandangan. Laki-laki itu hanya mengendikkan bahu dan ia mengikuti Pingkan lebih dulu.
Mereka tetap merunduk secara hati-hati.
Namun, tiba-tiba terdengar suara keras berseru pada mereka dari arah kejauhan.
“Hai! kalian mau lari ke mana? Jangan anggap kalian bisa lari ya!”
Suara itu kemudian diikuti oleh suara motor yang melaju.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1