
Tok! Tok!
Azura membuka pintu rumah Dillon. Lalu, Dillon masuk kedalam rumah sambil memberikan keranjang yang berisi bunga.
"Wah! cantik banget bunganya. Makasih ya."
"Iya sama-sama."
Dillon tersenyum melihat Azura yang kesenangan menerima hadiah darinya.
"Oh iya! terus aku harus ngasih apa ke kamu?"
"Kamu tidak perlu memberiku hadiah."
"Aku pergi cari sesuatu buat kamu ya."
"Aku bilang tidak usah!" ujar Dillon sedikit membentak.
Azura menundukkan kepalanya dan ia meminta maaf kepada Dillon karena sepertinya ia sangat cerewet.
"Aku cuma tidak ingin kamu kenapa-napa. Sebab, aku takut ada peri yang mengenali bahwa kamu manusia," jelas Dillon.
"Ya udah aku gak akan pergi," kata Azura.
"Kamu lapar tidak?" tanya Dillon.
"Aku lapar."
Dillon mengambil buah dan ia meletakkannya di meja.
"Ayo makan!" perintah Dillon. Lalu, Azura memakan buah itu.
"Kamu gak makan?"
"Tidak, aku sudah makan saat diperjalanan mencari bunga."
Azura merasa bersalah kepada Dillon, karena ia terus mencari berbagai macam bunga hanya untuk Azura.
"Jika aku tidak ada disini, kamu bakal kesepian gak?" tanya Azura karena ia sangat penasaran.
Dillon diam sejenak. "Tentu saja tidak. Sebab aku sudah terbiasa sendiri."
"Keluarga kamu kemana?"
"Keluargaku sudah tidak ada."
Azura meminta maaf, karena ia tidak tahu soal itu. Selain itu, Azura juga berterima kasih kepada Dillon karena dia sudah menjaga Azura selama di dunia peri.
"Hmm...kamu kapan ke dunia manusia lagi?" tanya Azura.
"Entahlah. Sepertinya aku tidak akan kesana lagi," kata Dillon.
"Kamu punya kertas gak?" tanya Azura, lalu Dillon menjawab bahwa dia punya.
"Memangnya untuk apa?" tanya Dillon, lalu Azura menjawab bahwa ia ingin menulis sesuatu untuk Dillon. Jadi jika Dillon merindukan Azura, Dillon tinggal melihat tulisan itu.
Dillon menyuruh Azura untuk menunggu, lalu ia pergi keluar.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, ia kembali menghampiri Azura dengan membawa tangkai daun.
"Itu buat apa?"
"Ini untuk menulis."
Azura mengerutkan keningnya, karena ia baru tahu bahwa tangkai daun bisa digunakan untuk menulis.
Lalu, Dillon mengambil kertas. Kemudian, ia mencotohkan cara menulis menggunakan tangkai daun.
"Bagaimana? kamu sudah paham dengan cara menulisnya?" tanya Dillon, lalu Azura mengangguk paham.
"Ya udah sini! aku pingin menuliskan sesuatu," kata Azura,. kemudian Dillon memberikan tangkai daun itu. Ia mencelupkan tangkai daun ke tinta, lalu menulis namanya di kertas.
"Ini buat kamu. Sebagai kenang-kenangan dari aku." Azura memberikan kertas tersebut kepada Dillon.
...****************...
Selesai menikmati sarapan pagi, kedua polisi itu berpamitan kepada Asyifa, Felly dan Widya.
"Ya sudah kalau begitu kami akan mencari Azura kembali," kata Pak Dani.
"Makasih sudah membantu kami, Pak," ujar Asyifa, Felly dan Widya bersamaan.
"Iya sama-sama, lagian itu tugas kami" ujar Pak Putra. Setelah itu, keduanya pergi.
Asyifa, Felly dan Widya berdiskusi, apakah sekarang waktu yang tepat untuk menelpon kedua orang tua Azura atau tidak. Dan Asyifa berkata bahwa ini waktu yang tepat, karena bagaimanapun orang tuanya pasti ingin tahu kabar Azura.
"Mau ditelepon sama siapa?" tanya Widya.
"Sama Asyifa aja," kata Felly.
Lalu, Asyifa segera menelpon mamah Azura
Tak menunggu lama, Mamahnya Azura menjawab telepon dari Asyifa. "Hallo."
"Tante. Asyifa, Felly sama Widya minta maaf ya."
"Minta maaf soal apa?"
"Azura diculik, Tante. Maafin kita karena gak bisa jagain Azura."
Mamah Azura menangis karena syok mengetahui jika anaknya diculik.
"Kalian udah lapor polisi belum?"
"Udah, Tante."
"Ya udah kirim alamat desanya sekarang! nanti tante bakal kesana," ujar Mamah Azura, setelah itu ia mematikan panggilan teleponnya
...****************...
Sore hari
Kedua orang tua Azura menghampiri Asyifa, Felly dan Widya. Mereka bertanya apakah Azura sudah ditemukan atau belum. Dan ketiga sahabatnya Azura menjawab jika Azura belum ditemukan.
Mamah Azura menangis, lalu Papah Azura memeluknya dan menenangkannya. "Tenang, Mah. Azura pasti ketemu kok."
__ADS_1
"Tante, Om. Sebenarnya Azura udah hilang selama dua hari," kata Felly.
Mamah Azura semakin menangis mendengar perkataan Felly.
"Kalian kenapa gak telepon kami dari hari-hari sebelumnya?"
"Soalnya kita kira Azura lagi jalan-jalan disekitar desa," jawab Widya.
"Terakhir kali dia sama siapa?" tanya Papah Azura.
"Sama saya, Om," ujar Asyifa, kemudian ia menceritakan kejadian kemarin.
Papah Azura pergi menuju taman dan yang lainnya mengikuti papah Azura dari belakang.
"Azura!" teriak Papah Azura.
"Azura, kamu dimana?" teriak Mamah Azura.
"Tante, yang sabar ya. Felly yakin kok kalau Azura pasti baik-baik aja," kata Felly.
Asyifa jadi semakin merasa bersalah ketika melihat Mamah Azura menangis.
"Permisi," ujar Pak Surya yang baru saja datang.
"Anda siapa ya?" tanya Mamah Azura.
"Itu pemilik rumah yang kita tempati, Tante," kata Felly.
"Ada apa, Pak?" tanya Mamah Azura sambil mengusap air matanya.
Pak Surya menenangkan mereka semua. Ia juga memberitahu bahwa Azura akan baik-baik saja.
Mungkin saja nanti akan ada orang yang menolongnya dan mengantarnya kesini
"Pak, saya boleh bicara sesuatu gak?" tanya Asyifa, lalu Pak Surya hanya mengangguk seraya menjawab boleh.
"Waktu itu bapak bilang katanya di taman ini ada penunggunya. Apa jangan-jangan Azura diculik ya sama penunggu taman ini?" tanya Asyifa, lalu Pak Surya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.
"Saya waktu itu cuma menakut-nakuti kalian saja, supaya kalian berempat jangan keluar dimalam hari," ujar Pak Surya.
Entah kenapa Pak Surya seperti menyembunyikan sesuatu. Karena tak mungkin dia berbicara seperti itu hanya untuk menakut-nakuti.
Dilihat dari ekspresi Pak Surya juga dia hanya tersenyum, seolah-olah ia tidak panik ketika ada orang yang hilang.
Asyifa jadi curiga bahwa sebenarnya dalang dari penculikan Azura adalah Pak Surya.
Sepertinya Pak Surya tahu bahwa diantara kami berempat pasti ada yang penasaran dengan taman, sehingga diantara kita pasti ada yang kesana untuk melihat taman.
Dan mungkin saja pada malam itu ia melihat Azura yang sedang sendirian di taman dan pada akhirnya dialah yang menculiknya.
"Felly, aku mau bicara sesuatu sama kamu," ujar Asyifa sambil menarik Felly ke tempat yang agak jauh dari taman.
Setelah berada jauh dari Pak Surya, Asyifa langsung melepaskan genggamannya.
"Kamu mau bicara apa?" bingung Felly.
"Apa jangan-jangan Pak Surya pelakunya?" tuduh Asyifa.
__ADS_1
"Kamu gimana sih. Kamu sendiri bilang katanya jangan nuduh sembarangan, tapi sekarang kamu juga malah nuduh Pak Surya sebagai pelaku penculikan Azura," kata Felly.
"Masalahnya dia mencurigakan banget. Makanya aku jadi yakin kalau dia pelaku penculikan Azura," kata Asyifa.