
Keesokan harinya, Dillon mengantar Azura ke perbatasan antara dunia peri dan dunia manusia.
Azura memanggil Dillon, spontan Dillon menoleh kearah Azura. "Iya, ada apa?"
"Makasih ya atas segalanya," ujar Azura.
"Iya sama-sama," kata Dillon.
"Kamu jangan lupain aku ya."
"Iya, aku tidak akan melupakanmu."
Lalu, Azura dan Dillon tersenyum mengingat sekarang mereka tidak akan bertemu lagi.
"Nanti aku boleh main lagi kesini, kan?" tanya Azura, namun Dillon hanya diam saja.
Azura mengalihkan pembicaraan. "Yang dipegang kamu itu apa?
Dillon menjelaskan bahwa yang dipegangnya adalah sebuah ramuan.
"Ramuan buat siapa?"
"Untukmu."
"Nanti ramuannya diminum ya," suruh Dillon.
"Kamu mau bunuh aku ya?"
Dillon tertawa karena ucapan Azura. Sedangkan Azura, ia sangat ketakutan karena ternyata Dillon ingin membunuhnya.
"Jadi kamu mau bunuh aku?" ulang Azura.
"Tidak. Sudah kubilang aku tidak akan membunuhmu."
"Terus itu ramuan buat apa?"
"Agar kamu tidak mengingat tentang dunia peri."
Ramuan itu adalah ramuan agar seseorang melupakan dunia peri. Jika begitu, berarti Azura akan melupakan dunia peri terutama melupakan Dillon.
Mendengar hal itu, Azura merasa sedih. Karena sejujurnya ia sama sekali tidak ingin melupakan Dillon.
Dillon menatap Azura. "Jangan bersedih."
Bagaimana tidak bersedih, sedangkan Azura disuruh Dillon untuk melupakannya. Padahal kalau boleh Azura jujur, ia sangat menyukai Dillon meskipun Dillon adalah seorang peri.
Skip
Sesampainya diperbatasan antara dunia peri dan manusia. Dillon langsung mendarat dan menurunkan Azura dari pangkuannya.
"Kita sudah sampai diperbatasan antara dunia peri dan manusia," ujar Dillon.
Azura memandangi cahaya yang ada didepannya. Cahaya tersebut sangat silau, sehingga Azura haru menyipitkan matanya.
"Dillon. Ingat ya jangan lupain aku."
"Iya, aku tidak akan melupakan kamu," ujar Dillon sambil tersenyum. Melihat Dillon tersenyum, Azura pun jadi ikut tersenyum.
__ADS_1
"Aku simpan ramuannya di keranjang bunga ya," kata Dillon, lalu Azura mengangguk.
"Dillon, aku boleh peluk kamu gak?" tanya Azura, lalu Dillon memperbolehkan Azura untuk memeluknya.
Azura menaruh keranjang bunga di tanah dan ia langsung memeluk Dillon dengan erat. Begitupun Dillon, ia membalas pelukan Azura dengan erat.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka berdua melepaskan pelukannya.
Azura menatap wajah Dillon, sejujurnya ia sangat sedih, apalagi ia mengetahui bahwa Dillon hanya hidup sebatang kara.
Dillon tampak kebingungan."Ada apa?"
Azura memegang pipi Dillon dengan kedua tangannya, lalu ia mencium bibir Dillon.
Chup
Dillon membulatkan matanya, ia tak percaya bahwa Azura akan menciumnya.
Tak lama, Azura melepaskan ciumannya.
Kemudian, Dillon mendekat ke wajah Azura dan itu membuat Azura menutup kedua matanya.
Dillon mencium bibir Azura dan sebaliknya, Azura membalas ciuman Dillon.
Setelah selesai berciuman, Azura mengambil keranjang bunga pemberian Dillon.
"Sampai jumpa, Dillon," ujar Azura sambil tersenyum.
Lalu,.Azura berjalan lurus sambil menutup matanya.
Setelah merasakan sesuatu pada tubuhnya, Azura membuka kedua matanya karena ia yakin bahwa saat ini tubuhnya telah kembali ke semula.
Azura tidak lama pingsan setelah meminum ramuan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Azura kembali membuka kedua matanya. "Loh! kenapa aku tidur disini."
Azura melihat miniatur keranjang bunga yang berada di genggamannya. "Apa ini? lucu banget."
Setelah itu, Azura berjalan menuju rumah dan ia terkejut karena melihat mobil Papahnya.
Azura langsung masuk kedalam rumah. "Mamah, Papah!" teriak Azura.
Semuanya menatap kearah Azura. Mereka terkejut karena kedatangan Azura. Lalu, Mamah Azura berlari kearah Azura dan ia memeluk Azura dengan sangat erat.
"Kamu dari mana aja, sayang?" tanya Mamah.
"Azura dari taman, Mah."
"Taman? kita dari kemarin nyariin kamu dimana-mana, tapi kamu gak ada di taman," kata Papah.
Dari kemarin katanya? perasaan dari kemarin Azura hanya ada di rumah dan juga dari kemarin kedua orang tuanya tidak ada disini.
"Kemarin itu kamu hilang," jelas Papah.
Azura menggaruk kepalanya, bukan karena kepalanya gatal, tetapi ia sangat bingung dengan perkataan Papahnya.
"Kamu sebenarnya habis dari mana sih?" tanya Mamah.
__ADS_1
"Dari taman, Mah. Azura ketiduran di taman."
"Tapi dari kemarin kita udah cari di taman, tapi gak ada kamu," kata Mamah.
Azura semakin bingung, karena sepertinya mereka sedang menjahili Azura.
"Lebih baik sekarang kita pulang aja yuk! Mamah takut kamu hilang lagi," kata Mamah.
"Tapi Azura kan mau liburan bareng teman-teman, Mah," keluh Azura.
"Lain kali aja liburannya, Ra. Lagian kan kita bisa kapan-kapan lagi mainnya."
"Ya udah nanti biar papah aja ya yang nyetir mobil kamu. Mah, nanti mamah bareng Azura pulangnya dan papah bareng teman-temannya Azura," kata Papah.
Karena Mamah Azura ingin buru-buru pulang. Ia menyuruh Azura dan sahabat Azura untuk cepat-cepat membereskan barang-barangnya. Lalu, Azura dan ketiga sahabatnya pergi menuju kamar.
"Ra, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Asyifa.
"Aku gak apa-apa kok. Emangnya kenapa sih? kok kayaknya kalian semua khawatir banget."
"Ya iyalah khawatir! kan kamu hilang beberapa hari."
"Oh iya, gue kenapa bisa ada di taman ya?"
Asyifa menatap kearah Azura, ia merasa jika ada yang salah dengan Azura.
"Ra, emang kamu gak inget sama sekali?" tanya Asyifa, lalu Azura hanya menggelengkan kepalanya.
"Kayaknya emang bener deh kalau kamu dibawa ke dunia lain sama penunggu taman itu," kata Asyifa.
"Dunia lain?
"Iya, kamu sendiri yang bilang ke kita bahwa kami mimpi ketemu cowok bersayap."
Cowok bersayap? memangnya ada seorang manusia yang memiliki saya? itulah yang membuat Azura ingin tertawa, pasalnya itu semua hanya mimpi, jadi tidak mungkin Azura mempercayai mimpi seperti itu.
Asyifa menatap datar kearah Azura. "Kemarin aja kamu bersikeras bahwa taman itu ada penunggunya. Tapi sekarang kami malah ketawa kayak gitu."
"Oh iya! aku menemukan ini di taman," ujar Azura sambil memperlihatkan miniatur keranjang yang didalamnya terdapat berbagai macam bunga.
Azura juga menjelaskan bahwa dia tidur di taman itu. Dan saat ia bangun, ia menggenggam miniatur tersebut.
Karena penasaran, Asyifa mengambil miniatur tersebut dan melihatnya secara dekat.
"Dillon? Ini kok ada tulisan Dillon," kata Asyifa.
"Kayak pernah denger namanya. Oh iya! Dillon dan milea."
"Itu dilan," ujar Asyifa sambil tertawa.
Skip
Diperjalanan pulang, Azura merasa kalau Mamahnya terus menatapnya seolah-olah dia takut kehilangan Azura.
"Azura, kamu beneran gak apa-apa, kan?" tanya Mamah.
"Iya, Azura gak apa-apa kok,.Mah."
__ADS_1
"Nanti jangan liburan kesana lagi ya. Soalnya Mamah takut kalau kamu hilang lagi."
"Iya, Azura gak akan kesana lagi kok, Mah."