Dunia Fantasi

Dunia Fantasi
Peri campuran


__ADS_3

Dillon menatap Azura seolah-seolah dia tidak percaya jika Azura bisa mengendarai mobil.


"Kamu yakin bisa mengendarai kendaraan ini?" tanya Dillon sedikit cemas.


"Tenang aja. Aku bisa kok."


Cara mengendarai mobil didunia peri sama saja seperti mengendarai mobil didunia manusia. Jadi Azura tidak akan takut saat mengendarainya.


Setelah Azura melajukan mobil, Dillon tampak terpesona dengannya. Apalagi Azura sesekali mengendarai mobil dengan menggunakan satu tangan.


"Kamu hebat banget," kata Dillon.


"Kamu mau coba mengendarainya?"


"Tidak. Aku tidak bisa mengendarai mobil."


"Coba aja. Aku yakin kamu akan bisa."


Dillon menggelengkan kepalanya. Dengan melihatnya seperti itu, membuat Azura tidak akan memaksanya.


...****************...


Sore hari


"Guys! Azura kemana sih?" tanya Felly, karena ia sudah lelah mencari Azura.


"Apa jangan-jangan bener lagi tentang ucapan dia yang kemarin," kata Asyifa.


"Maksudnya tentang mimpi itu?" tanya Widya, lalu Asyifa hanya mengangguk.


Felly dan Widya masih tidak bisa percaya akan mimpi Azura.


"Karena dia cerita tentang dunia itu, aku jadi agak percaya sih," kata Asyifa.


"Tapi bisa aja dia bohongi kita, supaya kita percaya dengan apa yang dia ucapkan," kata Widya.


"Tapi coba pikir aja, masa dia belum datang juga," kata Asyifa.


Felly berpikir bahwa Azura sengaja menghilang, agar ketiga temannya percaya dengan yang ia ucapkan. Akan tetapi berbeda dengan Asyifa, karena Azura tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu.


"Lagian masa dia gak bawa handphone dan mobilnya."


"Bener juga apa kata kamu," kata Felly.


"Terus kalau misalnya beneran kita harus apa?" tanya Widya.


"Apa kita harus ikutan dia ke dunia itu?" tanya Felly.


Lalu Asyifa menjawab iya, karena bagaimanapun Azura sahabatnya.


"Ya udah kamu aja yang kesana," kata Widya.


"Kamu gak solidaritas ya jadi orang," kesal Asyifa.


"Ya kamu pikir aja sendiri! Gimana kalau kita juga kejebak di dunia itu? Emang kamu mau tinggal selamanya didunia itu?" tanya Widya.


Asyifa diam saja. Sedangkan Felly, ia menenangkan mereka agar tidak bertengkar.


"Kita tunggu aja, siapa tahu Azura baik-baik aja," kata Felly.


"Mau kemana?" tanya Felly saat melihat Asyifa pergi.


"Ke taman," jawab Asyifa


Skip


"Azura!"

__ADS_1


"Kamu dimana?"


"Kamu dimana sih, Ra?"


Asyifa menghela nafasnya dan ia duduk dikursi taman.


Asyifa berpikir, apa jangan-jangan dia menghilang dari semalam? atau mungkin saat itu dia diculik?


Iya benar, mungkin saja dia diculik orang. Makanya sampai sekarang dia belum pulang ke rumah.


Asyifa kembali menghampiri sahabat-sahabatnya.


"Guys!" teriak Asyifa sambil berlari kearahnya.


"Kenapa? Azura udah ketemu?" kata Felly.


"Bukan itu."


"Terus kenapa teriak-teriak kayak gitu?" ujar Felly.


Asyifa mencurigai bahwa Azura diculik oleh seseorang.


Felly dan Widya terkejut. "Diculik?" lalu Asyifa mengangguk.


"Kayaknya dia menghilang bukan dari pagi deh. Tapi dia menghilang dari semalam."


...****************...


Setelah mengembalikan mobil Dave, Azura dan Dillon kembali menuju rumah.


Diperjalanan, Dillon bertanya apakah Azura merindukan rumahnya atau tidak. Dan Azura hanya mengangguk karena ia memang merindukan rumah.


"Terus kenapa kamu masih disini?"


"Hmm...sebenarnya aku lagi liburan sama teman-teman. Jadi selagi aku liburan, gak apa-apa kali disini. Soalnya aku senang banget ada didunia peri."


"Rindu kok. Cuma aku mau disini dulu."


Dillon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia ingin berbicara sesuatu namun ia takut jika Azura sedih kepadanya.


"Kenapa? aku gak boleh ya tinggal disini?"


"Boleh kok. Tapi masalahnya kamu kan manusia, jadi harusnya kamu tinggal di duniamu."


Azura menunduk, sejujurnya ia masih ingin tinggal disini.


Dillon menatap Azura "Jadi kamu masih mau disini?"


tanyanya, lalu Azura mengangguk pelan.


"Ya sudah kalau itu keinginanmu."


Azura hanya tersenyum. "Aku boleh bertanya sesuatu gak?"


"Tentu saja boleh."


"Kamu waktu itu pernah datang ya ke mimpi aku?"


Dillon mengangguk.


"Kenapa aku memimpikan kamu?"


"Kamu ingat tidak sejak kamu mengintip di jendela?" tanya Dillon, lalu Azura mengangguk.


"Sebenarnya waktu itu kamu melihatku."


"Jadi setiap orang yang melihat peri, dia akan memimpikan peri itu?" tanya Azura, lalu Dillon mengiyakan ucapan Azura.

__ADS_1


Dillon ingin Azura menceritakan tentang mimpinya. Dengan begitu, Azura menceritakan mimpinya dari awal hingga akhir.


"Emang manusia tidak boleh datang kesini ya?"


"Sebenarnya tidak boleh, karena ini wilayah kami."


"Kenapa gak boleh?"


"Sebab, kami takut jika nantinya banyak manusia yang datang ke wilayah kami dan kami takut mereka merusak fasilitas-fasilitas di dunia peri. Selain itu, kami takut kalau manusia menceritakan tentang dunia kami. Karena setelah mereka tahu, mereka pasti akan menangkap kami."


Akhirnya Azura mengerti mengapa manusia tidak diperbolehkan untuk datang ke dunia peri.


"Apa kamu akan menceritakan tentang dunia peri ke teman-teman mu?"


Dengan cepat Azura menggelengkan kepalanya. "Aku gak akan cerita tentang hal ini sama mereka kok."


"Janji?"


"Iya, aku janji kok."


Dillon bertanya tentang kapan Azura pulang. Lalu Azura menjawab jika ia akan pulang lusa.


"Kamu lapar tidak?" tanya Dillon, lalu Azura mengangguk.


Akhirnya Dillon mengajak Azura untuk pergi ke kebun.


10 menit kemudian...


Keduanya telah sampai di sebuah kebun. Ditempat ini banyak sekali peri-peri yang sedang memetik buah-buahan.


Selain peri, adapun binatang-binatang seperti kupu-kupu dan capung.


"Siap gadis itu?" tanya peri yang berbaju merah.


"Dia temanku. Namanya Azura," kata Dillon.


"Senang bertemu denganmu, Azura," kata peri-peri yang ada disitu.


Azura hanya tersenyum karena ia tidak tahu harus berbicara apa. Karena jika ia berbicara, pasti ucapannya akan sedikit aneh.


"Aku pernah melihatmu di pasar peri waktu itu," kata peri lelaki, namun wajahnya tidak setampan Dillon.


Pasar peri katanya? padahal Azura sendiri tidak pernah kesana.


"Emang aku pernah kesana ya?" bisik Azura.


"Pernah. Saat kamu pertama datang, kamu berada di pasar peri."


Azura baru menyadarinya. Pantas saja disana sangat ramai, ternyata tempat itu adalah pasarnya para peri.


Dillon menyuruh Azura untuk duduk. Sedangkan Dillon, ia mengambil keranjang untuk menyimpan buah-buahan.


Saat duduk, beberapa peri menghampiri Azura. Meraka bertanya tentang hubungan Azura dan Dillon. Karena baru kali ini Dillon membawa seseorang ke kebun.


"Aku dan Dillon cuma berteman kok."


Mendengar perkataan Azura, membuat peri-peri itu langsung terdiam. Mereka merasa aneh dengan bahasa yang digunakan Azura.


"Apakah kamu peri campuran?"


Azura bingung dengan pertanyaan itu.


"Iya, dia peri campuran," sahut Dillon.


"Pantas saja bahasanya sedikit aneh dari peri-peri disini."


Azura mengerti sekarang. Peri juga sama halnya dengan manusia yang bisa memiliki beberapa kewarganegaraan. Dan itulah mengapa mereka menyebut Azura dengan peri campuran.

__ADS_1


__ADS_2