Dunia Fantasi

Dunia Fantasi
Tidak ada siapapun


__ADS_3

Dari sore hingga malam, Asyifa, Felly, Widya dan dua polisi mencari Azura disekitar desa. Namun sampai saat ini, Azura masih belum bisa ditemukan.


"Mohon maaf, pencariannya kami tunda dulu," kata polisi.


"Tapi teman saya gimana, Pak?"


"Kita bakal bantu mencari dia. Tetapi karena saat ini sudah malam, jadi pencarian dilanjutkan besok. Dan jika ada sesuatu, hubungi kami ya," kata polisi.


"Baik, Pak," ujar Asyifa, Felly dan Widya bersamaan.


Kedua polisi tersebut bergegas pergi.


"Ya udah kita pulang aja yuk! kita cari Azura nya besok aja," kata Felly.


Akhirnya mereka bertiga segera pergi menuju rumah.


Sesampainya di rumah, Asyifa menangis karena merasa bersalah.


"Udah jangan nangis. Azura pasti bakal ketemu kok," kata Widya.


"Ini semua gara-gara aku. Andai aja kemarin malam aku gak ninggalin dia, mungkin dia gak akan diculik," kata Asyifa.


"Udah jangan nyalahin diri kamu. Aku sama Widya juga salah kok. Harusnya kita berdua jagain Azura," kata Felly.


Widya menyarankan agar menelpon orang tuanya Azura. Tetapi Felly mengatakan agar menelpon di keesokan paginya.


Trining...trining


Ponsel Azura berbunyi, spontan Asyifa langsung mengeceknya. Dan ternyata telepon tersebut dari mamahnya Azura.


"Guys, mamahnya Azura telepon lagi," kata Asyifa.


"Jangan diangkat! Soalnya mamahnya pasti curiga kalau ternyata yang angkat bukan Azura. Nanti bisa-bisa mamahnya kesini malam-malam,. kan bahaya kalau berpergian di malam hari," kata Felly.


Karena Asyifa, Felly dan Widya sangat lapar, akhirnya Asyifa pergi ke dapur untuk memasak makanan. Sebab Asyifa tidak mau ribet, akhirnya ia memutuskan untuk memasak mie instan.


Tiba-tiba Asyifa mendengar suara seperti seseorang yang sedang berbisik-bisik.


"Guys!" teriak Asyifa sambil berlari menghampiri teman-temannya.


"Kenapa?" tanya Felly dan Widya.


"Dibelakang taman kayaknya ada orang," panik Asyifa.


"Serius?" tanya Widya.


Asyifa kembali menjelaskan bahwa dirinya mendengar suara orang dari arah taman.


"Ya udah cepetan telepon polisi!" kata Felly.


Widya segera menelpon polisi.


"Hallo, Pak."


"Iya, dengan siapa ini?"

__ADS_1


"Saya temannya Azura."


"Oh iya, bagaimana? Apa Azura telah pulang?" tanya Pak polisi, lalu Widya menjawab belum.


Widya menjelaskan ke Pak polisi bahwa Asyifa mendengar suara seseorang didekat rumah. Setelah mendengar ucapan Widya, Pak polisi berkata bahwa dia dan temannya akan segera pergi ke rumah.


"Oh iya! mie nya" kata Asyifa.


Akhirnya Asyifa pergi menuju dapur, lalu Felly dan Widya mengikuti dari belakang


"Wid, tolong kunci pintu rumah," suruh Asyifa.


"Fel, ayo antar aku!" kata Widya.


"Gak mau! aku takut," kata Felly.


"Ya ampun! ya udah nanti tolong masukin mie nya ke mangkuk," kata Asyifa sambil pergi mengunci pintu


Skip


Mereka memakan mie yang telah dibuat oleh Asyifa. Tak lama, mereka mendengar suara ketukan pintu.


Tok...tok...tok


"Siapa?" kata Asyifa.


"Polisi mungkin," kata Widya


"Kalau penjahat gimana?" kata Felly.


"Tapi kan tadi aku telepon polisi," kata Widya.


Widya mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo, Pak," kata Widya.


"Saya sudah berada didepan rumah," ujar Pak polisi.


"Baik pak, saya akan kesana," kata Widya sambil mematikan panggilan telepon


Widya segera berjalan kearah pintu dan ia langsung membuka pintu. Kemudian Felly dan Asyifa mengikuti Widya.


"Kalian dengar suara disebelah mana?" tanya Pak polisi.


"Tadi saya denger suara dibelakang rumah," kata Asyifa.


"Ya sudah kami akan periksa kesana." Kedua polisi itu pergi kearah taman


"Ayo ikuti mereka!" kata Widya. Lalu, mereka keluar dan tidak lupa mengunci pintu rumah.


Tiba di taman belakang rumah, mereka tidak melihat siapapun disana. Dan suara yang mereka dengar hanyalah suara jangkrik.


"Dimana? kok gak ada siapa-siapa disini," kata Pak polisi.


"Tadi saya denger ada suara kok, Pak," kata Asyifa.

__ADS_1


"Kamu jangan main-main sama kami," kesal Pak polisi.


"Serius, pak! emang saya kelihatan bercanda gitu?" kini Asyifa yang kesal terhadap kedua polisi itu.


Lalu kedua polisi itu bertanya-tanya kenapa tidak ada orang disini. Dan Felly berkata bahwa mungkin saja mereka kabur saat mendengar sirine.


"Gimana ini? Masih mau mencari anak itu?" tanya Pak polisi yang berambut agak kecoklatan.


"Hmm...begini saja. Karena takut terjadi sesuatu pada kalian, kami berdua akan berjaga semalaman disini," kata Pak berambut gondrong.


"Terima kasih, Pak," ujar Asyifa, Felly dan Widya bersamaan.


Salah satu polisi berkata apakah mereka bertiga sudah menelpon orang tua Azura atau belum. Lalu mereka menjawab belum, karena mereka takut jika orang tua Azura kenapa-napa, karena sekarang sudah udah malam. Tetapi besok mereka pasti akan menelpon orang tua Azura.


"Ya sudah lebih baik kalian bertiga masuk kedalam rumah dan beristirahat. Nanti biar kami yang berjaga diluar," kata Pak polisi berambut gondrong.


Akhirnya Asyifa, Felly dan Widya pergi menuju rumah. Tiba di rumah, mereka bertiga melanjutkan makan.


"Asyifa, kamu gak salah dengar, kan? takutnya kamu cuma salah dengar doang," kata Widya.


"Aku serius kok. Lagipula aku gak tuli," kata Asyifa.


"Aku sih percaya sama kamu. Kayaknya sih ya, penculik itu mau culik orang lagi dan targetnya kita," kata Felly.


"Kalau gitu, kita gak aman dong disini," kata Widya.


Yang Asyifa heran di desa ini, mengapa tidak ada keamanan seperti ronda malam.


"Disini emang gak ada ronda malam ya?" tanya Asyifa.


"Gak tahu. Aku kan gak pernah ke desa ini sebelumnya," kata Widya.


"Guys, kira-kira Azura gimana ya? dia dikasih makan gak ya sama penculiknya? aku jadi kasihan deh, Azura kan udah kurus, masa iya dia diculik dalam keadaan kelaparan," kata Felly.


"Andai aja kita gak kesini, mungkin Azura gak akan diculik" kata Widya.


Tanpa sadar, Asyifa meneteskan air matanya. Bukan karena ia masih sedih karena Azura, melainkan karena ia memakan mie yang begitu pedas.


"Udah jangan nangis terus," kata Widya.


"Aku gak nangis kok," jelas Asyifa.


"Jangan bohong. Udah jelas-jelas kamu meneteskan air mata," kata Felly.


"Aku kepedesan, bukan menangis," jelas Asyifa.


Untuk membuktikannya, akhir Felly mencicipi mie instan milik Asyifa. Dan rasanya benar-benar pedas, sehingga membuat mata Feli memerah karena saking pedasnya.


"Iya benar, pedas banget mie nya," kata Felly.


Karena penasaran, akhirnya Widya mencicipi mie instan milik Asyifa.


"Biasa aja kok, gak terlalu pedas," kata Widya.


"Kamu kan jago makan pedas, jadi menurut kamu itu biasa aja," kata Asyifa.

__ADS_1


"Aku jadi inget Azura deh. Dia paling suka banget sama makanan pedas kayak gini," ujar Widya sambil menunduk.


"Iya benar. Saking sukanya sama makanan pedas, Azura bela-belain stok banyak makanan pedas di kamarnya," kata Asyifa.


__ADS_2