
Dillon menghampiri Azura yang sedang mengobrol dengan kedua temannya. "Udah selesai kerjanya?"
"Udah."
"Grace, Alice! Dia bantuin kalian tidak?"
"Bantuin kok."
Karena pekerjaannya sudah selesai. Dillon berpamitan kepada kedua temannya. Lalu, Dillon menarik tangan Azura untuk pergi keluar
"Ini ambil!" perintah Dillon.
"Gak mau! pegang aja sendiri."
"Terus gimana caranya gendong kamu, kalau akunya bawa buah ini."
"Eh! iya juga ya. Ya udah sini!" ujar Azura sambil mengambil buah. Setelah itu, Dillon langsung menggendong Azura.
Skip
Sesampainya di rumah Dillon, Azura langsung menyerahkan buah yang dipegangnya. Karena sejujurnya buah tersebut sangat berat.
Andai saja tubuh Azura kembali ke semula, mungkin ia akan membawakan beberapa buah agar Dillon tidak perlu repot-repot lagi mencari makanan.
"Kamu mau pulang kapan?" tanya Dillon.
"Hmm...nanti aja."
"Kenapa nanti? bukannya kemarin kamu ingin cepat-cepat pulang."
"Soalnya disini seru, jadi pulangnya nanti aja."
Dillon menatap Azura karena sepertinya ada yang berbeda dari Azura. Ya, ia merasa Azura sangat mempesona dengan mahkota yang dipakaikan.
Dillon menunjuk kearah mahkota yang dipakai Azura. "Itu punya siapa?"
"Ini punya aku. Alice yang memberi mahkota ini. Cantik, kan?"
Dillon mengangguk. "Cocok dipakai olehmu."
Pipi Azura memerah, ia tersipu malu karena Dillon memujinya.
"Oh iya! terus sekarang kita ngapain?"
"Diam saja."
"Setelah kamu kerja, emang gak ngapa-ngapain?"
"Biasanya aku langsung tidur atau membaca buku."
Baca buku? ternyata bukan hanya manusia saja yang suka membaca buku, tetapi para peri juga suka membaca buku.
"Ya udah kalau gitu kita baca buku aja."
"Kamu saja yang baca. Soalnya aku lagi tidak ingin membaca buku."
Baru saja Azura ingin memujinya rajin, tapi ternyata para peri sama saja. Adakalanya mereka juga malas membaca.
Azura membatalkan rencananya untuk membaca buku, karena Dillon sedang tidak ingin membaca buku.
"Oh iya! nama kamu Dillon ya?" tanya Azura, lalu Dillon hanya mengangguk.
"Kenalin nama aku Azura," ujar Azura sambil mengulurkan tangannya. Namun Dillon hanya menatap tangan Azura
Langsung saja Azura menjabat tangan Dillon walaupun dia tidak mengulurkan tangannya.
Reaksi Dillon hanya menatap Azura dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"Kamu kenapa memegang tanganku?" bingung Dillon.
"Karena kan barusan kita kenalan." Azura kembali melepaskan jabatan tangannya
"Emang didunia manusia kalau berkenalan harus berjabat tangan?" tanya Dillon, lalu Azura hanya mengiyakan pertanyaan Dillon.
Karena Azura ingin memastikan bahwa Dillon mempunyai pacar atau tidak. Jadi ia akhirnya bertanya tentang hal itu.
"Hmm...kamu udah punya pacar?"
"Pacar? apa itu pacar?"
"Kekasih."
"Oh kekasih. Aku tidak punya."
...****************...
Azura datang menghampiri Dillon dan ia memberitahu Dillon bahwa dirinya ia pergi ke suatu tempat.
"Ingin pergi kemana?" tanya Dillon.
"Kemana aja, asalkan tempatnya indah."
Dillon berkata bahwa dia tahu tempat yang indah, namun sayangnya tempat itu sangat jauh.
"Ya udah ketempat yang terdekat aja."
"Ya sudah ayo ikut aku."
Mereka berdua keluar dari rumah dan pergi menuju suatu tempat
Skip
Keduanya sampai di sebuah tempat yang dibicarakan Dillon. Ya, tempat yang dimaksud adalah sungai.
"Iya. Bagus, kan?"
"Iya bagus," ujar Azura sambil tersenyum palsu, karena tempatnya tidak sesuai dengan ekspektasi Azura.
"Tapi hati-hati jangan sampai kamu jatuh kedalam air. Soalnya didalam sana ada binatang yang sangat besar."
Entah hewan apa yang dibicarakan Dillon. Tapi Azura yakin seratus persen bahwa binatang yang dimaksud itu adalah ikan.
"Maksud kamu ikan?"
"Ikan? apa itu?"
"Itu hewan yang hidup di air"
"Apakah mereka sangat berbahaya?"
Azura menjelaskan bahwa ikan ada yang berbahaya dan ada yang tidak.
"Karena tubuh kita kecil, jadi itu sangat berbahaya."
"Kalau kamu bertubuh besar?"
"Hmm...biasanya kalau ikan di sungai tidak berbahaya. Tapi kalau ikan yang berada di laut sangat berbahaya, soalnya ukurannya berkali-kali lipat dari pada ukuran ikan yang ada di sungai."
"Semoga saja peri yang berada di laut tidak sampai dimakan oleh ikan itu."
Mendengar ucapan Dillon membuat Azura terkejut, karena ia pikir bahwa peri hanya ada di daerah yang ada pepohonan.
"Dillon, kamu pernah ke dunia manusia gak?"
"Pernah."
__ADS_1
"Gimana menurut pendapat kamu tentang dunia manusia?"
"Didunia manusia sangat banyak sekali polusi udara. Dan juga buah-buahannya tidak seenak buah didunia peri."
Azura tertawa mendengar perkataan Dillon.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Perasaan rasa buah sama aja deh."
"Kalau menurut kamu tentang dunia peri gimana?"
"Hmm...dunia peri cukup unik. Soalnya aneh aja lihat barang-barang, yang asalnya kecil jadi kelihatan besar."
Sebenarnya Azura ingin memberikan pendapat lainnya tentang dunia peri, tetapi ia takut jika itu akan membuat Dillon kesal.
Faktanya didunia peri tidak ada toilet, dan itu membuat Azura kesulitan untuk membuang air kecil ataupun besar.
Selain toilet, didunia peri juga tidak ada kendaraan umum. Meskipun semuanya bisa terbang, tetapi seharusnya mereka membuat kendaraan supaya ketika sayap mereka merasa kelelahan, mereka dapat beraktivitas dengan menggunakan kendaraan.
"Kenapa melamun?"
"Aku hanya memikirkan, apakah didunia peri tidak ada kendaraan satupun?"
"Ada. Kita mempunyai mobil dan juga gerobak. Tapi sayangnya aku hanya mempunyai gerobak."
Azura menahan tawanya, pasalnya gerobak bukanlah sebuah kendaraan.
"Kamu punya mobil?"
"Tidak. Tetapi temanku mempunyai nya. Apakah kamu mau lihat?"
Azura mengangguk, tentu saja ia ingin melihat mobil peri. Apakah mobil itu lebih mewah dari mobil manusia ataukah lebih jelek dibandingkan mobil manusia?
Akhirnya Dillon mengantarkan Azura menuju rumah temannya yang bernama Dave.
Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Dillon, sehingga Azura dan Dillon hanya berjalan kaki.
Selama diperjalanan, Azura hanya menatap wajah Dillon. Jika kelamaan didunia peri sepertinya Azura akan jatuh cinta dengannya.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di rumah Dave. Kebetulan sekali, Dave sedang berada di rumahnya dan sekarang dia sedang menyiram tumbuhan dihalaman rumahnya.
"Hallo, Dave," sapa Dillon.
"Hallo, Dillon. Apa yang membawamu datang ke rumahku?" tanya Dave.
"Jadi begini, temanku sangat ingin melihat kendaraan milikmu."
"Jika kamu ingin melihatnya silahkan saja," kata Dave.
Dave mengajak Azura untuk melihat-lihat mobil miliknya.
Azura tersenyum, karena ternyata mobil peri adalah sebuah mobil mainan anak-anak. Ia pikir mobil peri mempunyai kekuatan super, namun kenyataannya tidak.
"Jika kamu ingin mengendarainya, silahkan saja," kata Dave.
Azura menatap kearah Dillon dengan tatapan seolah-olah ia ingin menaikinya.
"Memangnya boleh?"
"Tentu saja boleh."
Akhirnya Azura masuk kedalam mobil.
"Ayo naik!" ajak Azura kepada Dillon dan Dave.
"Kalian saja, karena sekarang aku sedang sibuk," kata Dave.
__ADS_1
Lalu, Dillon segera menaiki mobil tersebut.