
Malam hari
Azura membuka aplikasi instagram-nya dan ia terkejut saat melihat permintaan mengikuti di
instagram-nya.
"Hah! ini kan cowok yang tadi di cafe. Kok dia bisa tahu instagram aku."
Tiba-tiba lelaki itu menelpon Azura melalui instagram.
"Kamu yang tadi di cafe, kan?" tanya Dion to the point, lalu Azura mengiyakannya.
Azura bertanya, mengapa Dion bisa mengetahui instagram-nya. Dan ternyata Dion tahu dari kedua sahabat Azura, karena mereka berdua mengikuti instagram Dion.
Dion juga memberitahu kalau mereka itu adalah sahabatnya dari cewek yang Dion tabrak di cafe. Dan tentunya cewek itu adalah Azura.
"Sebenarnya temen kamu gak ngasih tahu sih, cuma aku lihat ada foto kamu di Instagram mereka. Terus aku stalking deh instagram kamu," jelas Dion.
Dion bertanya kepada Azura tentang kenapa saat di cafe Azura memanggilnya dengan nama Dillon. Lalu, Azura memberitahu bahwa Dion mirip seseorang yang ada di mimpinya. Jadi dengan begitu Azura memanggilnya dengan nama Dillon, karena orang yang ada dimimpi Azura bernama Dillon.
"Dipikir-pikir muka kamu juga kayak familiar deh," kata Dion.
"Aku pernah ada dimimpi kamu?" tanya Azura, tetapi lelaki itu menjawab kalau dia sepertinya pernah bertemu Azura di jalan.
Entah benar atau tidak, Azura tidak peduli dengan jawabannya.
"Oh iya, nama kamu Azura?"
"Emang kamu gak bisa baca username-nya?"
"Ya kan siapa tahu nama palsu."
Dion meminta agar Azura mengikutinya balik di instagram. Lalu, Azura menuruti permintaannya. Selain itu, Dion melarang Azura untuk unfollow instagram dia dan Azura hanya menuruti saja ucapannya.
"Oh iya, kapan-kapan kita ketemuan yuk!" kata Dion.
"Sorry, aku gak bisa."
"Kenapa gak bisa?"
"Kita gak terlalu kenal, jadi aku gak mau ketemuan sama kamu."
Karena pada dasarnya Azura tidak suka lelaki yang tiba-tiba mengajaknya ketemuan. Akhirnya Azura mematikan panggilan teleponnya.
Bukan sombong, tetapi menurutnya, lelaki yang seperti Dion adalah lelaki red flag.
Trining! Trining!
Tiba-tiba Felly menelpon Azura. Dan itu sudah pasti bahwa dia akan membicarakan Dion.
Kemudian, Azura menjawab panggilan telepon tersebut.
"Azura, aku diikuti Dion di instagram."
Ya benar, dugaan Azura memang selalu benar jika dalam keadaan seperti ini. Karena setiap kali Felly menelponnya, pasti dia selalu membicarakan tentang cowok.
__ADS_1
"Dilihat dari postingan instagram-nya, kayaknya dia jomblo deh," kata Felly.
"Ya terus kalau Dion jomblo kenapa? kamu jadi suka gitu sama dia"
"Bukan gitu. Kalau dia jomblo, aku akan jodohkan kamu sama dia."
Mendengar ucapan Felly, membuat Azura memutuskan untuk mematikan teleponnya.
"Kenapa sih main jodoh-jodohkan orang segala," kesal Azura.
Azura memang tipikal cewek yang tidak ingin dijodohkan oleh orang. Karena menurutnya, jika dijodohkan oleh orang terlihat tidak laku.
Trining! Trining!
Tak lama, Felly kembali menelpon Azura.
Azura menghela nafasnya, kemudian ia menjawab panggilan tersebut. "Ada apa lagi sih?"
"Kamu marah ya sama aku?"
"Kalau gitu aku minta maaf ya."
Jika mengatakan bahwa Azura sedang marah rasanya tidak pantas, jadi Azura berkata bahwa dirinya tidak marah kepada Felly, hanya saja sekarang Azura sedang tidak mood.
"Ya udah kalau gitu aku tutup ya teleponnya. Maaf jika kamu merasa terganggu," kata Felly.
Lalu, Felly mematikan panggilan teleponnya.
Entah kenapa Azura merasa bersalah. Meskipun ia telah menjelaskan bahwa dia tidak marah kepada Felly, tapi sepertinya Felly tahu bahwa Azura marah kepadanya.
Beberapa hari kemudian...
Azura menghampiri mamah dan papah yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Mah, Pah. Azura mau pergi ya."
"Mau pergi kemana?"
"Ke rumah Asyifa." Azura berbohong.
"Kamu main mulu deh, mentang-mentang libur," kata Papah.
Azura hanya cengengesan saat mendengar perkataan Papahnya.
"Boleh, kan?"
"Iya boleh," kata Mamah.
"Ya udah kalau gitu Azura pergi dulu ya," ujar Azura, lalu ia pergi.
Bukannya ke rumah temen, Azura malah pergi ke pedesaan yang waktu itu. Siapa tahu Azura mengingat sesuatu jika kembali kesana.
Skip
Beberapa jam kemudian, akhirnya Azura sampai di desa.
__ADS_1
Azura kebingungan. "Loh! bukannya rumah yang waktu itu ada disini ya."
Ia melihat kesekitar dan memang benar kalau rumah yang ia sewa berada disini. Akan tetapi rumah tersebut tiba-tiba menghilang begitu saja.
Azura memutuskan untuk turun dari mobilnya. Ia menghampiri seseorang yang sedang berjalan kaki. "Permisi."
"Iya, ada apa?" kata lelaki itu.
"Waktu itu disini ada rumah, kan?" tunjuk Azura pada rumah yang waktu itu ia sewa. Lalu lelaki itu berkata bahwa disini tidak ada rumah.
"Tapi waktu itu gue kesini ada rumah," kata Azura. Namun lelaki itu malah berkata bahwa Azura salah tempat kali
Azura bersikeras meyakinkan orang itu bahwa ada rumah. Namun berulang kali lelaki itu berkata jika disini sama sekali tidak ada rumah.
"Kamu kenal yang namanya pak Surya gak?"
"Enggak. Emang pak Surya siapa?" tanya lelaki itu.
Azura memberitahu bahwa pemilik rumah yang tadinya ada disini bernama Pak Surya. Namun tetap saja lelaki tersebut berkata bahwa tidak ada rumah disini dan ia juga tidak mengenal Pak Surya. Dan lagi-lagi dia berkata jika Azura salah tempat.
"Kamu orang mana sih? kok aku baru ngelihat
kamu."
"Jakarta."
"Jauh-jauh dari Jakarta cuma pingin nyari
rumah?"
"lya, soalnya waktu itu aku liburan sama sahabat. Dan aku sewa rumah disini, tapi sekarang tempat ini kosong."
Lelaki itu mendekat kearah Azura. Ia menatap wajah Azura, lebih tepatnya menatap tahi lalat yang ada dibawah bibir Azura.
"Apa jangan-jangan kamu orang yang dicari sama perempuan berambut pendek ya?" tanya lelaki itu.
Rambut pendek? sepertinya orang yang dibicarakan lelaki itu adalah Asyifa. Ya, waktu itu pasti Asyifa sedang mencari Azura.
"Iya, waktu itu katanya saya hilang. Tapi anehnya saya merasa kalau saya gak hilang."
Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Azura. Dan ia juga menembak bahwa Azura sedang tidak sehat.
"Kamu datang kesini sendirian?" tanya lelaki itu.
"Iya. Emang kenapa?"
"Sebaiknya kamu pulang saja, terus istirahat biar gak stres."
Tak rela dicap sebagai orang stres. Akhirnya Azura menunjukkan foto-foto saat ia berada disekitar rumah yang ia sewa.
Lelaki itu melihat foto-foto tersebut, setelah itu ia sekilas melihat kearah kanan. Ia semakin bingung, karena ditempat itu tak ada rumah.
Karena merasa merinding, akhirnya lelaki itu berpamitan dengan alasan buru-buru.
Azura menghela nafasnya, Azura merasa bahwa ia percuma berbicara dengan lelaki tadi, karena sepertinya lelaki tadi bukan orang asli desa ini.
__ADS_1
Karena tidak mendapatkan jawabannya terkait peristiwa itu, akhirnya Azura memilih untuk kembali pulang ke rumahnya.