
Saat sampai di kamar, entah kenapa fokus Azura tertuju pada miniatur keranjang yang ada di meja. Ia jadi teringat saat itu dirinya terbangun dan memegang miniatur tersebut.
"Kayaknya ini ada hubungannya deh sama mimpi aku. Mana namanya Dillon lagi."
"Kira-kira ada gak ya makhluk sekecil ini."
Tiba-tiba terlintas dipikiran Azura tentang film kartun yang ia tonton waktu dulu.
"Apa jangan-jangan dia seorang peri?"
Azura kembali mengingat bentuk fisik Dillon.
"lya, dia peri. Dia punya sayap di punggungnya."
"Berarti waktu aku hilang, aku dibawa pergi ke dunia peri dong."
Seketika Azura merasa pusing setelah banyak bicara tentang dunia peri.
BRUK!
Azura jatuh pingsan.
Beberapa menit kemudian, Azura membuka matanya dan ia melihat ke sekelilingnya.
"Ini dimana?"
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Azura dan spontan saja Azura menengok kebelakang.
"Kamu masih mengingatku?"
"Dillon"
Azura kebingungan karena ia hanya mengenal namanya saja, tapi tidak dengan kenangan bersamanya.
Dillon mendekat kearah Azura dan dia mencium bibir Azura. Otomatis Azura langsung menutup matanya.
Entah kenapa saat Dillon menciumnya, tiba-tiba Azura jadi teringat kenangan bersamanya. la
benar-benar mengingatnya saat ia dicium oleh Dillon.
"Ingat tidak saat kamu mencium ku?"
Azura mengangguk. "Aku ingat semuanya."
Azura melihat kesekitar. "Perasaan tadi aku ada di kamar deh."
"Maaf, tadi aku yang membuatmu pingsan. Dan aku juga yang membawamu kesini."
"Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Karena aku merindukanmu."
"Kalau aku ke dunia manusia lagi, aku akan mengingat dunia peri tidak?"
Dillon berkata jika Azura tidak bisa mengingat dunia peri. Karena ramuan yang waktu itu sudah mengalir didalam tubuh Azura.
Karena tak punya banyak waktu, akhirnya Dillon mengajak Azura untuk jalan-jalan di dunia peri. Sebab, ini hari terakhirnya bersama dengan Azura.
__ADS_1
Skip
Setelah berjalan-jalan di dunia peri, akhirnya Dillon memutuskan untuk mengembalikan Azura ke dunia manusia.
Dillon memanggil Azura, lalu Azura menoleh kearahnya.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau hari ini adalah hari terakhir aku bertemu denganmu. Sebab saya tahu jika dunia peri dan dunia manusia sangatlah berbeda. Jadi demi kebaikan kita berdua, lebih baik kita tidak saling bertemu satu sama lain lagi. Dan saya juga udah tidak akan mengajakmu lagi ke dunia peri."
"Tapi aku ingin ketemu sama kamu lagi."
"Tidak bisa. Ini yang terakhir."
"Dillon, aku cinta sama kamu."
Dillon hanya diam saja.
"Kamu gak suka sama aku ya?"
"Kita itu berbeda Azura. Jadi kamu tidak usah mencintaiku."
Mata Azura berkaca-kaca karena ia telah ditolak oleh Dillon.
"Kamu pasti akan menemukan lelaki yang lebih baik di dunia manusia. Jadi kamu jangan mencintaiku."
"Ya sudah kalau begitu pergilah ke duniamu
dengan melakukan cara yang waktu itu kamu lakukan."
Azura sedikit kecewa dengan ucapan Dillon. Tapi perkataan yang dia ucapkan memang benar. Bahwa manusia dan peri tidak akan bersatu.
"Cepat pergi."
"Ya sudah boleh."
Azura memeluk Dillon. Begitupun Dillon, ia membalas pelukan Azura
Lalu, mereka berdua melepaskan pelukannya.
"Kalau gitu aku pergi ya," kata Azura, lalu Dillon hanya mengangguk
Azura segera pergi ke dunia manusia dengan melakukan cara yang waktu itu ia lakukan.
Azura juga mengerti tentang apa yang Dillon ucapkan. Karena makhluk didunia manusia dan dunia peri tidak akan pernah bersatu.
...****************...
Azura membuka kedua matanya, ia terkejut saat melihat Dion yang sedang duduk dipinggir kasurnya.
"Kamu kok ada disini."
"Tadi pakaian basah kamu ketinggalan di mobil, jadi aku cepat-cepat samperin kamu. Dan ketika aku masuk ke kamar kamu, aku lihat kamu pingsan."
Mamah masuk kedalam kamar Azura. "Akhirnya udah sadar juga," ujarnya sambil meletakkan air putih di meja.
"Mamah bisa keluar sebentar gak? soalnya aku mau bicara sesuatu sama Dion."
"Ya udah, Mamah pergi deh" ujar Mamah Azura sambil keluar kamar dan ia tak lupa menutup pintu kamar Azura.
__ADS_1
Setelah pintu kamar ditutup, tanpa aba-aba Azura langsung mencium bibir Dion untuk membuktikan bahwa Dion itu adalah Dillon.
Ia begitu karena tadi ada Dillon bersamanya, tetapi sekarang yang ada bersama Azura adalah Dion. Jadi ia curiga bahwa Dillon itu adalah Dion.
Setelah mengakhiri ciumannya, Azura menatap Dion sambil tersenyum. "Kamu jangan menipu aku. Aku tahu kok kalau kamu itu sebenarnya Dillon."
"Aku gak ngerti maksud dari perkataan kamu."
Azura memeluk Dion dengan erat dan itu membuat Dion semakin salah tingkah.
Dion tidak mengerti mengapa Azura menjadi seperti ini. "Kamu mengigau ya?"
Kemudian, Azura melepaskan pelukannya.
Seketika Azura kembali berpikir. Sepertinya ia terlalu stres sampai-sampai mimpinya ia anggap peristiwa yang nyata.
Azura sangat malu, seharusnya ia tidak mencium dan memeluk Dion.
"Sekarang udah sadar ya?" tanya Dion, karena tadi ia menganggap bahwa Azura sedang mengigau.
Karena terlalu malu, akhirnya Azura berpura-pura tidur dalam posisi duduk.
Tak lama, Azura merasakan nafas seseorang.
Chup
Azura membuka kedua matanya, ia sangat terkejut karena Dion menciumnya.
Meskipun begitu, Azura diam saja saat Dion menciumnya. Padahal ia masih ragu terhadap perasaannya kepada Dion.
Dion mengakhiri ciumannya. "I love you."
Azura merasakan sensasi kupu-kupu diperutnya. Sepertinya ia memang telah jatuh cinta dengan Dion.
Dion merasa kecewa, karena Azura hanya diam saja. Ia juga menyesali perbuatannya, karena sepertinya Azura sebentar lagi akan memarahinya.
"I love you too."
Mendengar perkataan Azura, membuat Dion tersenyum lebar.
Dion mencium bibir Azura sekilas, lalu ia memeluk Azura dengan erat.
"Aku boleh jujur gak?" kata Dion, lalu Azura hanya mengangguk.
"Sebenarnya saat kita bertemu di cafe, aku udah jatuh cinta sama kamu," jelas Dion.
Azura juga memberitahu saat dirinya mulai jatuh cinta kepada Dion. Jadi, Azura jatuh cinta kepada Dion saat Dion memberitahu password ponselnya kepada Azura.
Apalagi Dion sampai menunjukkan pesan-pesan yang membuktikan bahwa dia tidak menanggapi chat-chat dari orang lain.
Pada saat itu sebenarnya Azura telah menyadari bahwa Dion menyukainya. Tetapi karena ia takut jika feeling nya salah, jadi ia langsung menghilang pikiran tentang hal itu.
"Ya udah sekarang kamu istirahat ya biar kamu cepat sembuh. Kalau udah sembuh kan nantinya kita bisa jalan-jalan."
"Jalan-jalan kemana?"
"Ke pikiranku," ujar Dion sambil menunjuk kepalanya.
__ADS_1
Azura tersenyum saat melihat tingkah Dion. Entah kenapa dengan tingkahnya, membuat Azura merasa seakan-akan dia mencintai Azura dengan setulus hati.
Meskipun Dion bukan seseorang yang ada didalam mimpinya, tetapi Azura bisa merasakan bahwa Dion akan sangat menyayangi Azura seperti seseorang yang ada didalam mimpi.