
Semalam Rain jatuh sakit. Kami menjaganya bersama, setelah bangun aku menyiapkan sarapan pagi sedangkan Kein menemani Rain.
Butuh 10 menit setelah masakan yang aku buat selesai.
...
Erangan Rain terdengar di telingaku, terlihat dia menggeliat kesakitan dan membutuhkan tumpuan, hatinya benar hancur dan tubuhnya sedang lemah. Setelah beberapa menit terlihat Rain membuka matanya dengan paksa. Terlihat betul dari wajahnya ia belum sadar sepenuhnya, wajahnya terlihat lelah dan tatapannya memudar tidak terlihat tatapan tajam yang biasanya. "Lamakah? " sambil berbicara seperti itu, Rain berbalik melihat kearah Kein. "Lumayan.Semalaman anda demam, aku dan Fani menjaga semalaman, maaf kami masuk tanpa ijin. "
Setelah mengatakan hal tersebut, terlihat senyuman kecut dari sudut bibirnya, " Aku terlihat, yah! Padahal waktu kami sangat banyak. " mendengar perkataan Rain dapat dirasakan dia sangat menyukai Fani.
"Tentu saja. Anda membuang kesempatan yang Anda miliki selama ini."
Sambil tersenyum kecut ia mendesah dengan kesal, "ah, menyebalkan. Bagaimana mungkin aku kalah dari pegawai yang baru masuk selama sebulan. "
tatapannya tidak berubah, masih penuh dengan kesedihan dan juga penyesalan. " Merengek pun, tak akan aku berikan kesempatan. "
"Aku... membuatnya sedih selama ini. Hatinya aku hancurkan, hampir saja hidupnya hancur gara-gara aku. "
"ah... "
__ADS_1
" Dia pernah mengatakan menyukaiku, tapi waktu itu... aku dengan bodohnya menolak dan menerima tawaran Sakura untuk menjaganya. Sebesar apapun aku menjaga Fani, Sakura selalu membuat rencana yang menyebutkan untuknya. "
".... "
" Hal paling menyebalkan aku tidak bisa menjaganya.... ", terdengar isak dalam rungan yang sunyi ini. Tangisan Rain pecah di depanku.
Melihat sikapnya cinta yang ia miliki benar adanya, tapi saya benar tidak bisa membiarkan dia lebih dari ini. " Apa kamu menyesal? Membiarkan Fani berada di dekatku. "
"Hahaha snaagt menyesal, sampai rasanya aku ingin membawa nya pergi. "
" .... Tidak perlu merasa bersalah, semuanya punya penyesalan. Tapi tenang saja, aku akan menjaga Fani dengan sangat baik. Tidak... akan aku pasti kan dia bahagia. "
"Haaaa... "
Setelah menyiapkan sarapan pagi, langka kaki Fani mengarah ke kamar Rain. Langkanya terhenti saat telinganya mendengar percakapan pria yang ada di dalamnya. Terdengar suara Rain yang snaagt lelah dan juga surat parau nya. Fani mendengar bebrapa hal yang tidak pernah ia bayangkan. Bagaiaman Rain menjaganya. Dunianya semasa sekolah cukup gelap, semuanya menjadi penentu hidup Fani sekarang. Tak lama terdengar suara pria yang sangat Fani cintai, pria itu tidak marah mendengar ocehan Rain, kalimatnya yang sangat yakin membuat Fani tersentuh... Bagaimana mungkin pria yang ia cintai selama belasan tahun masih menyukai dirinya bahkan sangat menyukainya. Setelah mendengar percakapan singkat itu, Fani kembali ke ruangan makan, mengambil Smartphone nya dan menulis pesan untuk Kein.
: Sayang, sarapannya sudah aku siapkan. Kamu boleh turun, aku menunggumu di ruang makan.
...
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan? "
" Berhenti memikirkan cara untuk memisahkan kami, akan aku pastikan kamu akan menyesal kalau kamu membuat hal bodoh. "
"hahahaha aku cukup paham. "
drrrrrdrrrrr smartphone Kein bergetar, terlihat nama Fani di layar depannya.
"Aku lapar. Sebaiknya kita makan, sayangku sudah menyiapkan sarapan pagi. "
"Apa kamu berharap aku menjadi obat nyamuk untuk kalian berdua? "
"Tentu saja boleh. Melihat kondisimu sekarang sangat cocok. "
" Aku belum lapar, bawakan makanku ke kamar. Sebaiknya kamu turun dan makan. "
" Apa kamu takut? takut merasa sakit? "
" Menyebalkan... "
__ADS_1
" Setidaknya kamu harus ikut makan. "
"Baiklah... kenapa kamu sangat menyebabkan sekarang? "