
Setelah mengatakan hal menyebalkan, Rain turun bersama Kein. Melihat wanita yang ia sukai memasak di dapurnya membuat jantungnya berdebar. Tapi pikirannya cukup jernih sekarang, karena debaran yang ia rasakan tidak akan pernah terbalaskan.
"Selamat pagi sayang. "
" Selamat pagi Kein, Rain"
" Selamat pagi... Fani"
Setelah menyapa tidak ada suara yang terdengar. Sendok dan Piring menjadi musik yang memecahkan keheningan tersebut. "Aku ingin makan pencuci mulut"
"Hei, sayangku ini bukan pembantumu. "
" Aku sedang sakit. Setidaknya kalinya harus mengerjakan tugas kalian dengan benar. "
"haaaa? "
" hahahaha tidak apa - apa Kein, akan aku buatkan makan pencuci mulut, kalian bisa berbicara di ruangan keluarga. "
" Aku akan membantu mu mencuci piring. Dan kamu, ayo aku antar ke rungan sebelah. "
...
Rain menikmati waktunya yang senggang, melihat Fani dan Kein berinteraksi membuatnya tersenyum. Melihat wanita yang di sukai tersenyum dengan bodohnya membuatnya terlihat cantik. Setidaknya ada orang yang membuat dirimu tersenyum, cantik sekali.
__ADS_1
Melihat Kein yang hati-hati menjaga wanitanya membuat Rain memahami alasan Fani menyukai pria ini. Terlihat biasa tapi menyenangkan.
"Dia tidak bisa jauh dari Fani... menempel seperti bayi besar yang bodoh. "
" Melihatmu tersenyum sambil melihat ke arah kami, sepertinya kamu memiliki waktu untuk tersenyum bodoh. "
"Apa kamu bayi besar? "
"Apa? Bayi besar? "
"Lengket dan tidak mau lepas seperti itu menyusahkan. "
"wah.. beberapa waktu lalu aku berpikir kamu baik juga di jadikan teman. Namun semuanya menjadi hilang, melihat sikapmu saat ini. "
...
Fani melihat semunya, Melihat tawa dari dua orang pria yang dekat dengannya. Melihat Kein yang mudah bergaul dengan Rain, membuat Fani tersenyum tipis.
"Apa aku boleh mencium? "
"Apa yang kamu katakan? Menyebalkan jangan buat hal yang aneh di depan orang sakit. "
"Malu ada batasnya sayang. "
__ADS_1
"aaaaah Kein.... Hentikan! "
cup cup cup ciuman mendarat dengan baik di bibir Fani. Pelukan manja yang diberikan Kein membuat Fani lemah, pelukannya sangat lembut dan menyenangkan. " Hentikan bermesraan di depanku . ".... " Setidaknya orang sakit duduk dengan diam.
...
Melihat kemesraan Fani dan Kein, membuat Rain tak bisa berkata apa pun. Mereka berciuman tepat di Dapurku, bahakan aku belum perna melakukan hal itu.
"Kapan kalian kan bertunangan? Hei... berhenti berciuman"
" Seminggu lagi. Setelah itu sebulan kami akan menikah. "
"Haaa.... aku tidak paham dengan jalan pikir kalian berdua. Aku kembali ke kamar dan tidur. Jika kalian ingin bermesraan lakukan di kamar tamu jangan lakukan di dapur kesayangan ku. "
Mendengar perkataan Rain, seperti nya dia benar sudah lepas dan setuju dengan hubungan kami.
(berjalan dan memeluk) " Terima Kasih untuk semuanya Rain. Aku akan menjadi adikmu yang baik. "
(balas memeluk) " Aku mengijinkan setelah melihat orang ini begitu bodoh tapi bisa di andalkan. Aku akan memberkati kalian. "
Setelah mengatakan hal keren, Rain meninggalkan kami. Setelah menyelesaikan tugas dan juga membuat makan siang untuknya, Kein tertidur di sampingku sambil menggumam namaku.
"Sepertinya kamu tidak marah saat aku memeluk Rain tadi. Kamu menjadi lebih dewasa, tapi jangan tidak merasa cemburu. Katakan apa yang kamu ingin katakan agar aku paham, sayang. "
__ADS_1
Langit mulai gelap saat mata Kein terbuka, tubuhnya terasa berat. Tubuh Fani tepat di atas tubuhnya, terlihat nyaman dengan posisi tidur ini, Kein tersenyum dengan bahagia melihat tingkah lucunya. Menguat kalimat yang Fani ucapkan, Kein tidak bisa menahan perasaan yang meluap. Perasaan senang, sedih bergabung menjadi perasaan yang luar biasa.