Empat Serangkai : Anak Negeri

Empat Serangkai : Anak Negeri
01. HARI PERTAMA


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama ku di SMA, setelah tiga hari sebelumnya aku menjalani MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), tidak ada hal spesial yang terjadi pada saat masa MPLS.


Dalam tiga hari masa MPLS aku sudah mendapatkan teman laki-laki baru, bagiku untuk mendapatkan teman laki-laki bukanlah hal yang sulit, hanya dengan topik obrolan yang universal, kau sudah bisa mendapatkan beberapa teman laki-laki yang bisa kau jadikan teman mengobrol. Masa MPLS berakhir di hari Jum'at, setelah dua hari libur, hari Senin selalu menjadi awal dari masa sekolah.


Seragam putih abu menjadi tanda kalau kami telah resmi menjadi murid SMA. Setelah melaksanakan upacara dilanjutkan dengan penyambutan murid baru, puluhan balon dilepaskan ke udara.


Kurang lebih begitulah rentetan awal cerita ku berada di SMA dan kini aku telah dihadapkan dengan masalah baru, teman sekelas ku berbeda dengan teman ketika MPLS.


Yang benar saja, aku berulang kali mengecek daftar nama di kelas ku, hasilnya tidak ada satu pun dari mereka yang merupakan teman satu MPLS ku.


Dari pada aku tidak mendapatkan tempat duduk, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Kelas yang awalnya ramai mendadak sepi sejenak dan entah kenapa mata mereka semua tertuju kepada ku.


Perasaan ini seperti... kau sedang sendirian berada di alam liar yang entah berantah kemudian kau merasakan sekeliling mu sedang menatap mu. Benar-benar perasaan yang tidak mengenakan.


Sudah kuduga datang lebih pagi seperti saat MPLS adalah pilihan yang terbaik, dengan begitu kau dapat memilih tempat duduk sesuka hati, kemudian membangun sebuah teritori mu sendiri.


Menatap sekeliling, aku melihat sebuah kursi kosong di meja paling belakang, entah kenapa aku memilih kursi itu padahal disebelahnya sudah terdapat orang yang menempati.


*Note : Dalam Satu meja terdapat dua kursi, meja dibuat lebih panjang dari meja normal sehingga para siswa berbagai meja dengan teman sebelahnya*


"Euhh kursi ini kosong?"


"Oh iya kosong."


Situasi kelas yang canggung menambah perasaan gugup ku, tidak mungkin aku merasa gugup ketika berbicara dengan laki-laki. Aku pun menguatkan tekad untuk memulai obrolan, tapi dia sudah memulai itu terlebih dahulu.


"Nama aku Ali." dengan suara yang agak berat


"Nama aku Iqbal."


"Kamu dari SMP mana?"


"Aku dari SMP 2, kalau kamu?"


"Aku dari SMP 1."


Setelah itu dua orang yang duduk didepan ku, mengobrol dengan Ali, suara yang cukup keras membuat obrolannya terdengar dengan jelas oleh ku, mereka membicarakan soal teman mereka yang berasal dari ekskul basket yang gagal masuk ke SMA ini padahal kemampuannya sangat jago.


Setelah dia selesai mengobrol dengan temannya, aku berinisiatif untuk memulai obrolan terlebih dahulu.


"Li, kamu anak basket."


"Ah iya."


"Owhh, kenal sama si Rafli ga?"


"Kenal, dia dulu pernah satu klub sama aku, terus kita sering ketemu kalau ada pertandingan antar SMP."

__ADS_1


"Kamu maen di posisi play maker?"


"Iya, sekolah kita kan dulu rival."


"Ahh kamu dari SMP 1 yah."


Setelah itu kami membicarakan tentang basket SMP 2 dan SMP 1 yang selalu menjadi rival setiap kali ada perlombaan, bisa dikatakan di kota ku ini kedua SMP ini lah yang menguasai perlombaan basket.


Pukul sembilan bel istirahat berbunyi, Teman-teman basket Ali datang menjemputnya ke kelas ku, sesuai dengan perkiraan ku, di kelas ini aku belum mempunyai teman untuk diajak istirahat.


*Chat grup MPLS*


"Oy, kalian pada dimana."


"Lagi jemput yang lain bal, kamu dimana?"


"Di kelas."


"Keluar bal, kita kekantin"


"Sip aku tunggu di tangga."


"Oke."


Aku pun keluar dan bertemu dengan teman-teman MPLS ku, kami berenam mengobrol bersama dan menuju kantin, benar-benar suasana yang sangat ramai di dalam kantin, untung saja kami mendapatkan tempat duduk.


Teman MPLS ku pun juga merasakan hal yang sama, kami berenam berada di kelas yang berbeda-beda, ditambah tidak ada satu pun dari kami yang mempunyai teman dari satu SMP di kelas masing-masing.


SMA 2 ini adalah SMA terbaik di kota ku, berdasarkan penilaian oleh dinas pendidikan, SMA ku berada di posisi pertama sebagai SMA terbaik, oleh karena itu standar SMA ku naik menjadi standar provinsi.


SMA terbaik tentunya akan menarik siswa terbaik dari SMP terbaik pula. SMA ku ini didominasi oleh siswa dari SMP 1 dan 3 jadi tidak aneh bila teman sekelas ku begitu mudahnya berteman satu dengan yang lainnya, sedang kan bagi ku, entah kenapa siswa dari SMP 2 menghindari SMA 2.


Mungkin karena gambaran SMA 2 yang sudah sangat terkenal di kota ku, SMA 2 dikenal sebagai sekolah dengan tugas terbanyak, bahkan menurut cerita dari kaka kelas, tugas yang diberikan mengharuskan siswa untuk begadang sampai pukul 3 pagi.


Benar-benar mengerikan, terbayang hari-hari penuh tekanan hingga tidak bisa menikmati masa SMA yang indah.


Tak terasa kami mengobrol sampai bel masuk berbunyi, kami pun kembali ke kelas masing-masing.


Tak lama kemudian seorang guru datang dan memasuki kelas kami, beliau adalah wali kelas kami, namanya adalah Ibu Kokom, beliau disini mengajar pelajaran sejarah.


Ibu Kokom kemudian memberitahu kalau saat ini tidak akan dilakukan perkenalan seperti biasanya, karena ada urusan yang harus dikerjakan, beliau meninggalkan tugas pertama kepada kami yaitu memilih ketua kelas dan jabatan yang lainnya.


Setelah itu ketua kelas yang terpilih harus memimpin pembuatan struktur organisasi kelas dan lainnya. Setelah memberikan kami tugas pertama, Ibu Kokom kemudian pergi meninggalkan kelas.


Setelah itu kondisi kelas menjadi ramai, masing-masing siswa saling menunjuk satu sama lainnya. Bagiku tidak mempunyai teman adalah keuntungan besar saat kondisi seperti ini.


Yang perlu aku lakukan hanya menghilangkan hawa keberadaan ku, setelah itu tidak akan ada satu pun yang menyadari ku.

__ADS_1


Kecuali... apa? ada yang menyadari ku, dia kan teman SMP ku, karena sedari tadi aku mengabaikan cewek-cewek dikelas ku, aku tidak menyadari kalau ada teman ku satu SMP


Aku melambaikan tangan ku sebagai tanda menyapanya, dia pun melambaikan tangan balik. Namanya adalah Mutia, Aku menyapanya karena kami bisa dibilang cukup dekat.


Kami pernah 2 kali satu kelas ketika SMP, tepatnya ketika kelas 7 dan 9. Ketika kelas 9 aku cukup dekat dengan cewek dikelas ku, ditambah aku juga berada didalam kelompok sosialnya ketika itu.


Kami memang sempat bertemu ketika melakukan pendaftaran, tapi sampai berada di kelas yang sama, benar-benar sebuah hal yang tidak terduga.


Disaat yang sama, seorang laki-laki yang sedari tadi terlihat paling aktif ditunjuk oleh temannya untuk menjadi kandidat pemilihan ketua kelas.


Dia dengan santainya berjalan ke depan dan berkata kalau dia akan menjadi pemimpin pemilihan ketua kelas ini, dia kemudian dia menunjuk seseorang dan menulis namanya di papan tulis.


Kelas kemudian semakin ramai, aku tidak tahu alasannya kenapa, tapi aku yakin ada sesuatu yang aneh dengan ditulisnya nama anak itu.


Kemudian para cewek berteriak nama lainnya begitu terus, sampai akhirnya terpilih 3 nama dan sepertinya mereka berasal dari SMP 1.


Aku menghembuskan nafas ku, teknik menghilangkan hawa keberadaan ku berhasil dilakukan meskipun ada hal yang tidak kuduga.


Tiba-tiba terdengar suara cewe menyebutkan nama ku.


"Aku mencalonkan Iqbal."


Tiba-tiba seisi kelas terdiam, dia kemudian melihat kearah ku, tentu seisi kelas mengikutinya. Oy oy oy cewe ini benar-benar mengacaukan segalanya.


"Baik, agar lebih beragam, akan ku tulis namanya."


"Tunggu, aku belum berpengalaman jadi ketua kelas jadi..."


"Tidak masalah."


Yang benar saja, aku hanya bisa pasrah saja ketika nama ku ditulis di papan tulis, kemungkinan aku terpilih memanglah kecil tapi tetap saja bukan berarti tidak mungkin, atau kemungkinan lainnya adalah aku menjabat bagian lain.


Hari ini aku benar-benar sial, sudah masuk ke kelas dimana tidak ada satu pun teman yang aku kenal, ya meskipun sekarang ada satu yang aku kenal sekaligus penyebab hilangnya harapan ku untuk menjalani masa SMA sebagai "manusia biasa".


*Nama calon ketua kelas*



Dinul (Orang yang ditunjuk pertama kali)


Kemal (Orang yang kedua ditunjuk)


Farel (Orang yang memimpin pemilihan)


Iqbal (Tokoh utama cerita ini )


__ADS_1


__ADS_2