Empat Serangkai : Anak Negeri

Empat Serangkai : Anak Negeri
15. PELATIHAN


__ADS_3

Ada sebuah kata-kata yang rasanya sangat tidak asing lagi di telinga kita.


Bakat adalah segalanya, tapi...


Orang yang berbakat tanpa latihan akan kalah oleh orang tanpa bakat yang berlatih. Orang tanpa bakat yang berlatih akan kalah oleh orang berbakat yang berlatih.


Jadi intinya tetap lah berlatih meskipun kita tidak tahu apakah kita berbakat atau tidak, karena proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.


...


Tersisa kira-kira 2 minggu lagi sebelum pentas tari kolosal dimulai. Waktu pelatihan yang awalnya hanya 3 kali dalam seminggu berubah menjadi setiap hari termasuk Hari Sabtu dan Minggu.


Beberapa protes dilayangkan oleh pihak orang tua kepada guru seni budaya, meskipun sudah dikeluarkan peraturan oleh pihak sekolah mengenai batasan waktu latihan namun tidak digubris oleh para murid, karena para murid ingin menampilkan yang terbaik.


Mendekati hari tampil semakin kuat tercium aroma persaingan antar kelas. Banyak terdengar omongan-omongan tentang kelas terbaik dan juga kelas yang menjadi kandidat juara.


Azahra yang menjadi perwakilan EO kelas ku tiba-tiba masuk kedalam kelas dengan terburu-buru. Sebelumnya Azahra mengikuti rapat pengundian nomor urut untuk tampil.


"Jah gimana hasilnya." tanya Kemal dengan penuh kecemasan


Sambil terengah-engah Azahra hanya menunjukan sebuah senyuman kebahagian. Ekspresinya itu semakin membuat kami semua penasaran.


"Jah kita dapet urutan tampil keberapa." teriak Rifky dari belakang kelas.


Azahra lagi-lagi hanya tersenyum "Udah pokonya sekarang kita lanjutin latihannya tinggal 2 jam lagi sebelum jam 5." ucap Azahra sambil melihat kearah jam tangannya


Putri yang jelas tadi terlihat sangat penasaran lalu menepuk tangannya dan meminta kami untuk kembali kedalam formasi. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun kepada Azahra yang hanya tersenyum sedari tadi, Putri lalu memutar musik kolosal kami "Ayo kita ulang lagi dari tarian awal, Pemburu sama Harimau bersiap di posisi."


Wajahnya jelas menggambarkan kekesalan kepada Azahra karena sifat kekanak-kanakannya. Bagaimana pun aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena Kemal yang merupakan teman Azahra sedari SMP saja tidak berhasil membujuk Azahra.


"Oke tetep pertahanin yah kaya tadi, sekarang kita akan lanjut ke bagian yang dance barengan, kita mulai dari dance yang sebelum penutup." teriak Putri, terlihat jelas kalau sikap Putri jauh lebih dewasa dari pada Azahra.


"Stop...." teriak Putri, "Ehmm yang bagian tarian tradisional aku pingin tangannya lebih luwes lagi, kaya gini." lanjut Putri sambil memperagakan tariannya, jelas kemampuannya sangat berbeda jauh dengan kami.


Bagaimana pun memikirkan dia yang membuat hampir seluruh koreografi kami sanagat lah luar biasa. Tidak hanya itu dia juga dapat memperhatikan semua gerakan kami.


"Bal kamu lihat dadanya Putrikan." tanya Putra pada ku


"Kampret ini lagi, hahaha, aku udah inget sepenuhnya." jawab ku sambil tertawa, tentunya itu semua hanya sebuah candaan.


"Kampret memang kamu, hahaha." balas Putra


*Musik pun berhenti*


"Wuhhuu, kerja bagus semua." teriak Azahra "Sekarang perhatiin aku dulu ya sebentar." lanjutnya

__ADS_1


Aku pun berteriak sembarangan "Kalau aku sih udah merhatiin kamu dari dulu."


"Wow, terimakasih banyak." balas Azahra sambil tersenyum ke arah ku


Rupanya Azahra yang berada dalam mood terbaiknya bisa bersikap manis seperti itu, aku pikir dia hanya bisa bersikap seperti mandor romusha, yang memaksa anggota kelompok nya (terutama aku) untuk berkerja keras.


Tanpa memberi balasan lagi terhadap jawabannya aku hanya terdiam. Azahra lalu berdiri di depan kelas "Jadi ada beberapa informasi yang mau aku sampein."


"Pertama kita dapet urutan tampil ke-5 jadi ditengah-tengah ya." ucap Azahra, seluruh siswa sontak berteriak kegirangan, termasuk aku.


Aku berdiri di belakang kelas bersandar pada meja yang di geserkan hingga menumpuk dibagian belakang kelas, sedangkan sebagian lainnya duduk di lantai menghadap ke arah Azahra.


Putri berdiri tidak jauh dari ku, pada saat seluruh siswa berteriak kegirangan entah kenapa mata ku tiba-tiba tertuju ke arah Putri.


Senyum kecil bercampur rasa lelah tergambar di wajahnya. Aku pun terdiam dan tersenyum kearah Putri, mungkin Putri melihat aku tersenyum ke arahnya dari ujung matanya.


Tiba-tiba saja Putri melihat kearah ku lalu aku memalingkan pandangan ku kearah Rexi yang duduk dibawah kaki ku.


Rifky lalu berdiri dan berteriak "Oy ini semua berkat do'a aku."


Kami pun sontak tertawa, Kemal berdiri mengikuti Rifky, Kemal lalu memegang pundak Rifky dan mengelus-ngelus kepala Rifky yang botak "Emang doa dari seksi rohani kita sangat manjur, hahaha." ucap Kemal sambil tertawa.


Farel juga ikut berdiri dan mendekati Rifky dan Kemal "Aneh perasaan si Rifky berdoa minta pitak di kepala nya itu tumbuh rambut." ucap Farel yang semakin memancing tawa kami


Kemal lalu menanggapi perkataan Rifky sambil tertawa "Ki, pitak kamu kelihatan jelas dari jauh."


Bukannya menyanggah Rifky malah mengiyakan perkataan Kemal yang justru malah mengundang tawa kami


"Tenang Ki, ada aku, nanti pitak kamu aku warnain pake pensil alis warna item biar ga kelihatan." sahut ku


"Hahaha, parah ih kamu Bal." timbal Mutia


"Oh iya Bal ide bagus, nanti pas mau tampil jangan lupa ya." saut Rifky


"Oke siap."


Azahra lalu berhenti dari tawanya dan meminta kami untuk kembali memperhatikan dia.


"Ehmm, pengumuman yang kedua ada sedikit perubahan pada posisi panggung, jadi lebih kecil dari sebelumnya." ucap Azahra


Putri tiba-tiba memotong Azahra "Banyak ga berubahnya."


Azahra terdiam sejenak "Ehmm, Sebenernya ukurannya cuman berkurang sedikit tapi panggung yang awalnya 2 tingkat di rubah jadi 3 tingkat."


Mendadak seisi kelas menjadi hening, Azahra lalu mengambil sebuah spidol, dia lalu menggambarkan kondisi panggung saat ini di papan tulis.

__ADS_1


"Sekarang panggungnya jadi seperti ini, perubahan ini dibuat sesuai permintaan dari guru seni budaya Pak Tono, jadi tidak bisa kita tolak." jelas Azahra


Nana yang merupakan sekertaris ke-2 kelas berdiri dan mendekati Putri "Put kayanya formasi kita ga akan berubah."


Putri lalu mengangguk "Tenang formasi kita ga akan berubah, paling di beberapa adegan harus di sesuaikan penguasaan panggungnya."


"Ahh, aku udah dapet gambaran untuk beberapa adegan yang kamu maskud." ucap ku


Sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jempolnya, Putri membuat gerakan sedang berfikir "Hmm, bagus kalau gitu, aku sih pinginnya kita bisa cepet-cepet nyoba panggung barunya."


"Palingan kita bisa coba pas pelajaran Seni budaya." balas ku


Putri lalu mengangguk, Aku pun tertawa kearahnya, dengan ekspresi penuh tanya dia bertanya kepada ku "Kenapa kamu ketawa Bal, ada apaan emang."


"Hahaha, engga kok, cuman gerakan yang tadi kamu buat kaya gerakan di film-film kalau tokohnya sedang berpikir." balas ku


Putri lalu tersipu malu. Kemal yang tiba-tiba berdiri disamping Azahra memukul papan tulis "Lagian apa coba maksud dari Pa Tono, dia kan guru seni budaya kelas 11."


Azahra mencoba menenang kan Kemal "Mungkin karena kelas 11 sehari setelah kita tampil bakal perform paduan suara jadi panggungnya disesuain sama kebutuhan paduan suara, jadi ga perlu bongkar pasang lagi."


Kemal tetap ngotot "Tapi kan kenapa harus 2 minggu sebelum tampil, bukannya dari kemarin-kemarin coba."


Azahra yang sudah habis kesabaran karena gagal menenangkan Kemal, berbalik memarahi Kemal "Mal percuma kamu marah-marah juga ga akan ngerubah apapun, lagian kata Putri juga kita ga perlu ngerubah formasi."


"Tapi aku tetep ga setuju." Kemal tetap marah


Azahra yang geram mencubit perut Kemal lalu menyuruhnya untuk kembali duduk di tempatnya.


Putra lalu memprovokasi Kemal "Mal, masa kalah sama cewe, tunjukin dong siapa bossnya."


Kemal lalu mencoba berdiri, namun malam menerima pelototan dari Azahra yang membuat dia mengurungkan niatnya.


"Oke pokonya ga ada acara protes-protesan, hanya dua informasi itu yang mau aku sampaikan, jadi cukup sekian." ucap Azahra


Azahra ralu melihat kearah jam tangannya "Ehmm masih ada 10 menitan lagi sebelum jam 5 terserah kalian mau pulang atau ngomongin dulu masalah panggung." lanjut Azahra


"Ehmm, temen-temen mohon perhatiannya yah, kita akan ngomongin sedikit masalah panggung nya." teriak Putri


Kemal lalu berdiri "Oke."


"Jadi seperti yang aku bilang tadi, ga akan ada perubahan pada formasi, tapi kita harus ngebagi lagi siapa yang harus ada di panggung pertama kedua dan ketiga." jelas Putri


Setelah itu kami membicarakan permasalahan pembagian panggung, lalu membahas mengenai penguasaan panggung. 10 menit sisa waktu kami berjalan begitu cepat.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 dan sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati antara EO sebagai perwakilan murid dan guru seni budaya. Kami harus pulang dan tidak boleh ada lagi kegiatan latihan atau semacamnya, bila ketahuan maka akan dikenakan sanksi.

__ADS_1


__ADS_2