
Jam di HP ku menunjukan pukul 12 malam namun tidak ada satupun notifikasi pesan masuk.
Pernahkah kalian berfikir untuk berhenti disuatu momen dalam kehidupan kalian untuk menikmatinya lebih lama lagi. Mungkin bila ada seseorang yang menawari sebuah kekuatan super, memiliki sebuah kekuatan untuk melakukan itu mungkin tidaklah buruk.
...
Hari ini adalah hari ketiga ku, aku berharap hal yang kemarin terjadi tidak berubah hari ini.
Yap, hari ini terjadi hal yang sama lagi, perasaan canggung menunggu pintu kelas dibuka, tapi yah, aku harus mulai terbiasa dengan ini semua.
Seperti biasa Ali selalu datang tepat saat bel berbunyi, karena aku merasa sudah cukup dekat dengan dia, aku pun bertanya padanya "Li, kamu ga bisa dateng pagi emang?"
Kemal yang duduk di depan bangku rupanya mendengar pertanyaan ku lalu dia menjawab "Si Ali, biasanya ngumpul dulu di rumah si Alfin, ya kan?"
Sambil menaruh tasnya di pinggir meja, dengan datar dia menjawab "Iya, aku biasanya Dateng sekitar jam setengah tujuh."
Aku membalasnya dengan sebuah anggukan.
Farel yang duduk di depan bangku Kemal kemudian berteriak dengan cukup keras "Mal, hari ini guru bakal ada yang masuk kelas ga?"
Kemal kemudian menjawab "Kayanya engga akan lagi."
Rupanya Azahra saat itu ikut mendengarkan obrolan kemal berkata "Kemal susulin gih, siapa tahu ada tugas, atau apa gitu?"
Farel dengan memelas "Jangan lah, udah enak gini free class lagi, aku udah bawa kajon." Sambil menengok kearah kanan Farel berteriak "Tan bawa gitar ga?"
Sambil mengacungkan jempol Sultan menjawabnya "Kalem, bawa aku, jadi kita nyanyi-nyanyi dibelakang."
Dinul yang entah datang dari mana, menggebrak meja Kemal sambil berkata "Mal mending susulin dulu, kamu kan ketua kelas."
Dengan ekspresi terkejut Ali berkata "*****... nul dateng dari mana kamu."
Jujur aku juga terkejut dengan kedatangan dia yang tiba-tiba menggebrak meja.
Dinul dengan santay menjawab "Rahasia."
Kemal dengan nada yang cukup membentak membalas perkataan Dinul "Kamu aja, kamu juga kan wakil ketua kelas."
__ADS_1
Membalas omongan Kemal, Dinul berbicara dengan ngotot "Tapi kan kamu ketuanya, seharusnya kamu yang tanggung jawab."
Ali, Farel dan Azahra, tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran mereka berdua. Bukan mencoba untuk mengalah Kemal malah membalas dengan bentakan, akhirnya terjadilah adu mulut yang cukup menyita perhatian kelas.
Farel sambil tertawa mencoba melerai pertengkaran mereka "Udah udah nul mal."
Dengan ngotot Dinul menjawab "Kemal tuh yang mulai duluan."
Kemal sambil berdiri dari kursinya menabrakan dadanya ke arah Dinul "Kamu tuh nul duluan ngegas."
Farel tertawa tambah keras, dia berdiri sambil melerai mereka berdua. Jelas itu bukanlah sebuah pertikaian karena Kemal pun sambil mencoba menahan tawanya, tapi tetap saja aku dan Ali tidak bisa menahan tawa ketika melihat ekspresi Dinul yang sangat serius.
Sambil tertawa Azahra berkata "Udah ih, kalian berdua aja yang dateng ke ruang guru."
Dinul menurun kan nada bicaranya "Ya udah, ayo mal kita keruang guru."
Sambil tertawa dan berjalan kearah luar Kemal masih meladeni Dinul dengan menabrak-nabrakan tubuhnya ke arah Dinul.
Aku yang masih terus tertawa melihat tingkah mereka berdua bertanya kepada Ali "Li, kenapa sih sama Dinul."
Selang beberapa lama, Kemal dan Dinul kembali ke dalam kelas sambil membawa kertas absen.
Kemal berbicara didepan kelas dengan lantang "Jadi hari ini bu Kokom ga bisa masuk ke kelas lagi, soalnya lagi nyusun jadwal pelajaran, nah ini kan aku bawa kertas absen, tanda tangan terus di puterin, ini buat absen sementara, trus apa lagi nul."
Dinul melanjutkan pembicaraan Kemal "Hari ini bu Kokom minta dibuat jadwal piket sama struktur organisasi, udah itu aja."
Farel kemudian mengangkat tangannya "Bahannya mana?"
Sambil duduk Kemal kemudian menjawab "Ga tau, udah lah kita nyanyi aja di belakang, biar cewe yang bikin."
Farel menepuk pundak Kemal "Kamu tanggung jawab yah."
"Iya tenang."
Seperti kemarin kami laki-laki berkumpul di belakang kelas, sambil bernyanyi. Hal yang tidak diduga rupanya Aditya dia memiliki suara yang bagus, dia bisa menggunakan suara falsetto.
Tentu saja disaat seperti ini, aku tidak mau kalah, aku juga ikutan bernyanyi dengan suara pas-pasan ku, bagi kami yang terpenting adalah keseruannya, bukan keindahannya.
__ADS_1
Yang berkumpul untuk bernyanyi kali ini tidak hanya para laki-laki, perempuan kelas ku juga ikut bergabung bersama, salah satunya adalah Mutia. Bila ada kegiatan menyanyi dia pasti selalu ikut, rasanya seperti nostalgia, dulu ketika SMP aku sering bernyanyi dengannya.
Ketika aku melihat nama di daftar absen, aku mengenal nama yang tidak asing bagi ku, ternyata ketika aku perhatikan lebih jelas lagi dia adalah Rexi yang merupakan temen SMP ku.
Ketika itu bel istirahat berbunyi, aku pun mencoba mengajak Ali pergi ke kantin bersama dan dia menyetujuinya.
Setelah masuk kami kembali berkumpul untuk bernyanyi bersama. Aku mencoba mendekatinya dan bertanya "Rex."
Dengan datar Rexy menjawab "Oy, apa bal."
Aku pun terkejut dan menepuk punggu Rexi "Kamu kenal aku."
"Jelas, kamu kan pergi kemana-mana sama si darul pas SMP."
Mutia yang duduk di dekat Rexi menyela obrolan kami "Iya Iqbal kan pas SMP homo."
Aku pun berteriak "Mana ada oy, aku masih suka ama cewe."
Dengan wajah dan suara yang datar Rexy membalas "Kamu sih kemana-mana sama si darul, mana ga punya pacar lagi."
Mutia kemudian berbicara "Iya waktu itu aja aku coba megang tagan kamu, kamunya malah nolak."
Rifky kemudian menepuk pundak ku "Gapapa bal, tenang di SMP aku juga ada kok yang kaya kamu."
Aku berteriak "Mana ada oy, Mut kamu kan tahu ada cewek yang aku suka ketika SMP, terus waktu itu kamu tiba-tiba megang tangan aku udah gitu di depan banyak orang ya aku kaget lah trus reflek ngelepasin tangan ku."
Akhirnya kami malah berakhir dengan kembali menceritakan masa lalu yang lucu dan aku yang dipaksa untuk menceritakan tentang perempuan yang aku suka.
Terdengar sebuah pengumuman yang memerintah kan satu orang perwakilan kelas untuk mendatangi kantor tata usaha. Kemal dengan sigap berjalan menuju kantor tata usaha yang berada dilantai 1 dengan ditemani Dinul.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka berdua kembali. Kali ini Kemal dan Dinul tidak membawa kertas apa pun.
Kemal beteriak untuk meminta perhatian siswa kelas, kami semua pun terdiam memperhatikan Kemal.
"Besok yaitu hari Kamis sampai hari Jum'at akan diadakan pentas ekstrakurikuler, jadi dua hari itu bakal free class, tapi wajib masuk soalnya bakal ada absen."
Besok sepertinya akan menarik, meskipun aku belum memikirkan ekstrakurikuler apa yang akan aku pilih, ketika SMP aku pernah mengikuti ekstrakurikuler KIR matematika. Mungkin sekarang aku akan memilih sesuatu yang berbeda.
__ADS_1