
Butuh keberanian untuk berbicara dengan perempuan yang aku suka, bahkan hanya untuk menatapnya sesaat.
Sebuah pertandingan basket yang menarik berada dihadapan ku, namun entah mengapa mata ku hanya tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk diseberang court sambil ditemani oleh pensil dan kertas gambar.
...
Hari ini aku sengaja datang lebih siang agar aku bisa langsung berkumpul dengan teman kelas ku, ditambah hari ini rasanya sekolah lebih bebas karena hanya ada acara pentas ekstrakurikuler atu mungkin lebih dikenal dengan demo ekskul.
Kelas ku berada di lantai dua namun karena acara demo ekskul menggunakan lapang sebagai panggungnya jadi jalan menuju lantai dua diblokir oleh OSIS agar para siswa terpusat hanya berada di lantai satu menyaksikan demo ekskul.
Akhirnya aku dan teman kelas ku berkumpul di podium sekolah kami. Menurut ku arsitek yang membuat sekolah ku sangat lah hebat Karena menjadikan lapang sebagai pusat sekolah, sehingga lapang dapat dilihat dari seluruh kelas. Meskipun kekurangan terbesarnya adalah tidak mempunyai rooftop.
Dengan kemampuan leadership Kemal, dia berhasil mengumpulkan semua teman kelas ku di satu tempat. Aku akui dia memang sangat cocok sebagai ketua kelas.
Jam menunjukan pukul 9, setelah sedari tadi mendengar pembukaan dari OSIS dan juga kepala sekolah, akhirnya dimulai lah demo ekskul yang dibuka oleh ekskul basket.
Kemal yang saat itu berada disebelahku berteriak-teriak, sepertinya ini adalah ekskul yang paling ia nantikan. Sambil diiringi musik satu persatu pemain basket pria dan wanita keluar berlari kecil memutari lapang sambil membagikan stiker kepada penonton.
setelah itu mereka melakukan pemanasan. Putra kemudian menepuk pundak ku dan Kemal "Bro, kalian mau memilih yang mana?"
Aku, Kemal dan Farel paham apa yang Putra maksud, dengan santai aku pun menunjuk salah seorang dari pemain basket wanita yang sedang melakukan lay up.
Haekal kemudian memukul tangan ku yang menunjuk "Ga usah sambil ditunjuk juga kali."
Kami kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sambil memegang dagunya Putra kemudian berkata "Mantap juga pilihan kami bal, ternyata kamu suka yang bergetar."
Sambil tertawa Farel kemudian mengarah kan pandangan ku ke wanita yang lain "Bal kalo itu gimana?"
Sambil merangkul bahu Farel aku menjawab "Lumayan, D lah kira-kira."
Mendengar jawaban ku Putra tertawa sambil memukul punggung ku "Tau dari mana, hahaha."
Aku menjawab "Latihan lah."
Kemal kemudian berkata "Kampret, Bal, kami belajar skill yang ga penting."
Putra kemudian meledek Kemal "Udah lah Mal, jangan so jaga image, bilang aja mau yang mana, oh aku kasih yang paling gede aja mau ga?"
__ADS_1
Farel dengan nada bertanya "Gede apanya bro."
"Badannya." jawab ku
Kami kemudian tertawa terbahak-bahak sampai tidak sadar kalau para pemain sudah berhenti pemanasan.
MC demo ekskul basket kemudian menantang para siswa untuk bertanding basket 5 lawan 5.
Akhirnya 5 orang siswa berdiri, salah satunya adalah Ali. Pertandingan 5 lawan 5 dimulai dengan peraturan yang pertama kali mendapatkan 5 point menjadi pemenangnya.
Bagi ku yang sangat awam soal basket, merasa kalau pertandingan itu adalah yang terbaik seumur hidup ku. Perhatian ku benar-benar tersedot ke dalam pertandingan 5 lawan 5 yang sedang berlangsung dihadapanku.
Begitu pun Kemal, aku yakin dia dan aku sama-sama melihat kemampuan dribble Ali. Sebagai seorang play maker menurut ku Ali bermain dengan sangat baik, dia kemudian berhasil melewati satu pemain kemudian para siswa yang melihat itu berteriak, terutama para wanita dan Kemal.
Setelah sekitar 15 menit bertanding akhirnya tim basket yang terdiri dari kaka kelas berhasil mencetak 5 point terlebih dahulu.
Sebuah pertandingan yang sangat menarik, melihat Ali yang pergi menuju kantin, aku, Kemal Putra dan Farel kemudian mengikutinya.
Disana kami bertemu dengan Farhan dan Rexi yang sedang duduk berdua. Putra kemudian mengagetkan mereka "Pacaran terus nih duaan."
Farhan kemudian menjawab "Sorry, yang gay mah si Iqbal."
Setelah membeli minuman Ali kemudian menghampiri kami yang sedang mengobrol.
Kemal langsung berkata kepada Ali "Li sayang tadi kalau misalnya langsung drive, pasti masuk."
Sambil memegang botol minuman isotonik Ali menjawab "Ini cuman pertandingan bercandaan, dari awal udah di seting kalau kita yang bakal main, ga enak kan kalau misalnya aku ngalahin mereka."
Sambil merebut minumannya aku menjawab "Sombong sekali anda, aku aja yang lebih jago dari kamu, biasa aja."
Putra kemudian mengambil minuman milik Ali dari tangan ku "Minta Li."
"Kampret, minuman aku jangan dihabisin."
Putra kemudian mengembalikan minuman Ali sambil berkata "Li, pemain basket cewe yang pake celana item siapa."
"Yang mana ada 3 yang pake celana item." saut Ali
"Itu loh Li ka Mira." jawab Kemal
__ADS_1
"Ohh Mira, kenapa gitu." tanya Ali kepada Putra.
"Iyah si Iqbal katanya suka." jawab Putra
Sambil memukul meja aku menjawab "Aku lagi yang kena."
Ali kemudian memukul pundak ku "Bal, bisa suka ama cewe juga rupanya."
Dengan nada tinggi aku menjawab "Ya iyalah jelas, aku tuh masih normal."
Mendengar itu kami semua tertawa, Ali kemudian berbicara lagi "Aku punya kontak linenya bal mau ga?"
"Tuh bal sikat." jawab Farel
"Aku lagi yang kena." kata ku sambil menggelengkan kepala.
"Tapi kayanya dia ga akan suka ama kamu bal, soalnya selera dia kaya aku." Ali berbicara dengan nada yang sangat percaya diri.
"Maksud kamu, BBC li." jawab ku sambil tertawa
Putra tertawa terbahak-bahak. Sambil tertawa Farel berkata "Kampret yah Li si Iqbal."
"Iyah" jawab Ali dengan nada datar.
Putra kemudian menepuk pundak Farhan dan Rexi "Kalian berdua malah berduan dikantih sih, jadi g tahu kan."
Dengan nada datar Rexi menjawab "Aku ngerti apa yang kalian maksud."
Pada akhirnya kami menghabiskan waktu mengobrol bersama di kantin sekolah, meskipun terdengar sorak soray dari arah lapang, tidak ada satu pun dari kami yang mempunyai keinginan untuk melihat demo ekskul yang lainnya.
Sampai akhirnya bel berbunyi dan kami dibolehkan untuk pulang, rupanya hari ini lagi-lagi hanya setengah hari.
*Keesokan hari nya*
Di hari kedua demo ekskul, aku memutuskan untuk membawa laptop, hari ini kami berencana menonton film di kantin sekolah.
Sesampainya di sekolah kami berkumpul di kantin dan menonton film bersama. Kami menonton film yang berjudul My Boss My Hero, menurut ku itu adalah film yang paling cocok ditonton ketika situasi seperti ini.
Semua laki-laki di kelas ku menonton bersama di kantin sekolah kecuali Dinul. Bagi kami bukannya tidak ingin menyaksikan demo ekskul, tapi kami semua sudah memutuskan ekskul masing-masing, termasuk aku yang sudah menemukan ekskul mana yang akan aku ikuti.
__ADS_1