
Aku mengutip kata-kata dalam sebuah film yang intinya adalah tidak ada kata putus dalam sebuah pertemanan, itu lah kenapa pertemanan berlangsung selamanya.
***
Tidak terasa sudah 3 bulan berlalu sejak kali pertama aku masuk SMA, interaksi antara teman sekelas menjadi semakin dekat. Kelompok-kelompok kecil di dalam kelas mulai terbentuk dengan sendirinya, dan semua orang mulai menunjukkan warna asli dari dirinya.
Sudah merupakan sebuah hukum alam bila ada sisi yang menguat maka di sisi yang lainnya akan meregang. Hal yang sama terjadi di dalam kelas ku, interaksi yang begitu kuat didalam kelompok-kelompok kecil yang dibuat membuat meregangnya interaksi diluar kelompok itu.
Ketidak akraban antara satu dengan yang lainnya mulai terlihat dengan jelas, karena setiap orang mulai menunjukkan warna asli dari dirinya yang membuat sebuah ketidak paduan dalam pertemanan di dalam kelas.
Aku yakin semua orang di kelas ini merasakan hal yang sama, sebagai buktinya ada anak yang lebih memilih menghabiskan waktu istirahat nya bersama temannya yang berada di kelas lain.
Mungkin dia sudah memahami kalau warna yang dia miliki tidak dapat berbaur dengan warna-warna yang ada di dalam kelas, sehingga dari pada merusak warna indah yang sudah terbentuk dari berbagai warna, dia lebih memilih untuk menjauh dan berbaur dengan warna lain yang dapat menerimanya.
Menurut ku tidak ada yang salah dengan konsep pertemanan yang seperti itu, tapi konsep yang seperti itu sangat lah tidak kuat dan tidak stabil, misalkan ada satu orang saja di antara mereka yang warnanya tiba-tiba berubah maka itu dapat mengacaukan semuanya.
Sambil memperhatikan kondisi kelas yang ramai aku pun tersenyum "Maka dari itu pertemanan akan jauh lebih indah bila semua warna digabungkan, tidak perlu terpaut pada warna yang akan dihasilkan karena semua warna itu memiliki keindahannya masing-masing bila berada pada objek yang tepat."
"Bal kamu ngomong apaan, ga kedengeran." kata Ali
Aku kemudian meregangkan badan ku "Engga ada apa-apa, sekarang fisika yah, untung hari ini mapelnya santai semua."
Sambil mengetik Ali menjawab "Iyah, udah lama aku ga merasa sesantay ini."
"Chat dari kaka kelas yang itu Li." aku melihat kearah HP miliknya
Ali kemudian menunjukan HP nya kepada ku "Liat Bal dia itu temen aku waktu SMP, bisa dibilang dia adalah temen curhat ku dulu, karena dia adalah sahabat dari pacar aku, dulu dia sering bantuin aku buat ngadepin pacar ku."
"Saya mencium aroma-aroma tikung menikung, lagian kampret kamu Li berapa banyak cewek yang kamu chat." jawab ku sambil membaca chat Ali dengan teman SMP nya itu
"Bukan salah aku, cewek-ceweknya aja yang chat aku duluan, jadi begitulah, Bal baca dengan seksama chat aku sama dia, trus kasih aku tanggapan soal sifat dia." ujar Ali
"Li nih HP ku, coba buka line." Aku masih membaca chatnya yang sangat panjang
"Hahaha, sedih sekali kamu, isinya cuman official account doang, mau aku kenalin ga Bal sama salah satu dari mereka." Ejek Ali
"Maaf aku tidak tertarik sama cewe cabe-cabean." kata ku sambil mengembalikan HP milik Ali
"Hahaha, aku juga sepemikiran sama kamu, aku bener-bener terkejut dia berubah sejauh itu, padahal dulu waktu aku putus dari sahabat dia, dia jadi sering chatan sama aku, bahkan sampai di titik aku merasa nyaman sama dia." jelas Ali
"Kebanyakan orang pasti akan berubah drastis ketika udah SMA contohnya adalah temen satu SMP ku yang kemarin pulang bareng sama temen basket kamu." kata ku sambil memainkan game di hp ku
"Siapa Bal kemarin yang pulang barengan banyak edan, cewek apa cowok." tanya Ali
"Cewek, hmm si Sandra." balas ku
"Ohh, dia satu SMP sama kamu Bal, kirain aku kamu itu dari SMP 3." kata Ali sambil tertawa
"Kampret memang, dia itu dulunya juara umum ketiga kalau aku ga salah, tapi sekarang malah jadi gitu, aku yakin dia ga akan bisa masuk tiga besar sekarang apa lagi jadi jumum." tegas ku
"Hahaha, mari kita lihat nanti, ngomong-ngomong tumben Bu Mimin belum datang." kata Ali
*Note : Bu Mimin adalah guru yang mengajar fisika di sekolah ku."
Aku pun berteriak memanggil ketua kelas "Mal Bu Mimin hari ini masuk ga."
"Kata kelas sebelah sih katanya engga." jawab Kemal
Rexi kemudian menengok kebelakang "Kantin yuk."
"Yuk." Aku, Farhan, Rexi dan Ali karena kali ini lagi-lagi jam kosong kami pun pergi menuju kantin sekolah.
Ali kemudian memegang pundak Kemal "Mal kalo ada guru chat ya."
"Apa-apaan aura penuh ancaman ini." Farhan berbisik kepada Rexi
"Iya ntar aku kabarin." jawab Kemal melepaskan cengkraman tangan Ali
Kami berempat pun pergi menuju kantin, karena sekarang masih berlangsung kegiatan belajar mengajar, keadaan kantin benar-benar sepi, aku hanya melihat beberapa orang datang untuk membeli minuman kemudian kembali lagi. Perasaan ini seperti, kantin ini milik pribadi.
__ADS_1
Kami duduk di sebuah meja bundar dan membicarakan beberapa hal yang tidak jelas, entah kenapa obrolan kami bisa menyambung satu sama lainnya. Sepertinya masing-masing dari kami telah mengetahui warna dari yang lainnya.
Mungkin tanpa kami sadari sebuah warna baru telah terbentuk karena penggabungan dari warna-warna kami, bila aku bayangkan mungkin warna baru yang terbentuk itu sangatlah absurd.
Bagaimana tidak, semua karakter kami benar-benar bertolak belakang satu sama lainnya. Bila ditanya alasan kenapa kami dapat bersatu, mungkin... satu hal yang muncul dalam pikiran ku, hal yang dapat menyatukan kami bersama adalah sesuatu yang disebut sebagai toleransi.
Jam kosong kami berlanjut hingga istirahat ke-2, setelah istirahat ke-2 pelajaran yang menanti kami adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Bila biasanya pelajaran Bahasa Indonesia selalu membosankan karena gurunya yang rata-rata sudah tua sehingga membuat ngantuk.
Guru Bahasa Indonesia ku berbeda, nama beliau adalah Ibu Tita beliau benar-benar enerjik, padahal usianya sudah tua namun jiwanya masilah muda. Hari ini beliau menceritakan sebuah novel yang sangat terkenal berjudul Ronggeng Duku Paruk.
Ketika beliau menceritakan novel tersebut, aku tidak dapat memalingkan mataku darinya. Aku benar-benar sedang menyaksikan sebuah teater monolog yang di peran kan oleh seorang professional.
3 jam pelajaran dihabiskan untuk mendengar kan monolog beliau tapi anehnya tidak ada satu pun dari kami yang tertunduk mengantuk. Serius ini benar-benar hal yang luar biasa, manusia mana yang tidak mengantuk mendengar seseorang bercerita.
Setelah itu bel pulang pun berbunyi, setelah Bu Tita keluar kelas Kemal dan Farel berdiri di didepan kelas, mereka berdua meminta agar para laki-laki jangan pulang terlebih dahulu. Semua laki-laki tinggal di kelas kecuali Ali dia beralasan kalau hari ini adalah jadwal latihan klubnya.
Kami menunggu cukup lama sampai akhirnya semua anak perempuan di kelas ku pulang, sekarang hanya tersisa kami berempat belas.
*Note : Jumlah laki-laki di kelas ku 15 orang sedangkan jumlah perempuannya 18 orang.*
Kami kemudian berkumpul dan membuat sebuah lingkaran. Farel yang tadi meminta kami untuk tinggal di kelas memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Jadi gini bro, maksud dan tujuan ku mengumpulkan kalian semua adalah kita main jujur-jujuran yuk."
"Heuh...." sorak kami semua
"Kirain ada hal yang bener-bener penting." ucap Dinul
"Berisik kamu Dinul." teriak Kemal
Seperti biasa Dinul dan Kemal tidak pernah akur, entah kenapa selalu saja muncul ide di dalam otak Kemal untuk menjahili Dinul.
"Serius bro, besok ga ada PR kan, kita ngobrol-ngobrol santay dulu gitu, biar kita makin akrab aja gitu." jelas Farel
"Ya udah ayo lah, mau ngobrolin apa kita." ucap Dinul
"Gini aja bro, kita jujur-jujuran, siapa cewek paling cantik di kelas." usul Sultan
Menurut pandangan kami saat ini di dalam kelas terdapat dua kubu wanita yang sangat tidak akur satu sama lainnya. Bisa dibilang masing-masing kubu di ketuai oleh bendahara kelas Azahra dan Putri.
Persaingan antara kedua kubu benar-benar tergambar jelas, mereka bersaing dalam hal pelajaran dan olahraga, mereka berdua sangat mengerikan namun menggambarkan sebuah rivalitas masa muda.
Bila melihat dari situasi saat ini kubu Azahra jauh lebih unggul dari kubu Putri, alasannya karena Azahra sangat pintar dan ahli dalam olahraga. Azahra bisa dibilang adalah sosok yang sempurna, berbeda dengan Putri yang kemampuannya lebih rendah dari Azahra.
Mungkin salah satu alasan dari pertempuran kedua kubu ini adalah keinginan Putri untuk terbebas dari bayang-bayang Azahra.
Kembali ke topik utama, aku dan Ali memikirkan satu nama yang merupakan wanita tercantik di kelas, dia adalah sekertaris kelas namanya Wuri.
Sekarang kembali ke situasi dimana aku diminta jujur untuk memberi tahu wanita tercantik dikelas, pilihan terbaiknya adalah mengikuti suara terbanyak, dengan begitu tidak akan ada gosip yang aneh-aneh dan aku dapat aman dari ejekan yang mungkin akan muncul di masa depan.
"Tan karena kamu yang nanya, jadi kamu yang harus jawab duluan." ujar Farel
"Okeh siapa takut, ini aku jujur yah, rahasian oy, menurut aku yang paling cantik di kelas ini ya Wuri." jawab Sultan
wohho... rupanya si Sultan punya selera yang bagus juga, kita bisa memiliki pemikiran yang sama.
Sultan kemudian memukul Rexi yang ada di sebelah kanannya "Giliran kamu Rex."
"Menurut aku juga Wuri sih, lanjut Han." ucap Rexi menyuruh Farhan bicara
"Wuri"
"Wuri"
"Wuri"
"Wuri"
"Wuri"
__ADS_1
"Wuri"
"Wuri"
"Wuri"
"Wuri"
apa-apaan ini jawaban kami ber dua belas sama, yang tersisa tinggal Dinul dan Aditya, kalau sampai mereka berdua memberikan jawaban yang sama, maka sudah di pastikan Wuri adalah Miss kelas 10 IPA 6.
"Kalau aku pribadi sih, euh... ini menurut aku yah ga ada yang cantik di kelas ini."
Jawaban macam apa ini, yang benar saja jadi kami yang menjawab Wuri seleranya lebih renda dari Dinul "Nul yang bener, kalau gitu kamu Gay." tanya ku sambil tertawa
"Mana ada kamu kali Bal yang gay." jawab Dinul
"Mana ada oy aku normal makanya bilang Wuri cantik, kalau kamu ga gay, brarti impoten kamu, hahaha." aku tertawa terbahak-bahak dan diikuti tawa lelaki yang lainnya
"Hmm, ga oy, ya tapi kalo di bandingin sih emang Wuri paling cantik." kata Dinul
"Kampret kan tadi pertanyaannya yang paling cantik di kelas bukan cewe yang sesuai selera kamu." Kata Farel dengan emosi, namun kami semua tertawa melihat tingkah Farel yang jelas sedang memancing Dinul.
"Dit giliran kamu, yang jujur yah." ujar Kemal seolah mengatakan kalau dia mengetahui rahasia Aditya.
"Kampret kamu kal, ya udah lah, ini rahasia yah, jangan di bilangin ke siapa-siapa." ucap Aditya ragu
"Iyah, santay Dit rahasia kamu aman sama kita." Farel mencoba meyakinkan Aditya
"Menurut aku sih yang paling cantik di kelas, euhh... Cantika." Aditya mengucapkan nama itu dengan penuh rasa malu.
Aku paham sekarang jadi tujuan Kemal dengan Farel adalah untuk ini, sudah ku duga akan sangat gawat bila menjawab nama yang berbeda dengan yang lainnya. Ngeri sekali trik yang mereka berdua gunakan.
"Mantab Dit, oy ingat yah harus kita rahasiakan dan kita sebagai rekan harus saling membantu, jadi Dit tenang mulai sekarang kamu dapat support dari kita semua." Farel mencoba meyakinkan
"Iya makasih ya." sepertinya Aditya lega karena sudah mengatakannya kepada kita.
Jadi kemungkinan Kemal telah mengetahui siapa wanita yang Aditya suka, dia kemudian bercerita kepada Farel dan akhirnya mereka berdua merencanakan kegiatan ini. Tujuannya aku yakin selain untuk mengetahui rahasia Aditya tapi mereka juga memancing yang laki-laki yang lainnya untuk memberitahu rahasia mereka.
Dengan situasi dan kondisi yang sangat personal siapa pun pasti akan berkata jujur, ini benar-benar sudah direncanakan dengan baik. Apalagi sekolah sudah memasuki bulan ke-3 ini adalah waktu yang sudah cukup lama untuk saling mengenal satu sama lainnya.
Jadi bukan hal yang aneh bila melihat banyak pasangan yang sudah datang dan pulang sekolah berbarengan.
Untungnya kali ini orang yang jadi target utama Kemal dan Farel adalah Aditya, mengingat sifatnya dia bukan lah orang yang temperamental, dia tidak pernah marah atau sakit hati bila mendengar ucapan atau perilaku orang lain kepadanya, dia menganggap itu semua adalah candaan, dan tentunya itu memang hanyalah sebuah candaan.
Aku kemudian bertanya kepada Aditya "Dit kalem kita pasti support kamu, ngomong-ngomong sudah sejauh mana hubungan kalian berdua."
"Aku sama Cantika udah saling chatan tapi, ya kamu tahu sendiri lah tidak ada hal yang berubah diantara kami berdua." jawab Aditya
"Jangan sedih Dit, ingat kami ada dipihak kamu." Ucap Sultan
Aku setuju dengan Aditya, aku bahkan sampai tidak menyadari kalau Aditya sedang mendekati Cantika karena interaksi mereka di kelas sangat lah minim.
"Kalem Dit rahasia kamu bakal aman kok di kita." ucap Rexi
"oke."
"Kalau gitu aku pulang duluan yah, hari ini aku harus latihan bulu tangkis." lanjut Rexi
"Sip, hati-hati bro." balas Farel
"Aku juga duluan ya." Farhan berdiri dan pulang bersama Rexi
"Ya udah kita juga pulang lah yuk." ucap Farel
Serius, Farel kampret, padahal dia yang memulai situasi ini, aku juga harus segera pulang agar keluar dari situasi canggung ini.
"Aku juga duluan ya bro." ucapku
"Ya udah kita bubar, takut kelasnya keburu di kunci." usul Kemal
__ADS_1
Akhirnya kami semua meninggalkan kelas dengan situasi yang canggung.